Selasa, 05 Juli 2011

perekonomian agraris dalam perekonomian maritim jawa tahun 1500-1900

Oleh: Peter Boomgard
Masyarakat yang tinggal di Eropa Barat biasanya membagi perekonomian mereka ke dalam tiga sektor, tanpa adanya keterkaitan satu dengan lainnya. Umumnya mereka membicarakan tentang membedakan sector utama atau sector pertanian dengan petani-petani yang mandiri. Sektor sekunder atau sector industri dengan upah para buruh dan sector tertier dimana masyarakat dapat memperoleh upah (transport dan bangunan) atau penghasilan (kerjaan kantoran). Merujuk pada produktivitas buruh yang lebih tinggi di sector sekunder, jumlah orang-orang yang bekerja di pertanian nenurun. Pertama dalam jumlahnya yang relative kemudian menjadi. angka-angka yang tetap. Pada permulaannya, hal ini membawa peningkatan pada jumlah dan proporsi buruh yang diperkerjakan di indurtri. Setelah beberapa waktu produktivitas bekerja lebih tinggi atau baik dalam sektor pelayanan yang membawa penurunan dalam industri. Pembagian industri dan peningkatan yang cocok dalam proporsi pekerjaan masyarakat di sektor tertier.
Para ahli sejarawan dan ahli ekonomi dari Eropa Barat sama-sama mengetahui produksi pembagian yang jelas di antara sektor dan relasi adalah fenoma yang nyata yang terjadi pada akhir-akhir ini. Sebelum tahun 1900 banyak aktivitas yang dilaksanakan oleh masyarakat yang secara total dipekerjakan di beberapa cabang sektor sekunder dan tertier, yang dijalankan oleh para ahli pertanian. Secara berangsur-angsur peningkatan spesialisasi dan mekanisasi membelah aktivitas tersebut menjadi berlebih-lebihan dan tidak ekonomis.
Industrialisasi, dalam konteksnya dengan konsentrasi pekerja dalam satu tempat dikombinasi dengan mekanisasi, standarisasi, dan penggunaan energi fosil, muncul belakangan untuk negara-negara tropis dan subtropis. Ketika ini datang kemajuannya lambat dan pertanian itu mengalir di arus utama bidang ekonomi untuk waktu yang cukup lama. Fenomena ini membuat bingung para sarjana, satu jalan keluar yang sudah dibicarakan seperti masyarakat agraris atau pertanian. Dengan demikian memindahkan semua fitur-fitur ekonomi agraris pada posisi kepentingan marginal. Selain itu, secara diametri berlawanan posisi untuk melihat pertumbuhan industri yang lambat sebagai hasil dari intervensi kolonial yang dapat dilihat sebagai penyebab dari industrialisasi. Akhirnya ada pilihan dalam perbedaan-perbedaan penjelasan dalam perkembangan dalam dasar syarat-syarat lingkungan yang berbeda. Contohnya perbedaan antara pertanian gandum versus pertanian padi, dengan implikasi yang berbeda untuk skala ekonomi dan sampai sekarang untuk mekanisasi dan akhirnya industrialisasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar