Senin, 04 Juli 2011

mengenal tentang agama Hindu

5. Agama
Pendahuluan:
Kata "agama" yang dipergunakan oleh umat Hindu dalam hidup berketuhanan Yang Maha Esa berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata "gam" yang artinya "pergi" atau "perjalanan". Urat kata "gam" ini mendapat prefix "a" yang berarti "tidak" dan tambahan "a" di belakang yang berarti "sesuatu" atau dapat berfungsi sebagai suffix dalam bahasa Sanskerta guna mengubah kata kerja menjadi kata sifat. Dengan demikian kata agama diartikan "sesuatu yang tidak pergi", tidak berubah atau tetap, langgeng (abadi). Yang tidak pernah berubah- ubah atau kekal abadi itu hanyalah Tuhan beserta ajarannya. Sebagai suatu istilah kemudian kata agama mengandung suatu pengertian aturan- aturan atau ajaran- ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi Wasa) diturunkan berupa wahyu (Sruti) melalui para Nabi (Maha Resi) untuk mengatur alam semesta beserta isinya baik dalam kehidupan rohaniah maupun dalam kehidupan jasmaniah.
Jadi pengertian dari agama tersebut ialah sesuatu yang kekal abadi dan suci / sareal berdasarkan kepercayaan dan keyakinan.
Tujuan Dari Agama Hindu
Di dalam kitab suci Weda dijelaskan tujuan agama sebagai tercantum dalam sloka "MOKSARTHAM JAGADHITA YA CA ITI DHARMAH" tujuan agama atau dharma adalah untuk mencapai jagadhita dan moksa. Moksa juga disebut Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau juga disebut mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng di akhirat. Jagadhita juga disebut bhukti yaitu kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang, masyarakat,maupun Negara .

jadi secara garis besar tujuan agama Hindu adalah untuk mengantarkan umatnya dalam mencapai kesejahteraan hidup di dunia ini maupun mencapai moksa yaitu kebahagiaan di akhirat kelak.
Adapun enam aliran pokok untuk mencapai moksa”saddarcna” namun tiga yang pokok yaitu:
Wedanta : (anta=akir, penutup) serba tunggal dan serba Tuhan.
Samkya : yang ada adalah prakarti dan purusa, keduanya kedua-duanya kekal abadi dan menjadi pangkal dari segala ada
Yoga :menghubungkan manusia yang ada dengan yang ada dengan hakikat dengan begitu membawa manusia kearah moksa.
Tingkatan dalam Yoga :
1. Dharana
Memusatkan Fikiran dan perasaan pada satu benda “yantra” untuk tidak lagi menyadari benda lain disamping Yantra.
2. Dhyana
Jiwa telah ada dan tidak terputus dengan Yantra
3. Samadhi
Dari hubungan diatas benda tiada terputus dan lebur menjadi Yantra.
Hindu Sebagai Agama
Istilah Hindu yang dipergunakan sekarang sebagai nama agama pada umumnya tidak dikenal pada jaman klasik. Beratus- ratus tahun sebelum tahun masehi, penganut ajaran kitab suci Weda tumbuh subur dan berkembang pesat dalam masyarakat, sehingga para ahli menyebutkannya dengan nama agama Weda atau Jaman Weda.
Kemudian Hindu dipakai nama dengan mengambil nama tempat di mana agama itu mulai berkembang, yakni di sekitar sungai Sindu atau Indus. Kata Sindu inilah yang kemudian berubah menjadi kata Hindu karena terkena pengaruh hukum metathesis dalam bahasa Sanskerta di mana penggunaan huruf "s" dan "h" dapat ditukar- tukar, misalnya kata "Soma" dapat menjadi kata Homa, kata "Satima" dapat menjadi Hatima, dan sebagainya.

Kata Hindu atau Sindu dalam bahasa Sanskerta adalah tergolong kata benda masculine, yang berarti titik- titik air, sungai, laut, atau samudra. Air melambangkan Amrita yang diartikan air kehidupan yang kekal abadi, dipergunakan dalam upacara- upacara agama Hindu dalam bentuk tirtha (air suci).

Istilah agama dengan istilah dharma mempunyai pengertian yang sulit dibedakan, maka dalam kaitannya dengan nama agama Hindu biasa juga disebut Hindu Dharma, bahkan di India lebih umum nama ini dipakai.


Darma
kata "Dharma" berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata "dhr" (baca: dri) yang artinya menjinjing, memangku, memelihara, mengatur, atau menuntun. Akar kata "dhr" ini kemudian berkembang menjadi kata dharma yang mengandung arti hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta beserta segala isinya. Dalam hubungan dengan peredaran alam semesta, kata dharma dapat pula berarti kodrat. Sedangkan dalam kehidupan manusia, dharma dapat berarti ajaran, kewajiban atau peraturan- peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup yaitu tingkah laku dan budi pekerti yang luhur.
Pustaka Smrti Santi Parwa 109.11: Artinya:
Dharanad dharma ityahur Kata dharma dikatakan datang dari kata Dharana (yang berarti memangku, menjunjung, atau mengatur).
Dharmena widrtah prajah Dengan dharma semua makhluk diatur



Lima dasar agama Hindu ( Panca Srada)
Panca artinya lima Srada artinya keyakinan yang mendalam.
1. Yakin asanya Brahman :adanya sang pencipta yang menciptakan
2. Yakin adanya Atman/Roh Jiwa :yakin adanya roh atau jiwa bahwa setiap mahluk hidup memiliki atman atau jiwa dan atma itu merupakan percikan kecil dari Brahman
3. Yakin dengan adanya Karmapala :yakin karena adanya hasil perbuatan “dimana kita menanam maka kita juga yang akan menuai hasilnya.
4. Yakin adanya Samsara atau Punarbhawa:meyakini akan kelahiran kembali, bahwa manusia akan terlahir kembali.
5. Yakin dengan adanya moksa :kebebasan kekal abadi bersatunya atman dengan Brahman manusia dengan usahanya mencapai tingkat kesucian batin yang tinggi hingga mencapai moksa, ada moksa yang dicapai semaa hidup Jiwan Mukti,adi moksa moksa yang masih meninggalkan bekas atau jasad, parama moksa moksa yang tidak mencapai bekas sama sekali

Candu sakti
Candu sakti merupakan sifat dasar sang hyang widi wasa ”widi artinya menghadirkan, wasa maha kuasa’ sanh hyang acinta “tak terpikirkan”.
Bagian-bagian Candu sakti:
1. Wibhu Sakti
Artinya tuhan yang maha esa yang berada dimana-mana “wyapi wyapaka”
2. Prabhu sakti
Sang hyang widi wasa merupakan raja di segala dunia, bahkan trikona yang meliputi Utpeti / kelahiran (penciptaan), Sthiti / kehidupan (pemaliharaan), praline / kematian (peleburan)
3. Jnana Sakti
Artinya maha tahu, jadi sang hyang widi wasa maha mengetahui segala sesuatu apapun di alam semesta ini. Adapun kemaha tahuan sang hyang widi wasa ini dalam pustaka suci di sebutkan ada tiga:
a. Dura Darsana : sang hyang widi wasa mmiliki penglihatan yang serba jauh atau serba tembus.
b. Dura Srawana : sang hyang widi wasa memiliki pendengaran serba jauh atau serba tembus.
c. Dura Sarwajnana : sanh hyang widi wasa memiliki pengetahuan serba jauh atau serba tembis.
4. Kriya Sakti
Artinya maha berkarya, sang hyang widi wasa maha berkarya dia terus saja bekerja tidak pernah berti dan hasil pekerjaannya tak pernah ada yang bisa menyamai.

Yadnya
Arti kata Yadnya di ambil dari bahasa sanskreta yang artinya yaj manusia (tindakan pemujaan atau ketaatan).
Tri Manunggaling Yadnya yang artinya tiga unsur dalam pelaksanaan yadnya yang terdiri dari:
1. Orang yangb memimpin upacara yadnya (sulinggih, sang wiku,pendeta,pemangku)
2. Orang yang sesajen (tukang banten, serathi/tapeni yadnya
3. Orang yang melaksanakan Yadnya (sang yaja mana)
Setiap hari selasa biasanya pemeeluk agama hibdu melakuka yajna yang disebut yadnya sesa yaitu setelah memasak makanan dan sebelum menyantap makananagar umat hindu terbebas dari dosa.
Yadnya ini dilaksanakan karena umat hindu ini lahir dengan mem, bawa utang yang di sebut tri Rna, ketiga rasa berutang ini di wujudkan dengan melaksanakan Panca Yadnya:
1. Dewa Rna
Merasa berhutang terhadap sang hyang widi wasa utang dilaksanakan dengan melaksanakan Dewa Yadnya dan Buta Yadnya.
a. Dewa Yadnya
Persembahan suci yang tulus iklas kepada ida sang hyang widi wasa beserta para dewa (Manifestasi tuhan) dewa artinya sinar suci, jadi dewa merupakan perantara manusia dengan sang pencipta yaitu sang hyang widi wasa.
Pelaksanaan yadnya secara Nitya Karma :
1. Yadnya Sesa(banten Saiban / banten Jotan) yadnya atau sesembahan yang di lakukan sehabis masak atau sebelum makan. Tujuannya untuk menyatakan terima kasih kepada Ida sang hyang widi wasa.
2. Sembahyang tri sandhya umat hindu wajib smbahyang tiga kali dalam sehari yaitu Surya Puja yang dilaksanakan pada pagi hari, Rahina puja yang dilaksanakan pada siang hari, dan sore hari atau malam hari yang di sebut dengan Sandhya puja
Pelaksanaan yadnya secara Naitimika Karma :
1. Melaksanakan upacara piodalan di sanggah (merajan0 di pura
2. Memperbaiki dan merawat tempat suci
3. Melaksanakan thirtha yatra,yaitu berkubjung dan sembahyang ke tempat-tempat suci

b. Bhuta Yadnya
Persembahan suci yang tulus iklas kepada Bhuta Kala. Bhuta artinya yang ada (unsure alam semesta) kala artinya energy, buta kala ialah unsure alam dengan kekuatan yang dimiliki.
Pelaksanaan yadnya secara Nitya Karma :
1. Memelihara dan menyayangi hewan peliharaan.
2. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan
3. Merawat tanaman
Pelaksanaan yadnya secara Naitimika Karma :
a. Melaksanakan pencaruan (dari tingkat kecil sampai yang besar),misalkan caru eka sata (memakai satu ekor ayam) sampai eka dasa rudra.
b. Membersihkan lingkungan sekitar.

2. Pitra Rna
Rasa berhutang terhadap orang tua atau leluhur, utang ini dilaksanakan dengan Pitra yadnya dan manusia Yadnya.
a. Pitra yadnya
Persembahan yang tulus iklas terhadap leluhur dari sejak manusia meninggal sampai di alam kedewataan Pitra (pitara) artinya bapak atau leluhur. Tujuan untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya. Di samping itu pitra yadnya juga merupakan perawatan yang baik serta memperlakukan Persembahan yang tulus iklas terhadap leluhur dari sejak manusia meninggal sampai di alam kedewataan Pitra (pitara) artinya bapak atau leluhur. Tujuan untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya. Di samping itu pitra yadnya juga merupakan perawatan yang baik serta memperlakukan orang tua dengan kasih saying semasa mereka masih hidup.
Pelaksanaan yadnya secara Nitya Karma :
1. Menuruti nasihat orang tua, merawatnya ketika sait juga menjaga
Pelaksanaan yadnya secara Naitimika Karma :
1. Melaksanakan upacara kematian baik secara di kubur atau di bakar
2. Melaksanakan upacara Ngaben dengan tujuan mempercepat proses pengembalian unsure panca Maha Bhuta ke asalnya.
3. Melaksanakan upacara Nyekah, memukur, meligia (upacara atiwa wedana) dengan tujuan melepas atma dari beleggu badan halus (budi manah, dan ahamkara) sehingga dapat kembali keasalnya.
b. Manusia yadnya
Persembahan terhadap seseorang ketika masih dalam kandungan sampai akir hidupnya. Sebab dalam agama hindu diyakini adanya reinkarnasi dari roh leliuhur jadi hal ini merupakan yadnya terhadap roh leluhur yang terlahir kembali.
Pelaksanaan yadnya secara Naitimika Karma :
1. Melaksanakan upacara bayi dalam kandungan (garbha wedana) unsure memohon keselamatan dan kesucian.
2. Upacara bayi lahir sebagai wujud rasa gembira dan bahagia atas kelahiran kedunia hari peringatan di sebut otonan
3.
3. Rsi Rna
Rasa berutang terhadap Rsi,orang suci (sulinggih) atau para guru ,Persembahan suci terhadap para rsi (penerima wahyu,para pendeta), sulinggih (pemuput yadnya, guru kerohanian) karena adanya mereka kita menjadi tah panca yadnya merupakan cara untuk melksanakan catur marga yoga, yaitu empat cara untuk mendekatkan diri kepada sang hyang widi wasa
a. Bakti Marga Yoga
Dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan ida sang hyang widi wasa dengan cara cinta kasih, bakti setulus-tulusnya.
b. Karma Marga Yoga
Dengan jalan berbuat dan bekerja secara sungguh-sungguh dan tidak mengharapkan balas imbalan.
c. Jnana Marga Yoga
Belajar serta mengamalkan ilmu pengetahuan yangb benar dan sungguh-sungguh serta tidak mengharapka imbalan.
d. Raja Marga Yoga
Melakukan tapa (pengekangan) brata (disiplin) yang tekun.
Pelaksanaan yadnya secara Nitya Karma :
1. Mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan
2. Hormat dan bakti kepada guru
Pelaksanaan yadnya secara Naitimika Karma :

Tujuan spiritual dari pengamalan Yadnya:
1. Untuk menghubungjkan diri dari sa g hyang widi wasa
2. Untuk mencapai kesucian, membebaskan diri dari dosa, dan mencapai kesempurnaan lair batin
3. Sebagai tanda terimakasih terhadap anugrah yang dilimpahkan.

Disamping 5 macam jenis yadnya yang di sebut panca yadnya itu, kitap agastya parwa juga di jelaskan tentang 5 bentuk yadnya yang di sebut panca maha yadnya.

1. Drwana Yadnya
Yaitu yadnya dengan sarana harta benda (material)
2. Tapa yadnya
Yaitu yadnya dengan sarana tapa
3. Yoga Yadnya
Yaitu yadnya dengan melaksanakan Yoga
4. Swadhyaya yadnya
Yaitu Yadnya dengan mempelajari ajaran suci
5. Jnana Yadnya
Yaitu yadnya dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
Dari segi pelaksanaan yadnya di bedakan menjadi 2:
1. Nitya Karma
Yadnya yag dilaksanakan setiap hari secara rutin dan dalam kuantitas yang lebih kecil tidak memerlukan banyak materi yang terpenting adalah kesungguhan dan keihlasan
2. Naimitika Karma
Pelaksanaan yadnya persembahan suci yang dilakukan pada hari-hari tertentu (berkala misalnya pada hari-hari suci rerahinan,hari besar seperti galungan, kuningan tawur kesanga )piodalan di merajan pura otonan dan ngaben .
Alas an yadnya:
1. Mengucapkan rasa sukur terhadap Tuhan atas limpahan rahmad dan hidayahnya.
2. Memohon kepada tuhan agar terhindar dari bahaya pengaruh jahat dan perbuatan buruk
3. Memohon untuk keselamatan
Penerapan pelaksanaan Yadnya secara Nitya Karma:
Penerapan pelaksanaan Yadnya secara Naitimika Karma:

Kepala Agama
Dalam agama hindu kepala agama harus memiliki persaratan lahir yaitu:
• Mardika
• Mapod
• Gala
• Mapurohita
• Mawinten :
Bagi yang sudah memenuhi persaratan mereka memakai genta bersimbul badjra dan mereka yang memakai genta tersebut disebut pendeta, sedang bagi yang belum memiliki genta maka masih disebut pinandita.
Nama-nama kepala agama hindu dan tugas-tugasnya:
 Brahmana
Orang yang ahli dalam ilmu kamoksaan dan kanirwanan
 Danghyang
Pendeta keturunan Brahmana wangsa ex: Danghyang Drona,Danghyang Krepa,Danghyang Lohgawe.
 Bhagawan/Rsi
Orang telah bersih jiwanya dan telah bebas dari pengaruh keduniawian, serta tajam pandangannya sehingga Waskito (atita,awartamana,anagara).ex Bhagawan/Rsi Wiasa,Rsi Kasyapa.
 Pedanda/Peranda
orang yang ahli dalam weda weda mantram di bali digunakan untuk pendeta pendeta keturunan Brahmana wangsa.
 Mpu
Gelar untuk pendeta-pendeta yang menjadi guru-guru dari raja terutama guru dalam bidang keagamaan.ex:Mpu Kanwa. Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu tantular
 Wiku
Orang yang ahli dalam ilmu batin mengutamakan perikemanusiaan dan peri keadilan.
 Sangguru/sangguhu
Pengajar agama pada umumnya dan pemimpin upacara di bali.
 Bhiksu
Pendeta yang manunggal dengan Ida Sang Hyang Widi Wase
 Dukun
Seorang pertapa /pendeta yang menetap di dalam hutan
 Pamangku
Seorang yang bertugas melakukan upacara agama di Pura atau tempat tempat suci lainnya.mereka boleh memakai genta boleh juga tidak tergantung besar kecilnya upacara yang dilakukan.
 Dalang
Seorang yang ahli dalam mempertunjukan wayang dan ahli dalam ilmu batin dan ilmu agma selain itu seorang Dalang juga berhak membuat tirtha panglukatan yaitu air suci yang dapat membersihkan dasa mala lahir batin bagi yang membutuhkan.
 Balian
Orang yang terkemuka dalam masyarakat/ desa yang ahli dalam ilmu batin atau ketuhanan kepadanyalah orang-orang bertanya tentang keagamaan, tata susila kadang-kadang tentang obat-obatan.

Kitab Agama Hindu
Kitab agama Hindu disebut kitab Weda yang diambil dari kata Vid tahu, jadi Weda yang artinya Pengetahuan jadi kitab weda itupun berisi tentang pengetahuan.dalam kitab weda terdapat tiga wedaran,
a. Kitab Weda
Terdiri dari empat himpunan (samhita), empat samhita itu diantaranya:
 Rigweda : berisi 1028 sukta atau syair-syair pujian terhadap dewa-dewa
 Samaweda : sebagian besar berisi syair-syair dari rigweda namun diberi tangga nada untuk dinyanyikan.
 Yajur weda : doa-doa yang digunakan untuk pengantar saji yang disampaikan kepada dewa dengan diiringi dengan pengajian Rigweda dan nyanyian samaweda.
 Atharwaweda :berisi mantra-mantra dan jampi-jampi untuk ilmu gaib, mengusir penyakit dan menghancurkan musuh , mengikat cinta, memperoleh kedudukan dll.(karena sifatnya dianggap rendah maka antharwaweda tidak diakui dalam weda, dan hanya dikenal tiga weda yang disebut trayi weda)
Sedangkan arti nama Sang Hyang Widi Wase yang yang selalu disebut-sebut oleh Pemeluk agama hindu memiliki arti sang maha tahu dan dialah sang maha tunggal.
b. Kitab Brahmana
Berisi mengenai uraian serta keterangan mengenai dan upacara.
c. Kitab Upanishad
Kupasan-kupasan menganai ketuhanan dan makna hidup.

Jaman yang dikupas dalam ajaran Hindu
Panteon Hindu:

Dalam agama Hindu ada dewa tiga utama yang disebut dengan sebutan trimurti, Timurti itu meliputi Dewa brahma, dewa wisnu dan dwa siwa, sedang kan dalam perlambangana disebut Pantheon, tokoh-tokoh penting dalam hubungannya dengan perbuatan arca pengisi candi antara lain:
Brahma
Biasa digambarkan dengan empat muka, empat tangan, dan tata tertutup dalam sikap meditasi, penuh kedamaian.
Dewa brahma merupakan Dewa pencipta yang menciptakan

Wisnu
Wisnu disebut juga dewa pemelihara,Secara fisik wisnu digambarkan dengan empat pasang atau lebih tangannya, satu wajah, dan biasanya duduk di atas punggung garuda. Setiap pasang tangannya membawa benda yang merupakan pasangan satu sama lain.

Ciwa
Penggambaran dari Ciwa padat berbentuk manusia dan lingga. Dalam bentuk manusia digambarkan dengan wajah yang seram, empat tangan, dan simbol-simbol yang melambangkan sifatnya


Durgamahisasuramardini
Biasa digambarkan sedang membunuh Mahisasura, dengan jumlah tangan yang bervariasi, trisula menusuk leher Mahisa. Durga memiliki tiga mata, dada yang membusung, pinggang ramping dan berdiri dalam sikap tribhangga di atas Mahisa.
Merupakan dewi pembunuh raksasa yang dapat penjelma dalam bentuk apapun , menurut naskah Devi Mahatya,di critakan bahwpada suatu ketika diklalahkan oleh asyura dibawah pimpinan mahisasura, para dewa memohon pertolongan pada dewa siwa,dan dewa wisnu untuk mengalahkan para asyura, sehingga kedua dewa tersebut kasihan terhadap ke malangan para dewa,sehingga kedua dewa tersebut marah, dan mulut mereka mengeluarkan lidah api juga keluar pula dari para dewa,dari lidah api yang bergabung dari semua penjuru dan akirnya berkumpul dan membentuk tubuh wanita yamg sangat cantik, siwa memberikan trisulanya, wisnu memberikan cakramnya, baruna memberikan sangka dan pasa,agni memberikan tombak,maruta memberikan panah beserta anak panahnya,indra memberikan fajra dan genta,yama memberikan kamandalu,kala memberikan pedang dan perisai,lautan susu memberikan kalung dan sepasang pakaian yang tak bisa rusak,vivakarma memberikan memberikan kapak dan baju zirah yang tak bisa tembus senjata, himavat memberikan seekor singa untuk wahana, dan kuwera memberikan sebuah mangkuk yang berisi anggurnsedang sesa memberikan kalung ular yang dihiasi permata yang besar.para dewa berhasil mengalahkan mahisa dengan peantara dewi durga dengan jalan dewi durga menginjak lehernya,dari mulut mahisa keluar lah raksasa dan segera di bunuh oleh dewi durga.


Ganeca
Berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut yang buncit, bertangan empat dan biasanya duduk dalam sikap uttkutikasana.
Dewa ini lebih dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, dewa Ganesa merupakan putra dari dewa Siwa dengan Dewi Durga, Dewa Ganecha terlahir dengan muka mirip dengan gajah dan tubuh seperti manusia hal ini terjadi karena dewi durga ketika mengandung dewa Ganesha dia takut dan terkejut ketika melihat wahana dewa brahma yang berupa Gajah abiwata.ganesa seorang dewa berwujud gajah yang memuliki taring terputus, desebabkan ketika dia memimpin tentara Gana untuk melawan raksasa,sebab itu Ganesa di sebut juga ekadanta atau yang bertaring satu.ganesa termasuk dewa penting di Indonesia dalam agama hindu,cerita kelahiran ganesa dalam masa awal kerajaan Kediri abad ke-12 M, pernah di tulis oleh Mpu Dharmajaya dengan judul Smaradhana.

Agatsya
Digambarkan dengan roman muka yang tua dengan kumis dan jenggot yang panjang/lebat, sikap berdiri, perut buncit dan bertangan dua.
Mahakala dan Nandiswara
Keduanya bertindak sebagai penjaga pintu (dwarapala)

Laksmi atau dewi sri
Sakti dari dewa wisnu merupakan dewi kemuliaan kesejahteraan,cahaya,keuntungan.

Dewi saraswati
Sakti dare dewa brahma dewi ini merupakan dri dewi ilmu pengetahuan dan kesenian.


Dikpalakas/astadikpalaka
Adalah dewa-dewa penguasa arah mata angin, yang jumlahnya ada delapan terkadang di lukiskan sebagai pemurah dan pemurka,diantara delapan dewa tersebut yaitu:
- Indra (Selatan)
Sebagai Dewa hujan

- Agni (Tenggara)
Dewa Api
- Yama (Selatan)
Dewa maut, muka menakutkan memegang gadha kadang pedang.

- Nirruti (tenggara)
- Varuna/waruna(Barat)
Dewa laut
- Wayu (barat laut)
Dewa angin

- Kuwera/kubera (utara)
Dewa kekayaan
- Icana.(timur laut)
- Surya (barat Daya)
Dewa Matahari

Selain dewa-dewa diatas dalam agama hindu juga masih mengenal banyak dewa-dewa lainnya dalam ajaran hindun diantaranya:
Dewa Kama yang meliliki pasangan dewi ratih merupakan dewa dan dewi cinta yang dalam kepercayaan ajaran hindu dewa-dewi ini biasanya merasuk dalam jiwa muda-mudi yang sedang jatuh cinta.di lukiskan naik burung nuri memegang gada,kadang pedang juga terkadang panah.

Dewa Kuwera yang sering dikenal juga dengan nama dewa harta dengan cirri membawa kantung harta,cirri kususnya badan tambun,duduk di kelilingi periuk-periuk yang dikelilingipermata,permata keluar dari periuk ,bertangan dua memegang jeruk dan marter (semacan bunatang) jika kuwera bertangan empat makayang dipeganganya, kulit kerang cakra dan tunas bunga teratai. didalam ajaran buda pun juga dikenal dan biaasanya juga dikenal sebagai dewa pemberi anak.
Dewa surya dewa matahari.
Bertanda bunga teratai naik kendaraan yang ditarik oleh tujuh ekor kuda.


Laksana dewa-Dewa agama Hindu
Laksana ialah benda yang sering terlihat pada Arca juga sering disebut sebagai atribut benda yang dipegang oleh dewa-dewa Hindu yang diletakan pada sandaran arca “stela” yang menjadi cirri kusus Dewa penggambaran dewa-Dewa Hindu.

Dewa Cyva
1. Cywa sebagai Mahadewa.
Laksana Arcandrakapala bulan sabit dibawah sebuah tengkorak yang terdapat pada mahkotanya , terdapat mata ketiga pada dahi, upawita beruba Ular naga, terkadang memiliki kepala lima, yang empat menghadap muka sedang yang kelima berada di tengah-tengah,cawat berupa kulit harimau yang dinyatakan dengan terdapat lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya, tangannya berjumlah empat masing-masing memegang camara(penghalau lalat), aksamala, tasbih, kamandalu(kendi, berisi air penghidupan), trisula tombak bermata tiga.tali tanda kasta berupa seekor ular.

2. Cywa sebagai Mahaguru/Maha Yogi.
Laksananya kamandalu dan trisula, trisula terletak disampingnya agak kebelakang,perutnya gendut, berkumis panjang dan berjanggut runcing.sikap berdiri,bertangan dua,hiasan pakaian sederhana,tanda lain,kendi,tasbih,kipas lalat.
3. Cywa sebagai Mahakala.
Rupanya menkutkan seperti raksasa, bersenjatakan Gada.


4. Cywa sebagai Bhairawa.
Cywa sebagai birawa ini bersifat penghukum atau membinasahkan dan menakutkan,mukanya sangat buas mata besar dan melotot gigi menonjol keluar dan rambutnya terurai, tali kasta seekor ular atau rangkaian tengkorak, terkadang juga tali biasa.Berhiaskan rangkaian tengkorak tangan yang satunya memegang mangkuk yang terbuat dari tengkorak dan tangan lainnya memegang pisau trisula, khadga(pedang),paca(tali pencekik leher),seekor ular,tasbih,kipas lalat,pakaianya hanya bercawat. wahananya berupa srigala, sering kali duliskan berdiri di atas bangkai dan lapik dari tengkorak


Dewi Durga
1. Dewi Durga sebagai Durga mahisasura mardini
Umumnya durgamahisasura Digambarkan berdiri diatas seeker lembu yang ia taklukan lembu ini merupakan penjelmaan dari Asyura yang menyerang kayangan dan dibasmi oleh Durga,rambut jatamahkota,sikap berdirinya tribangga,jumlah tangan durga ada 8, 10, 12, masing-masing memegang senjata.Tangan kanan memegang lembu,tangan kiri memegang rambut raksasa pada candi loro jongrang dilukiskan menggeliat.

2. Durga Sebagai Mahakali atau bhairawi
Sebagai istri mahakala Durga menjadi Mahakali. Sebagai istri Bhairawa Durga memiliki nama Bhairawi dengan ciri khas wajah sangat menakutkan dan menmpunyai wahana berupa Singa.tetapi jarang sekali patungnya dibuat hanya pada lukissan-lukisan di hindialah mahakali di apresiasikan dalam lukisan india mahakali sering dilukiskan bertangan empat atau sepuluh buah yang memegang senjata seperti trisula,dll.berdiri diatas dewa siwa yang sedang berbaringg dibawahnya.
Sedang pada arca di Indonesia bhirawi atau mahakali sering di lukiskan dalam arca yang memiliki ciriduduk diatas bangkai,pada tali kastanya tergantung tengkorak-tengkorak bahkan pada kalung lehernya tangannya dua yang satu memegang mangkuk berisi darah,tangan kiri memegang trisula.terkadang pula digambarkan sebagai raksasa memegang golok dan orang yang di jadikan tumbal, matanya melotottaring dan rambut gimbal.


3. Durga Sebagai Mahadewi atau Uma atau Parwati
Bertangan empat kadang-kadang berdiri dan kadang-kadang duduk di atas nandi,kedua tanganya diletakan didepan dengan memegang teratai. Kedua tangan yang dibelakang memegang tasbih dan kipas lalatterkadang satu diantaranya diganti dengan bunga, terkadang pula ular,buku(keropak),trisula kalung tanda kasta tidak pernah ketinggalan namun terkadang hanya berupa kalung.
Ardanari
Ciwa dan saktinya di arcakan dalam satu archa yaitu badan sebelah kanan berwujut sebagai laki-laki dan sebelah kiri sebagai perempuan,pada mahkota terdapat hiasan tengkorak dan bulan sabityang cukup menandakan kesiwaannya, selain itu terdapat empat buah tangan.


Anak siwa
1.Ganesha
Dewa berkepala Gajah yang disembah sebagai dewa ilmu dan penyingkir rintangan.biasanya arca ganesa ini bertangan empat namun terkadang juga dua, tangan belakang memegang kapak (aksamala)tangan depan memegang tempat makan dan putusan taring,belalainya menjulur kebawah kemudian melengkung keatas ketempat makan,sebagai lambing kebijaksanaan dewa tidak henti-hentinya menuntut ilmu.

2.Kartikeya
Dewa ini digambarkan sebagai anak-anak wahana burung merak di dalam pantheon Dewa ini berkedudukan sebagai Dewa perang.


Dewa Wisnu
Laksananya bertangan 4 masing-masing tangannya memegang Gada,Cakra lambing dewa matahari terletak pada tangan kanannya,sedang tangan kiringa memegang cangka , dan apa bila memiliki tangan empat maka di kedua tangan belakang memegang bunga kuncup teratai merah pada tangan kanan dan tangan kiri dibelakang memegang gadha. wahana burung Garuda.apabila musim hujan ia tidur di ular berkepala lima bernama chesa.

Sakti Dewi Laksmi dewi sri
merupaka dewi Bahagia,dewi kemuliaan ,kesejahteraan cahaya keuntungan,laksana bertangan empat tanda penting memegang bunga teratai namun juga dipegang oleh tara, untuk membedakanya, maka dewi tara biasanya memegang bunga teratai bertangkai panjang sedang dewi laksmi memegang bunga teratai bertangkai pendek atau tak bertangkai,tangan empat itu sebelah tangan belakang memegang kopas lalat cemara,tasbih,bulir (buah)hal ini mengingatkan akan dewi sri sebagai ratu padi.


Dewa Brahma
Laksananya berkepala empat yang masing-masing menghadap suatu arah mata angin yang menunjukan pencipta,tangan empat dan dua dibelakang memegang Aksmala dan camara, tangan depan tidak memegang sesuatu,terkadang memegang kuncup padma atau kendi wahana angssa “hamsa”

Dewa Brahma versi india Dewa brahma dan dewi saraswati
Sakti dewi saraswati merupakan dewi kesenian, kecantikan dan ilmu pengetahuan.

Dewa Kuwera
Adalah Dewa kekayaan laksananya duduk diatas karung harta yang dikelilingi oleh periuk-periuk berisi harta perutnya gendud dan tangannya memegang pundi-pundi dari binatang semacam tupai dan tangannya memegang limau.

Sakti Kuwera bernama Hariti yang menggarkan kekayaan biasanya dewi Hariti dipuja oleh orang yang sulit memiliki anak.

Budha
Budha dalam agama hindu juga dikenal pula karena ajaran Buda itupun juga merupakan anak dari agama Hindu, selain itu dari ajaran Hindu Buda lebih dikenal sebagi awatara Dewa Siwa.
Cirri-ciri patung Budha
1. Telinga lebih panjang daripada telinga manusia biasa.
2. Tangan tidak lebih dari dua
3. Terdapan unhisha rambut ikal yang menutup kepala buda dengan arah memutar ke kanan
4. Antara kedua kening terdapat urna, semacam benjolan kecil mirip jerawat diantara kedua kening.ini sebagai bukti kelebihan pandangan tentang segala hal.
5. Pakaian mengenakan pakaian kependetaan terdiri atas tiga helai namun bisanya hanya kelihatan dua helai.
6. Tangan tidak pernah memegang sesuatu namun bersikap tertentu.

Dalam Arca budha lebih dikenal dengan sikap tangan yang disebut Mudra dari sikap tangan tersebut dapat diketahui kedudukan arca tetrtentu dalam suatu candi Budha. Ada tujuh macam sikap tangan yang sebaiknya dapat kita ketahui.
1. Amoghasidhi.
Mudra : Abhaya (jangan takut)
Sikap tangan : Menentramkan.
Terdapat pada arca yang menguasai mata angin utara.
2. Aksobhya.
Mudra : Bhumisparsa (menyentuh Bumi)
Sikap tangan : memanggil bumi sebagai saksi waktu Budha diganggu oleh mara dibawah pohon Bodhi
Terdapat pada arca yang menguasai mata angin timur.
3. Ratna Shambawa
Mudra : Wara (menganugrahkan)
Sikap tangan : memberi anugrah
Terdapat pada arca yang menguasai mata angin selatan.
4. Amithaba ( Budha Sekarang di dunia )
Mudra : Dyana (meditasi)
Sikap tangan : bersemadhi
Terdapat pada arca yang menguasai mata angin barat
5. Witarka (member pelajaran)
Mudra :
Menguasai Zenith
6. Wairocana (penguasa Zenith)
Mudra : Dharmacakra (memutar roda darma)roda darma
Sikap tangan : memutar
Terdapat pada arca wairocana yang tinggal di zenith
7. Jnana (pengetahuan)


Dasa bumi
sepuluh tingkatan yang harus dilakukan oleh seorang bodhisatwa untuk menjadi serorang Budha.
1. Tingkat Pramudhita : kenikmeten,kesenangan.
2. Tingkat Vimala : Bebas dari kekotoran
3. Tingkat Prabari : gilang gemilang
4. Tingkat Arcismati : semangat yang berapi-api
5. Tingkat Sudurjaya : sukar sekali unyuk direbut
6. Tingkat Abimukhi : menunjukan muka kedepan
7. Tingkat Durangama : pergi jauh sekali
8. Tingkat Acala : teguh,kuat
9. Tingkat Sadhumati : kecerdasan yang baik
10. Tingkat Darmamegha : awan dari budha

selain dyani budha juga dikenal juga dikenal pula tokoh-tokoh penting dalam ajaran budha antara lain:
1. Matreya
Dalam agama budha Bodhisatwa selalu digambarkan mengenai pakaian kebesaranya seperti raja laksana untuk awalokitecwara sebuah arca amithaba dimahkotai sebagai padmapani ia memegang sebatang bunga teratai merah ditangannya laksana maitrea sebuah mahkota di Stupa.

2. Tarra
Diantara Tarra yang terkemuka ialah cyama-tarra istri awalokitecwara tangan darmacakra Mudra

3. Awalokiteswara
di cina awalokitecmara dikenal dengan nama dewi guan yin. Di Indonesia awalokitecwara banyak ditemukan dengan cirri tangan ada dua buah, tangan kiri memegang tangkai teratai merah, tangan kanan bermudra wara-mudra. Kadang juga awalokitecwara disebutjuga dengan sebutan padmapani sebab tangan kiri megag terati. Terkaa pula awalotecwera dluskan ertangan 4,6,810, da 12awalokitecwaa yng bertangan delapan disebut juga dengan Amoghapaca.di mahkotanga terdapat arca kecil Dyani Budha Amitabha.

4. Manjusri
Ditandai memegang sebuah buku berwujud keropak yang terletak di bunga biru atau utpala dipegang pada tangkainya.

5. Prajna Paramitha
Prajna paramitha biasanya posisitangan bersikap dharmacakra-Mudra, memegang buku prajna paramitha (ilmu yang amat tinggi) prajnapara mitha dalam agama buda merupakan dewi tertinggi.

6. Archa Dwarapala sebagai penjaga pintu atau gapura
Memiliki ciri wajah yan seram berbadan seperti raksasa membawa gadha biasanya dwarapala ini berada di pintu candi sebagai penjaga pintu masuk agar tidak dima berfungsi untuk mengusir roh jahat, arca dwara pala ini terdapat pada candi Hindu dan budha.


Selain “ Mudra”, dan Laksana ikonografi dalam arca Hindu Budha juga menyajikan mengenai sikap tempat duduk”asana”, sikap berdiri”Sthana”juga wahana”kendaraan Dewa”:
a) Asana sikap duduk antara lain:
i. Paryankasana.
ii. Utkutikasana.
iii. Padmasana.
Sedangkan sebagai tempat duduk diantaranya:
i. Anantasana.
ii. Kurmasanapadsana.
iii. Makarasana.
iv. Simhasana.
b) Wahana merupakan kendaraan yang ditunggangi oleh dewa juga digunakan untuk menolong pengidentivikasian tokoh dewa, misalkan:
i. Nandi : Merupakan wahana dewa Siwa.
ii. Garuda : Merupakan wahana dewa Wisnu.
iii. Gajah airawata: Merupakan wahana dewa Indra.
iv. Kambing : Merupakan wahana dewa Agni.
v. Angsa : Merupakan wahana dewa Brahma.
vi. Kerbau hitam : Merupakan wahana dewa Yama.
c) Sthana atau sthanaka yaitu sikap berdiri Dewa yaitu dapat diketahui adanyasikap berdiri:
i. Samabangga : Berdiri lurus.
ii. Abangga : Berdiri dengan tiga lekukan badan.
iii. Atibhangga : tribangga yang berlebihan,Erotis.

o Sembahyang
a. Kramaning Sembah
Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.
Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.
b. Persiapan sembahyang
Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.
Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:
c. Urutan-urutan sembah
baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut ini:
Aneka Doa sehari-hari
(jnana-punia semeton Nyoman Gede Suyasa)


Puja Trisandya Terjemahannya
Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
Yang maha suci dan sumber segala kehidupan,
sumber segala cahaya,
semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.

Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit. Ya Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya.
Engkau adaIah gaib, tiada berwujud,
di atas segala kebingungan, tak termusnahkan.
Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.

Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra.
Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
Om papo'ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa,
jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa,
perbuatan hamba papa,
Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.
Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk.
Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba.
Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
Om Santih, Santih, Santih Om. Semoga damai diketiga dunia.

Aneka Banten
Om Swastyastu,
Kekayaan budaya Bali yang tiada tertandingi di dunia adalah aneka ragam hasil karya untuk menunjukkan cinta, hasrat dan hormat kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Hasil karya ini tentu saja memerlukan keahlian, selera keindahan dan pengertian yang mendalam mengenai makna di balik simbol- simbol itu. Demikianlah cara leluhur mengajari orang Bali bagaimana mencintai Tuhan melalui karya indah yang penuh filsafat dan pengabdian. Oleh karena itu menyiapkan sesajen dilakukan bersama- sama lintas generasi. Yang tua mengajari yang muda, mengkritik, memberi saran, memberi nasehat, membimbing dan banyak lagi interaksi sosial dan spiritual yang terjadi dalam kegiatan ini. Indahnya Bali, eloknya budayanya dan kentalnya nuansa keindahan cinta, hormat dan bakti kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada lingkungan alam semesta.
Om Shanti, Shanti, Shanti... Om...
(Kelian Kelir)

1 Banten Upacara Dewa Yadnya
2 Banten Upacara Pitra Yadnya
3 Banten Upacara Manusa Yadnya

4 Banten Upacara Resi Yadnya
5 Banten Upacara Bhuta Yadnya

Mengenal macam istilah dan bentuk bebantenan yang umum.
• Unsur- unsur dasar bahan bebantenan: busung, slepan, ambu, ron, kraras, pis bolong, tirta, bunga, bija, bhasma, dll.
• Jejahitan dan banten: bedogan, canang, ceper, clemik, daksina, lis amuan- amuan, lis gede, penyeneng, peras- tulung- sayut, sampiyan, sangaurip, srobongan, taledan, taledan- pesucian, tamas, tulung, dll
• Bebantenan sederhana, banten pekidih, segehan, dll.
Marilah kita memuja Tuhan, Ida Hyang Widhi WaƧa
Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.
Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.
Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.
Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang.
Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:
Tangan kanan:
Om suddha mam svaha Om bersihkanlah hamba

Tangan kiri:
Mantranya Artinya
Om ati suddha mam svaha Om lebih bersihkanlah hamba







Mantram Trisandhya
Mantranya Artinya

Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat Om adalah bhur bhuvah svah
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit. Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua

Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedu
Om papo'ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam Om. damai. damai, damai, Om.

Om Santih, Santih, Santih Om. Om. damai. damai, damai, Om.

ANEKA GEGURITAN
KIDUNG DEWA YADNYA
1. Kawitan Warga Sari - Pendahuluan sembahyang
1. Purwakaning angripta rumning wana ukir.
Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.
Sukania harja winangun winarne sari.
Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng
2. Pangayat - Menghaturkan sajen
Kidung Warga Sari
1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
Sami sampun puput. Pratingkahing saji.
2. Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
Ancangan sadulur, sami pada ngiring.
3. Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.
3. Pangayat - Menghaturkan sajen
Kidung Warga Sari
1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
Sami sampun puput. Pratingkahing saji.
2. Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
Ancangan sadulur, sami pada ngiring.
3. Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.
4. Pamuspan - Sembahyang
Merdu - Komala
1. Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.
2. Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.
3. Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
Ring angambeki yoga kiteng sakala.
4. Katemun ta mareka sitan katemu.
Kahidepta mareka si tankahidep.
Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
Paramartha Siwatwa nira warana.
5. Nunas tirtha - Mohon tirtha
1. Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
Sami pada lebur. Malane ring gumi.
KIDUNG MANUSA YADNYA (PERKAWINAN)
1. Kawitan Tantri - Pendahuluan.
1. Wuwusan Bhupati. Ring Patali nagantun.
Subaga wirya siniwi. Kajrihin sang para ratu.
Salwaning jambu warsadi. Prasama hatur kembang tahon.
2. Tuhu tan keneng api. Pratapa sang prabu Kesyani ruktyeng sadnyari.
Sawyakti Hyang Hari Wisnu. Nitya ngde ulaping ari.
Sri dhara patra sang katong.
3. Wetning raja wibawa, mas manik penuh.
Makinda yutan ring bahudanda. Sri Narendra, Sri Singapati,
Ujaring Empu Bhagawanta. Ridenira panca-nana.
Bratang penacasyan.
Hatur Hyang Dharma nurageng bhuh.
4. Kadi kreta yuga swapurneng nagantun Kakwehan sang yati.
Sampun saman jayendrya. Weda Tatwa wit. Katinen de Sri Narendra.
Nityasa ngruci tutur. Tan kasareng. wiku apunggung wyara brantadnya ajugul.

2. Demung Sawit (bawak, dawa)
1. Tuhu atut bhiseka Nrapati. Sri Eswaryadala.
Dala kusuma patra nglung,
Eswarya raja laksmi.
Sang kulahamenuhi rajya.
Kwening bala diwarga.
Mukya sira.
Kryana patih Sangniti Bandeswarya patrarum.
2. Nityasa angulih- ulih amrih sutrepting nagara,
lan sang paradimantriya.
Tuhu widagda ngelus bhumi.
Susandi tinut rasaning aji,
Kutara manawa.
Mwang sastra sarodrsti.
Matangyan tan hanang baya kewuh.
3. Pirang warsa Sri Nrapati Swaryadala.
Tusta ngering sana.
Kaladiwara hayu.
Sri narapati.
Lagya gugulingan ring taman.
Ring yaca ngurddha angunggul.
Yayamireng tawang.
Tinum pyata tinukir.
Kamala kinanda-kada.
Langu inipacareng santun.
Mangamyat kalangenikang nagara.
Tisoba awiyar.
Indra bhuwana nurun,
Kweh tang pakwana titip.
Pada kabhi nawa.
Dening sarwendah linuhung.
Liwar sukanikang wong.
Anamtami kapti.
Arumpuka sari sama angrangsuk bhusana aneka marum.
KIDUNG PITRA YADNYA
1. Nedunang layon pacang nyiramang
Menurunkan Jenazah untuk dimandikan

Cewana - Girisa
1. Ata sedengira mantuk sang suralaga ringayun.
Tucapa aji wiratan. Karyasa nagisi weka.
Pinahajongira laywan sang putra mala piniwa.
Pada litu hajenganwam. Lwir kandarpa pina telu.
2. Lalu laranira nasa sambat putranira pejah.
Lakibi sira sumengkem ring putra luru kinusa.
Ginamelira ginanti kang laywan lagi ginugah.
Inutusira masabda kapwa ajara bibi aji.
2. Nyiramang layon - Memandikan Jenazah.

Bala - ugu.
1. Bala ugu dina melah, manuju tanggal sasih.
Pan Brayut panamaya. Asisig adyus akramas.
Sinalinan wastra petak. Mamusti madayang batis.
Sampun puput maprayoga, tan swe ngemasin-mati.
2. Ikang layon ginosongan, ne istri tuhu satya, de pamayun matingkah.
Eteh eteh sang paratra. Toya hening pabresihan.
Misi ganda burat-wangi. Lengise pudak sategal.
Sumar ganda mrbuk arum.
3. Pusuh menuhe uttama. Malem sampun macawisan.
Tekening edon intaran. Bebek wangi lengis kapur.
Monmon mirah windusara. Waja meka panca datu.
Don tuwung sampun masembar. Sikapa kalawan taluh.
4. Buku-buku panyosalasan. Pagamelane salaka.
Kawangene panyelawean. Gegalenge satak-seket.
Sampun puput pabersihan. Winiletang dening kasa.
Tikeh halus wijil jawa. Lante maulat panyalin.

3. Mamarga ka setra - Pergi ke Kuburan

Indra - wangsa
1. Mamwit narendratmaja ring tapowana.
Manganjali ryagraning indra parwata.
Tan wis mrti sangka nikang hayun teka.
Swabhawa sang sajana rakwa mangkana.
2. Mangkat dateng toliha rum wulat nira.
Sinambaying camara sangkaring geger.
Panawanging mrak panangisnikungalas.
Erang tininggal masaput-saput hima.
3. Lunghang lengit lampahira ngawe tana.
Lawan Sang Erawana bajranaryama.
Tan warnanen decanikang katungkulan.
Apan leyep muksa sahinganing mulat.

4. Ngeseng Sawa - Memperabukan Jenazah.
1. Sang atapa sakti bhakti, astiti purwa sangkara.
Yan mati maurip malih. Wisesa sireng bhuwana.
Putih timur abang wetan. Rahina tatas apadang.
Titisning jaya kamantyan. Mapageh ta samadinira.
2. Nghulun angadeg ring natar. Kamajaya cintanya.
Sang atunggu parawean. Mawungu pakarab-karab.
Ilangani dasa-mala, amrtang gangga asuci.
Pamunggal rwaning wandira. Pinaka len prehanira.
3. Yan sampun sira araup. Isinikang kundi manik.
Anut marga kita mulih. Yan sira teka ring umah.
Tutugaken samadinta. Sapangruwat sariranta.
Isenikang pangasepan. Kunda kumutug samiddanya.
4. Wewangen dadi tembaga. Rurube kang dadi emas.
Arenge kang dadi wesi, Awune kang dadi selaka.
Kukuse kang dadi mega. Yeh iku manadi ujan.
Tumiba ring Mrecapada. Yeh iku dadi amretta.
5. Rikala ngayut - Buang abu ke laut.
1. Ring wetan hana telaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sarira.
Sakwehing malapataka. kalebura ring tanane.
2. Ring kidul hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
3. Ring kulon hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
4. Ring lor hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
5. Ring madya hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
Sampun ta sira abresih, anambut raja bhusana.
Binurating sarwa sari. Mrebuk arum gandaning wang.
Matur sira ring Hyang Guru. Sinung wara nugraha sira.
Keasunganing mandi swara. Paripurna tur nyewana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar