Senin, 04 Juli 2011

Bangunan-Bangunan Hindu

1. candi
artinama Candi itu berasal dari nama istri sakti siwa yang brnama Durga yang memiliki nama lain candi.
Penamaan Candi bermula dari beberapa penamaan yaitu:
a. Sesuai dengan nama yag disebutkan dalam prasasti yang diduduga ada hubungannya dengan candi tersebut.
b. Berdasarkan nama esa dimana candi itu ditemukan.
c. Berdasarkan nama yang di berikan oleh penduduk sekitar atas candi tersebut.

 Fungsi Candi
Fungsi Candi tidak hanya sekedar sebagai tempat ibadah namun candi juga memiliki fungsi lainnya yaitu fungsi, estetis politis social dan cultural.
Teori yang dikeluarkan oleh para ahli mengenai fungsi candi itu ialah:
1. Candi sebagai makam atau penanaman abu jenazah.
Ciri: alur relief prasawya.
Pendukung teori: Raffless, Wardenaar, Brumund, Vanhoevel, Groneman, dan Yzerman.
Penentang Teori: N J Krom, dan Quaritch Wales.
2. Candi mamiliki fungsi Ganda sebagai makam juga sebagai kuil.
Ciri: alur relief prasawiya dan pradaksina.
Pengemuka:Martha A Musses.
3. Candi sebagai tempat pemujaan saja.
Cirri: alir relief pradaksina
Pengemuka:Soekmono.
 Susunanan atau tata letak Candi
1. Memusat
Contoh: Candi Perambanan.
2. Membelakang”Semakin Membelakang”
Contoh: Candi Sukuh, Candi Jago, Candi Penataran.
3. Dihadapan Candi perwara
Contoh: Candi Sambisari, Candi Gunung Wukir.
4. Berjajar Kesamping
Contoh: Candi Ngawen
5. Terpencar
Contoh: Komlpeks Candi Dieng dan Kompleks Candi Gedongsongo.
 Ornamentasi
1. Hiasan Konstruktif
Bagian-bagian bangunan yang memberi bentuk profil pada candi, apabila bagian-bagian ini di kurangi maka akan mengubah bentuk Candi.
Contoh: Pilaster, profil,atefik,relung.
2. Hiasan yang bersifat keindahan
Bagian candi yang berupa hiasan, yang menambah keindahan pada candi, namun apabila hiasan tersebut tidak diadakan maka tidak akan mengurangi bentuk candi.
Contoh: Relief pada kaki candi, hiasan sulur-suluran pada kaki candi,dsb.
 Bagian-bagian Chandi
1. Secara Vertikal terbagi atas:

a. Batur
b. Kaki
Tempat manusia biasa
c. Tubuh
d. Atap

Namun sebenarnya dalam candi terdapat 3 bagian pokok
Tiga bagian pokok dalam candi ini tidak hanya sekedar simbul melainkan mengandung filsafat hidup dan berhubungan dengan sifat keagamaan.
- Atap/swarloka/alam atas
Tempat dewa-dewa
- Tubuh/bhuwarloka/alam antara
Manusia sudah meninggalkan keduniawian
- Kaki/bhurloka/alam bawah
Tempat manusia biasa,dimana nafsudan keduniawian masih mennonjol, manusia masih senang mengejar harta yang berlebihan.

2. Secara keseluruhan dapat dibedakan sebagai:
a. Selasar atau tempat berjalan mengelilingi candi.
b. Pagar langkan/balurstrade, guna untuk memahat relief tidak selalu ada dalam struktur candid an pada umumnya berfungsi sebagai batas tepi atau pagar dari selasar.
c. Relung/Ceruk, letaknya pada tubuh candi disisi luar atau pada bilik candid an berisi Arca.
d. Bilik Candi, digunakan sebagai tempat untuk meletakan arca.
e. Penampil ,bagian ini menempel pada tubuh candi memiliki atap dan kadangkala terdapat arca didalamnya sedangkan hiasan berupa kala makara yang memiliki fungsi sebagai penolak balak.
f. Jala Dara, pancuran (pintu air) yang disangga oleh mahluk kayangan yang disebut Gana.
 Arca
Arti dan Fungsi Dari Arca
1. Menggambarkan dewa-dewa yang dipuja, mempersonifikasikan Dewa yang abstrak.
2. Sebagai sarana untuk memusatkan fikiran kearah meditasi yang lebih tinggi.
3. Sebagai media pemujaan/kebaktian dengan cara mempersembahkan saji-sajian atau menyelanggarakan upacara dihadapan para Dewa tersebut.
4. Sebagi hiasan bangunan candi atau sebagai pelengkap (berupa arca dewa-dewa rendahan)’
 Selasar
1. Ciri:
Pada umumnya selasar pada candi berupa susunan Horizontal mendatar berbentuk lantai yang bisa sejajar dengan tubuh candi posisinya lebih rendah bahkan menempel pada tubuh candi tetapi letaknya tidak berada pada dalam dinding bangunan, namun berada di luar bangunan candi, dan mengelilingi halaman utama.
Pada setiap candi yang memiliki susunan seperti ini ukuran lantainya diapit oleh langkan dan bangunan pada tubuh candi, maka akan terjadi lorong yang mengelilingi bangunan candi itu pula, lantai dam lorong tersebut dinamakan Selasar.
Pada candi yang memiliki selasar tunggal maka dapat diidentifikasikan bahwa selasar itu adalah sisa dari kaki atau batur candi yang kemungkinan memang disengaja disisakan/dibuat untuk maksud tertentu. Sedang untuk candi yang berselasar ganda, selasar dapat merupakan bagian dari batur, bagian tubuh candi yang sengaja disisakan untuk selasar, selain bagian dari kaki candi. Sebagai contoh pada candi Borobudur selasarnya terdapat pada tiap tingkatan sedang pada candi Ciwa di komplek percandian Loro Jonggrang selasarnya hanya satu.
Pada dasarnya selasar dapat dimasukkan sebagai salah satu unsur/bagian dari bangunan candi meskipun bukan sebagai unsur yang pokok karena tidak harus ada pada setiap candi, demikian pula dengan pagar langkan.
Dapat dikatakan bahwa antara selasar dengan pagar langkan itu adalah satu kesatuan, dimana ada pagar langkan tentu ada selasar namun bila ada selasar belum tentu ada pagar langkan. Contoh hal yang kedua adalah pada candi Plaosan Lor, dimana pada selasarnya tidak terdapat pagar langkan.
Suatu hal yang menarik, sementara selasar memiliki peranan yang cukup penting dalam hal-hal tertentu tetapi ternyata tidak semua bangunan yang sejenis menggunakan selasar. Apakah adanya selasar ini hanya karena kehendak si perencana pembangunan candi itu atau ada pertimbangan lain yang lebih dalam, atau kurang perhatikan lagi kepentingannya ?
Demikianlah tinjauan secara sepintas terhadap bentuk fisik dan fungsi selasar sejauh saya ketahui.

2. Fungsi:
a. fungsi religius dan fungsi yang berkenaan dengan bangunan candi itu. Fungsi religius dari selasar adalah sebagai sarana jalan untuk melakukan pradaksina dan atau prasawiya dimana dengan melakukan pradaksina atau prasawiya itu dapat kita ikuti atau ketahui jalan cerita yang biasanya dilukiskan dalam bentuk relief pada pagar langkan atau dinding tubuh candi.
b. Fungsi yang kedua dapat disebutkan sebagai perluasan atau sisa bidang mendatar dari kaki candi atau bagian lain untuk menempatkan pagar langkan.
Kedua fungsi ini belum tentu dimiliki setiap kuil atau candi, karena candi yang berselasar belum tentu berpagar langkan tetapi candi yang berpagar langkan dapat dipastikan mempunyai selasar.

 Pagar Langkan
a. Letak
merupakan bagian dari candi pada umumnya terletak pada kaki candi atau tubuh bagian bawah. Namun tidak semua candi memiliki pagar langkan biasanya candi yang memiliki fungsi sebagai kuil yang memiliki pagar langkan.meskipun pagar langkan dikatakan sebagai pelengkap pada candi namun dengan adanya pagar langkan sebagai satuan pelengkap dari candi yang dilemgkapi dengan relief maka kita kita dapat lebih banyak tahu perjalanan hasil kesenian dan keadaan sosial,ekonomi, keagamaan pada masa dimana candi itu dibuat.
b. Fungsi
1. Untuk perluasan candi guna penempatan relief baik ornamentasi ataupun cerita-cerita.
2. Batas atara daerah yang suci dan daerah yang profan
3. Untuk mengetahui apakah candi itu merupakan candi pemujaan dewa atau pemujaan leluhur dengan cara kita melihat relief yang di pahatkan apakah alurnya prasawiya (pemujaan leluhur), atau paradaksina (pemujaan terhadap dewa)
c. Bentuk
Bentuk pagar langkan ini berupa bangunan didinding yang tidak terlalu tinggi dan mengelilingi bangunan candi tetapi tidak terpisah dengan candi karena dihubungkan dengan selasar, pagar langkan umumnya dibangun tepat diatas ujung selasar yang menjorok keluar tubuh candi.


 Lingga
a. Bentuk
Bentuk lingga menyerupai tugu yang tegak dengan ukuran yang tidak sama antara satu dengan yang lainya karena besar kecilnya Lingga tergantung dengan besar Lapik atau Yoni yang menyangganya.
Lingga terbagi dalam tiga bagian yang merupakan lambang dari tiga Dewa utama agama Hindu Brahma, ciwa, dan wisnu susunanya sebagai berikut:
1. Brahmabangga
Terletak pada Bagian bawah berbentuk segi empat hal ini menunjukan sifat dewa Brahma yang memiliki empat muka
2. Wisnubangga
Terletak pada bagian tengah yang berbentuk segi delapan yang menunjukan sifat dewa Wisnu yang dapat berawatarakedalam delapan perwujutan atau penjelmaan.
3. Ciwabangga
Terletak pada bagian atas dan sebagai puncak berbentuk setengah lingkaran yang menunjukan sifat dewa siwa yang kekal abadi

Konsep Lingga secara Vertikal juga dapat dihubungkan dalam konsep kosmis yang dianut oleh agama hindu. Yang digambarkan sebagai berikut:
1. Segi empat
Brahmabangga disejajarkan dengan Bhurloka yang artinya alam semesta atau kamadhatuyang maksudnya keinginan atau nafsuduniawi.
2. Segi delapan
Wisnubangga yang disejajarkan dengan Bhuwarloka atau wujud yang sekarang sejajar dengan Rupadhatu.
3. Bulatan atau setengah lingkaran
Ciwabangga yang disejajarkan dengan Swarloka atau alam akirat yang kekal abadi sehingga disamakan dengan Arupadhatu yang berarti tidak berwujud.
Catatan: selain bentuk diatas Lingga sering juga digambarkan dalam bentuk kelamin laki-laki yang dilengkapi dengan Yoni sebagai symbol kelamin perempuan. Dan dalam penyatuan kedua kelamin ini dipuja oleh masyarakat untuk memperoleh kesuburan.
b. Bahan Pembuatan
1. Lingga Batu
Contoh: Lingga candi wukir,lingga candi Badut, lingga candi Sambisari, lingga candi Ijo, dll.
2. Lingga kaca
Disimpan di museum kantor suaka Peninggalan sejarah dan purbakala di Jawa Tengah di Prambanan.
3. Lingga logam
Contoh: di temukan di daerah Bumisegoro kawasan candi Borobudhur
c. Fungsi
 Sebagai pengganti arca perwujudtan Ciwa. Biasanya diletakan di dalam bilik sebuah candi yang bersifat Ciwa atau Hindu.
 Merupakan perwujutan dari darma raja yang mendirikan dan dharma itu harus tetap dipelihara oleh penggantinya. (dalam prasasti Lolei).
 Pendirian lingga berhubungan erat dengan ditaklukannya suatu daerah (isi dari salah satu prasasti di Kamboja).
 Pengukuhan raja atas kedudukannya diatas tahta.
 Didirikan untuk memperingatai peristiwa penting seperti upacara manusuk sima.
 Sebagai sarana untuk pemujaan terhadap Ciwa atau roh leluhur raja yang dihormati.

d. Sejarah
Dalam mitos agama hindu lingga terjadi akibat adanya pertikaian antara Brahma dengan Wisnu yang berselisih mengenai siapa yang memiliki kedudukan lebih tinggi dan berkuasa. Dalam pertikaian tersebut kebudian Ciwa muncul dalam wujud Lingga yang dikelilingi oleh ribuan macam nyala api yang menyerupai nyala api alam, tidak memiliki permulaan, pertengahan atau akir yang merupakan asli dari semua benda. Pada saat itu Brahma merubah bentuknya menjadi angsa jantan dan wisnu membentuk tubuhnya menjadi babi jantan.mereka masing-masing berlomba-lomba mencapai puncak dan tiang tersebut namun setelah beribu-ribu tahun lamanya mereka berusaha mencapai puncak dan dasar tiang . mereka pada akirnya mengakui kegagalanya dan mereka kemudian menyembah sujud terhadap dewa tertinggi yaitu dewa ciwa.
e. Arti kata Lingga
Nama Lingga memiliki beragai macam arti yang terkandung didalamnya antara lain:
1. Tanda, contoh, alamat, jenis
2. Perbedaan
3. Persembahan
4. Phallus, kemaluan laki-laki.

 Dekorasi dan Ikonografi
Dekorasi dapat artikan pula sebagai hiasan, ornamentasi, pada bangunan kuno sama halnya candi dekorasi selalu dihadirkan sebagai penyampai pesan secara simbolik.
Dekorasi itupun dibedakan dalam berbagai ukuran dan bentuk yaitu Dekorasi Naratif dan non Naratif. Dekorasi non naratif merupakan dekorasi yang semata-mata hanya sebagai hiasn dan pelengkap untuk memperindah Candi, sedangkan Dekorasi yang bersifat naratif, selain digunakan sebagai hiasan dekorasi ini juga digunakan sebagai penyampai pesan-pesan dari para seniman terhadap penikmat seni dalam bentuk relief baik secara menyeluruh,synopsis atau bahkan perpanil.
Dipandang dari nilai kereligiuan maka kedua jenis dekorasi dapat dibedakan menjadi dua katagori:
1. Dekorasi Profan
Relief yang yang di pahat semata-mata untuk kepentingan keindahan tanpa melibatkan latar belakang religius.
2. Dekorasi Sakral
Relief yang dipahat dengan tujuan religi yang memuat kaidah-kaidah religi.
 Ikonografi
 Perbedaan Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Candi Jawa Tengah Candi Jawa Timur
Arah Candi Menghadap ke Timur Arah CAndi menghadap ke Barat
Bangunan Candi terbuat dari batu Andesit (batu kali ) Bangunan Candi terbuat dari batu bara
Bentuk Candi Tambun Bentuk Candi ramping Tinggi
Relief candi Realis Bentuk Candi Simbolis
Induk Candi tepat ditengah Indok candi menjorok ke belakang
Atap candi berundak-undak Atap candi seperti pohon cemara

Candi-candi di Jawa
A. Candi peninggalan Mataram Kuno/ Medang Kamulan
1. Candi sukuh
2. Candi Prambanan
3. Kompleks Candi Dieng
a. Candi arjuna,semar dan gatotkaca
b. Candi bima
c. Candi punta dewa
4. Candi Kalasan
5. Candi sari
6. Candi Sewu
7. Candi Lumbung
8. Bubrah
9. Candi Borobudur,
10. Mendut dan
11. pawon
12. Candi plaosan lor dan kidul
13. Candi keraton ratu boko
B. Candi peninggalan Singosari
1. Candi kagenengan atau candi singosari
2. Candi tumpang atau candi jago
3. Candi Badut
4. Candi Kidal
C. Candi peninggalan kerajaan majapahit
1. Candi Sumberjati
2. Candi Rimbi
3. Candi penataran
4. Candi bajang ratu dan kompeks istana maja pahit
a. Candi peninggalan Mataram Kuno/ Medang Kamulan

1. Candi sukuh
1. Letak Geografis
Terletak di lereng barat gunung lawu tepatnya di desa sumberejo, dengan ketinggian 910 M diatas permukaan laut karena di desa ini kaya akan air maka diperkirakan dibelakang ada patirtan suci.
- Dilereng barat terdapat empat bukit:
1. ukit sukuh sebagai istana raja brajadenta
2. bukit tambak istana raksasa braja musti
3. Bukit pringgodani gathotkacadewi arimbi

- G lawu di sampakan dengan penempatan Meru di India
o. Rumpalan G.kathong/G.lawu/G.berapi ada beberapa tulisan yang menyebutkan meletusnya gunung G.lawu
o. Bukit pada ajaran hindu dianggap sebagai bukit suci ( Holly Mountain)

- Candi Sukuh menghadap barat
Pengkiblatan ketimur ke puncak gunung lawu orientasai karena gunung dianggap sebagai persinggahan para dewa dan tempat arwah nenek moyang.
- Pegunungan di gunakan konsep tempat persinggahan para Dewa yaitu pada dasar Dieng
- Letak berada di titik tengah
1. Argo Dimitri
2. Argo Dalem
3. Argo Tiling
4. Argo puruso
( gunung yang menempati 4 penjuru mata angin)
Terdapat punden berundak ada sendang derajat ditengah-tengah sunbgai dengan air tak pernah kering.
Hubungan dengan bumi raksasa melawan tutuka /werkudara/ bima diadakan upacara didesa pacet T.wargu

Arca yang berkaitan.:
1. Bima dalam ukuran besar diletakan di solo ,ukuran kepala 40 cm.
2. Relief Cerita Bima pungkur dewa ruci Sudamala di museum Eropa

Candi sukuh
*. Latar Histori
Gapuro
Gapuro Kiri
- berdiri abad 15 dengan petunjuk angka tahun “candra sengkolo memet” berada di sebelah kiri , relief menggambarkan raksasa yang menggigit Ekor ular naga yang di baca “gapuro buta anahut buntut”
Perincian:
Gapuro :9
Buto : 5
Anahut :3
Buntut :1
karena candra sengkala dalam pembacaannya di baca dari belakang maka tahun yang diketahui 1359 tahun dimana tahun tersebut dibuat Gapuro.
1. Di bagian tengah terdapat kepala kala depan dan belakang
Gapuro kanan
Terdapat condro sengkolo yang menggambarkan Raksasa telanjang dengan ujung penis terdapat tengkorak menelan sesuatu yang Nampak seperti gambar bayi dengan posisi menguntalnya malang/ horizontal sebelah terdapat burung. Candra sengkala ini sering di sebutkan:
Gapuro Buto Nguntal Wong/ Gapuro Buto mangan Jalmo
Gapuro : 9
Buto : 5
Mangan: 3
Jalmo : 1

Di bagian bawah lorong pintu masuk terdapat relief yang digunakan sebagai media uji keperawanan yang di gambarkan alat kelamin laki-laki berbentuk esektur yang mengarah ke perempuan “palus” di bingkai dengan tali yang melingkar yang menyimbulkan sebuah persetubuhan simbul ini sebagai simbul kesuburan . jika seseorang yang tidak perawan melewati atau melangkai relief ini maka selendang yang telah dipakai akan robek, hal ini menyimbulkan sobeknya selaput dara.

Halaman
1. Halaman 1
- Terdapat umpak ukuran besar , umpak biasanya di gunakan sebagai tempat pelandasan tiang, karena umpak di halaman pertama ukuranya sangat besar maka diperkirakan pada candi sukuh dulu terdapat tiang yang cukup besar.
- Terdapat serpihan kemuncak
- Relief balok
a. Balok pertama
Satria bertombak yang menunggang kuda dengan membawa paying .
Diperkirakan orang dalam relief seorang dari kasta satria karena pria ini membawa paying dan tombak. Dan pada jaman dahulu satria yang membawa tombak biasanya akan turun di medan laga.
b. Balok ke dua
Dua tokoh menaiki Gajah dengan membawa genta,tongkat juga benda tajam dengan ujungnya lancip. Hal ini juga menggambarkan tentang keberangkatan menuju medan perang.
c. Sapi yang Nampak di kejauhan
d. Babi hutan
NB:dari relief pada ke empat balok ini merupakan gambaran Fauna yang hidup di sekitar candi pada tahun dimana candi itu dibuat dan masih dipergunakan.

2. Halaman 2
a. Pintu gerbang 1. Berbentuk piramida seperti di tambal dan singkron dengan candinya.
b. Terdapat arca telanjang yang menggambarkan raksasa yang membawa terompet yang berasal dari tanduk.
c. Tanah pada halaman kedua dibedakan dengan tanggul batu.
d. Dwarapala tidaklah proposional yang penting sudah terpenui pokok-pokok dan bentuknya.

3. Halaman 3 atau disebut juga halaman utama
a. Terdapa arca sepasang garuda dengan wujud manusia setengah binatang.
- Garuda Betina
Ciri:
1) Kaki binatang terdapat jalu
2) Memakai Badong /penutup kemaluan perempuan yang terbuat dari logam, hal ini berfungsi untuk mengurangi angka pemerkosaan dan perselingkuhan.
- Garuda Jantan
1) Dari belakang Arca garuda dilukiskan sdang memikul hasil bumi produk pangan penduduk sekitar candi sukuh yang teknik mengambil hasil panennya dengan cara mengangkut dan memikul
2) Relief pada gapura

- Dwarapala
- Relief
1. Relief binatang (gajah seno)
Bergambar badak dengan tanda babi hutan punya tanduk yang dianggap sebagai hewan mitologis lembut dan babi hutan, gajah dengan acecoris mirip milik bangsawan dan terdapat gading.di depan gajah terdapat relief jantung (bima yang sedang mengoyak bungkus bima)
2. Relief Sudamala
Relief yang melukiskan manusia setengah dewa, terjadi kandiran tragis kutuk dewa siwa karena mendengar berita perselingkuhan antara dewi uma dengan dewa wisnu, dalam relief ini dewi uma dikutuk un tuk turun kebumi menjadi raksasa yang bernama Ranini/ durga di dunia dewi durga bertempat tinggal di pasetra ganda mayu atau disebut juga dengan sebutan pasetran ganda mayit. Kutuka ini dapat sirna jika diruwat oleh si bungsu dari pandawa “Sadewa”
3. Relief kedua menceritakan sebuah Peristiwaa
Dimana ketika dua bidadara citragada dan citrasena tengah lewat disaat dewa siwa dandewi uma sedan bercengkraman, hal tersebut membuat dewa siwa murka dan mengutuk kedua bidadara tersebut menjadi dua sosok raksasa yang bernama Kalantaka dan Kalanjana selama 12 tahun, dan kutukan ini dapat berakir setelah mendapat ruwat dari Pandawa.dalam perang baratayudha kalantaka dan kalanjana berpihak kepada kurawa hal ini menyebabkan pandawa kalah, sehingga akibat dari kalahnya pandawa oleh kalantaka dan kalanjana dewi kunti meminta bantuan kepada Ranini di pasetra gandamayu, dewi kunti pergi ke pasetra gandamayu di sertai oleh abdi setia mereka yang berjumlah empat orang, semar,gareng,petruk,bagung, yang lebih dikenal dengan sebutan punokawan. Di pasetra ganda mayu Ranini di dampingi oleh nikalika”nini towok”, ranini bersedia membantu pihak pandawa namun bantuan itu tidaklah Cuma-Cuma karena ranini meminta syarat kepada Kunti untuk mau mengorbankan Sadewa untuk meruwat dirinya.
Untuk kelancaran dari ruwatan dari ranini, ranini meminta nikalika untuk merasuki dewi kunti, sehingga dewi kuntipun berlaku memaksa Sadewa untuk mau menuruti kehendak Ranini untuk bersedia menjadi tumbal.

4. Dalam relief ini menggambarkan Sadewa yang tengah diikat dalam Randu Alas di setra ganda mayu digambarkan pula di relief malam dengan keluarnya hantu, dan ranini membawa pedang besar untuk membunuh sadewa, gambar semar yang memakai topi membaca mantra dengan beras kuning di pedang besar muncul kambing. Hal ini menceritakan ketika ranini hendak menebas leher Sadewa Semar memantrai Sadewa dengan syarat beras kuning agar Sadewa tidak jadi mati dan Berubah kambing yang menjadi tumbal.
5. Jasa meruat ranini Sadewa diberikan hadiah oleh Ranini berupa senjata yang bernama Sudamala kita bisa lihat di relief yang semula tempat ranini yang berupa tanah pakuburan kini di relief di gambarkan menjadi taman indah, sedangkan sosok ranini yang semula adalah raksasa kini berubah menjadi sosok wanita cantik.
NB: Sudamala artinya meniadakan bahaya
6. Sadewa di minta berjalan ke utara oleh dewi Durga sampai perang alas, mendapatkan Jodoh. Diapun menuruti kata-kata ranini dan berjalan kearah utara sampai perang alas dan di tengah perjalanan dia bertemu denan seorang rsi yang bernama Candra Peta dengan cirri fisiknya kepalannya yang memakai sorban, rambut panjang diikat dengan kain buta, dia memiliki dua orang anak yaitu ni soka dan ni padapa, dan ki Candra Peta menjodohkan kedua putrinya tersebut kepada Sadewa, namun setelah Nakula sampai di tempat Candra Peta Sadewa memintaRsi Candra Peta untuk menjodohkan ni Padapa kepada kembaranya Nakulo.
7. Dalam relif ini menceritakan Bima dan Sadewa menghadap kepada raksasa Kalanjana dan kalantaka, dengan kuku pancanaka milik Bima raksasa Kalantaka mati terbunuh, sedang raksasa kalanjana terbunuh oleh Sadewa. Dengan kematian dua raksasa ini maka keduanya berubah lagi kembali menjadi dua bidadara .

Candi Utama
Bentuk berupa Piramida terpancung
- Terdapat sepasang pendopo teras yang tengahnya terdapat perapen.
- Terdapat relief bima takwa yang terletak ditempat pembakaran.
- Relief Samudra Mantana (raksasa menggaruk ular)
Gambar sepasang istri kadru Santana pengadukan cmandara di tumpangkan di atas kura-kura membanya dililiti naga sisi kanan dewa dan kiri dewa, dan dewa wisnu berada diatas yang berfungsi sebagai pemberat, kemudian dari samudra muncul kuda, skemudian muncul sebagai perguncingan dan pembicaraan winata dan kagru istri dari kasiapa yang belum memiliki anak.mereka hendak meminta anak kepada suaminya, karena keduanya mandul maka oleh suaminya keduanya diberikan telor, winata di berikan tiga telor oleh kasiapa sedang kagru diberikan 100 telur.
- Telur pertama Winata dipecahkan oleh kilat, sedang telur kedua yang dia miliki dia pecahkan sendiri sebelum waktunya karena dia tidak sabar lagi ingin memiliki anak. Sehingga telur kedua tersebu tidak memiliki bentuk yang sempurna dan hanya berupa manusia dengan badan separuh. Akibat hal itu telur yang belum waktunya menetas tersebut marah terhadap ibunya karena dia lahir cacat, sehingga melontarkan kutukan. Kutukan itu berbunyi bahwa ibu mereka beserta anaknya akan menjadi budak dari anak tirinya. Sedang telur ketiganya menetas sempurna dan berwujud Burung garuda.
- Sedang telur kagru yang 100 buah tersebut menetas dalam bentuk ular

Auweswara kuda laut muncul berwarna putih
kadru dan winata saat itu mengadakan taruhan mengenai warna kuda auweswara jika warna kuda itu putih maka winata yang menang dan jika kuda auweswara berwarna hitam maka Kadru yang menang, dan barang siapa yang kalah maka dia dan juda anak-anaknya akan menjadi budak siapa yang akan memenangnkan taruhan itu. Karena tidak mau untuk menjadi budak dengan tipu muslihatnya kadru meminta anak-anak ularnya untuk menyembur kuda auweswara sehingga warna kuda yang muncul tidaklah berwarna putih melainkan berwarna hitam. Karena kuda yang muncul ke permukaan berwarna hitam maka winata sesuai dengan kesepakatan keduanya menjadi budak dari kadru. Dan semua itu dapat di tebus dengan air amerta dengan pengadukan di samudra, ketika pengadukan samudra air amerta keluar di dekat raksasa dg di dapat oleh wisnu. Garuda bebaskan ibunya dengan bebasnya amerta dari wisnu dengan menyerahkanya garuda sebagai wahana dewa wisnu dan memberikannya kepada ular. Setelah mendapatkan air amerta dari Garuda sebelum meminum amerta kaliya berniat mandi dan meninggalkan air amerta, karena air amerta itu di tinggal. Dan dibawa kabur oleh garuda kembali ketika terbang air amerta itu jatuh dan menetes padang ilalang dan di jilati oleh ular kaliy, akibat menjilati tetesan air di ilalang maka lidah ular kalia terbelah menjadi dua (legenda ular gimati)
- Arca Garuda yang mulutnya terbuka karena kelaparan sampai ketiduran, tidak tau kalo itu garuda danmengira itu jalan besar maka brahmana itu masuk kedalam mulut garuda, hal itu membuat garuda merasa perutnya panas dan menanyakan kepada kasiapa . dan kasiapa menjawab kalo garuda lapar disuruh memakan gajah atau kura-kura
- Kutukan dua orang yang dikutuk sehingga diterbangakan dijatuhkan dan dimakan.
- Relief dewa ruci melawan bima dibawa lengkung kala mrega rusa yang diwujutkan dengan gambar kepala kala dengan tubuh rusa.
- obelisk media mentransformasi air suci dari air mengalir media penyucian.
Candi Induk Piramida
- diatas terdapat lingga atau palus
- Kota lerengn gunung lawu
- Terdapat dua punden yang merupakan simbul dari bumi dan piramida sebagai simbul Yoni yang ditancapkan.
- Tersimpan lima takwa
- Siwa sebagai dewa mata hari
- Terdapatrelief tokoh onani penis terdapat empat lintingan kecil yang berfungsi untuk memantapkan seksual, kemaluan yang ditindik.
- Di candi sukuh terdapat gambar banyak palus karena digunakan untuk pemujaan terhadap kesuburanterhadap dewa matahari
- Relief pandai besi.
1) Dengan semua macam alat yang digunakan oleh pandai besi yang hal ini juga sebagai petunjuk bahwa pada masa candi ini di buat penduduknya juga ada yang bekerrja sebagai pandai besi, selain itu juga menunj7ukan bahwa penduduk itu dalam bertami juga ..
2) Menempa dengan tangan alat produksi
3) Di tengah relief terdapat patung ganesya dengan memakai mahkota di kepalanya tanpa pakaian elias telanjang, tangan memegang anjing. Hal ini dikaitkan dengan pandai besi Vitneswara( meniadakan bahaya) karena pandai besi pada jaman itu di anggap sebagai pekerjaan yang cukup bahaya.
4) Terdapat candra sengkala pula pada relief ini.
Gajah wingku anahut buntut = 1378 saka
Bathara guru anahut buntut = 1369 saka

2. Candi Prambanan

- Letak Geografis: Candi prambanan merupakan candi kerajaan yang letaknya di perbatasan jawa tengah dan Jogjakarta, yaitu 17 km berada di sebelah barat DIY Jogjakarta dan 53 km sebelah Timur kota solo.
- Di sekitar kompleks candi terdapat sungai yang di sebut dengan nama kali opek berhubungan dengan candi lain.kali opak candi prambanan dan di menangkan oleh prambanan.
- Daerah sekitar candi perambanan merupakan daerah yang rata permukaan halaman terdapat teras halaman 3 utama lebih tinggi dari pada halaman yang lainnya, di halaman utama ini terdapat 16 buah candi dengan berbagai macam ukuran 3 diantaranya merupakan candi induk yaitu dengan urutan Brahm-siwa-wisnu.
- Di candi perambanan ini candi siwa dibuat paling besar diantara candi-candi lainya karena prambanan merupakan candi penganut hindu siwa, siwa di sini sebagai dewa utama.
- Dalam prasasti Siwa graha menyebutkan bahwa candi siwa tidak diletakan di tengah-tengah kompleks prambanan “brasmakama” dengan alasan titik tengah merupakan pusat kekuatan magis.
- Pada kompleks candi prambanan di depan candi dewa utama terdapat 3 jandi yang di bangun tepat di depan candi dewa yang merupakan candi wahana dari ke 3 dewa tersebut dan dinamai dengan kaitan candi induk.
1) Di depan Candi Brahma terdapat candi hamza yang berupa Angsa yang merupakan wahana dewa Brahma.
2) Di depan Candi Siwa terdapat candi Nandi yang berupa lembu jantan yang merupakan wahana dewa Siwa
3) Di depan Candi wisnu terdapat candi Garudea yang berupa garuda yang merupakan wahana dewa wisnu.
- Candi apit yang terdapat di kanan kiri
- 8 candi lain di tengah-tengah ketir diletakan di tengah karena berfungsi sebagai penghalang kekuatan gaib yang mengganggu halamanutama.
- Terdapat 4 candi di pojok berfungsi sebagai candi patok.
- Di luar candi utama terdapat candi perwara jumlah ratusan,dengan pola memusat/lay out konsentris
NB: candi Siwa di pugar sejak Hindia belanda , desember tahun 1953 pemugaran candi baru saja diresmikan, karena pada tahun itulah semua candi baru di satukan secara lengkap.
- Penampakan Candi.
1. Bagian bawah :terdapat batur candi seburman permukaan tanah yang berupa jala dara (pancuran air)
2. Diatas terdapat pagar dengan kemuncak dengan motif buah kelasan/ motif amalaka dilengkapi dengan relief/ pagar langkan sebagai penghubung antara gapura dengan gapura, sehingga bagian dalam tidak Nampak, namun banyak juga candi di Indonesia yang tak memilikin pagar langkan.
3. Pada batur candi terdapat pahatan ornament dengan gambar khas prambanan dengan cirri pohon pengatif telung ?kalpataru di dalamnya terdapat siwa dibawah kalpataru juga terdapat gambar manusia setengah burung seperti ornament pada candi badut yaitu gambar dari kinara dan kinar, terdapat gambar sederet jambangan berisi harta benda.
4. Kalpataru merupakan gambar pohon berdaun lebat tidak berbatang kuat diatas gambar kalpataru terdapat gambar paying burung dan bermacam-macam burung.juga Terdapat relief jaladara dan gajah mina yaitu gambar mahluk setengah gajah dan setengah ikan.
5. Di pagar langkan terdapat relief di dalam relung dan masing-masing relung dan ma dinding terdapat relief yang mencerikan adegan tari tandava yang ditarikan dewa siwa terhadap alam.
6. Gapuro di penjuru mata angin meniti tenggara diapit oleh pipi tangga / ika lemah bentuk spesifik masa kurang lebih sama dengan 10 Candi badut kanan kiri terdapat miniature candi dramastana
7. Di balik pagar langkan terdapat relief dua muka yang panjang mengisahkan cerita Ramayana dimana wisnu sebelum ke dunia.
8. Di pagar langkan terdapat wisnu sebagai kresna relief searah dengan jarum jam “pradaksina” pemujaan arca di bilik sambil memutar.
Ganesa
Agastya Durga
Siwa

9. Relief kaki candi kemuncak kebanyakan di pahatkan Asta depacakra/ delapan dewa penjuru mata angin, dewa-dewa lokapala. Arca siwa berdiri pada pedestal berbentuk yoni, arca disini di setarakan dengan Yoni.
10. Tubuh candi seolah di beri sabuk /peding. Deret relief di relung dan ceruk dan terdiri dari dua tingkat
11. Ada 3 tingkat atap candi di buat memuncak, masing tubuh candi dibuat mencorok / penampil bagian atas, penampil kepalakala berukuran besar dan terdapat kepalamakara yang kepalanya besar dan dibawah ada orang yang bertapa mudra.
12. Kinara dan kinari bisa diganti dengan posisi bermacam-macam di lubang relung terdapat gambar singa.
13. Diatas terdapat vislade “relief rangkaian bunga antefik pancuran tapi pancuran tersebut bukan berbentuk kepala kala
14. Pipi ika lemah (sulur berbentuk makara / kepala singa) dengan hias sulur gelung.


3. Kompleks Candi Dieng
Arti kata dieng berasal dari kata dihyang menurut DR.JJ Brandes
a. Candi arjuna,semar dan gatotkaca
b. Candi bima
c. Candi punta dewa
4. Candi Kalasan
1. Lokasi
Candi Kalasan atau Candi Kalibening[1] merupakan sebuah candi yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha terdapat di desa Kalasan, kabupaten Sleman, provinsi Yogyakarta, Indonesia.
Candi ini memiliki 52 stupa dan berada di sisi jalan raya antara Yogyakarta dan Solo serta sekitar 2 km dari candi Prambanan.dan sebelah timur kota Jogjakarta
2. Sejarah penemuan
Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini. Selain candi Kalasan dan bangunan - bangunan pendukung lainnya ada juga tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa.


Candi Kalasan yang berada tidak jauh dari Candi Prambanan
Berdasarkan prasasti Kalasan bertarikh 778 yang ditemukan tidak jauh dari candi ini menyebutkan tentang pendirian bangunan suci untuk menghormati Bodhisattva wanita agama Budha Mahayana, Tarabhawana dan sebuah vihara untuk para pendeta.[2][1] Penguasa yang memerintah pembangunan candi ini bernama Maharaja Tejapurnapana Panangkaran (Rakai Panangkaran) dari keluarga Syailendra. Kemudian dengan perbandingan dari manuskrip pada prasasti Kelurak tokoh ini dapat diidentifikasikan dengan Dharanindra[3] atau dengan prasasti Nalanda adalah ayah dari Samaragrawira[4]. Sehingga candi ini dapat menjadi bukti kehadiran Wangsa Syailendra, penguasa Sriwijaya di Sumatera atas Jawa.[5]
3. Bagian-bagian candi
- Atap
Pada atapnya berbentuk prisma segi delapan dengan mahkota-mahkota stupa diatasnya. Stupa yang peling kecil member hidup bagi atap-atap yang diatas.atapnya terdiri dari 3 tingkat. Atap paling atas terdapat 8 ruang, atap tingkat dua berbentuk segi 8, sedangkan atap paling bawah sebangun dengan candi berbentuk persegi 20 yang dilengkapi kamar-kamar setiap sisinya.
- Relief
a. Denah candi kalasan berbentuk bujur sangkar dengan penampil-penampil di tiap sisinya begitupun dengan denah tubuh candinya Pada bagian selatan candi terdapat dua relief Bodhisattva.
b. Kemegahan candi kalasan terletak di luar candi bukan di bilik candi karena keindahan yang terdapat pada atap karena arca relief yang menghiasi.
c. Terdapat relief di timur dan selatan yaitu pada pagar langkannya.
d. Di selatan terdapat hiasan relung kala-makara yang memiliki keistimewaan.makara itu ada yang menghadap kekeluar di atas kepala kala makara terdapat lukisan berbentuk atap candi yang menjulang tinggi.
e. Terdapat relief Bidadari bidadari yang menaburkan bunga kedunia dibawahnya, relief ini dikerjakan sangat teliti
- Arca
Arca induk menduduki tempat yang terhormat yang besar sekali dalam bilik tengah yang hilang ukurannya kurang lebih 6 meter dibuat dari batu monolit.begitupun arca-arca yang terdapat di relung-relung..arca yang hilang di candi ini ialah sebuah arca yang terbuat dari perunggu.
- Keadaan
a. Candi kalasan ini sama seperti candi-candi jawa tengah lainya seluruh bagian candi di lapisi oleh “bajralepa” baik berwarna banyak atau putuh mengkilap.
b. Candi kalasan yang Nampak sekarang bukanlah candi kalasan yang asli karena candi ini sudah mengalami perbaikan karena kita bisa lihat dibagian dalam lapisanya lebih tua dari pada di luar candi, cara perbaikan ini di sebut dengan “par emboitement”.
Salah satu relung di Kalasan menggambarkan Kala dan pemandangan dewata di swargaloka
Ukiran kepala raksasa Kala di dinding selatan



c. Candi sari


Candi Sari yang berada di dekat candi Kalasan

1. Lokasi:
Candi Sari adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi Sari, Candi Kalasan dan Candi Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut dari kota Yogyakarta, dan tidak begitu jauh dari Bandara Adisucipto.
2. Sejarah
Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan bentuk yang sangat indah.
3. Bagian candi
- Candi sari merupakan bangunan yang berloteng bagian bawahnya terdapat relung yang di gunakan sebagai tempat arca dewa yang kini telah hilang
- Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang nampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.
- Bagian bawah terdiri dari tiga kamar Beberapa ruangan bertingkat dua berada persis di bawah masing-masing stupa, dan kamar itu diperkirakan dipakai untuk tempat meditasi bagi para pendeta Buddha (bhiksu) pada zaman dahulunya. Candi Sari di masa lampau merupakan suatu Vihara Buddha, dan dipakai sebagai tempat belajar dan berguru bagi para bhiksu. Namun ada pendapat lain diam di atas arca itu dianggap tidaklah sipan maka ada yang berpendapat bahwa loteng itu dipergunakan sebagai perpustakaan
4. Relief
- Bentuk bangunan candi serta ukiran relief yang ada pada dinding candi sangat mirip dengan relief di Candi Plaosan.
- Dinding luar berhiaskan pahatan widyadara dan widyadari yang berdiri dalam sikap yang sangat menarik langgamnya masih berupa langgam Gupta, yang di india masih berkembang di Mathura,Ellora dan Ajanta.

d. Candi Sewu
1. Sejarah
Dibangun sekitar tahun 1092 saka candi sewu ini merupakan salah satu dari abad ke-8 nama asli dari can di ini “ri grhanya Manjus ” (Rumah dari Manjusri). Manjusri adalah satu Boddysatwa di agama Budha. Candi Sewu mungkin bangun pada akhir dari administrasi Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746 – 784 ) adalah satu Raja populer dari Kerajaan Mataram kuno. Candi mungkin diperluas dan di bangun secara lengkap pada masa ketentuannya Rakai Pikatan, satu raja dari dinasti sanjaya pangeran menikah dengan permaisuri Budha dari dinasti sailendra, yaitu pramodawardani Kebanyakan dari pokoknya tersisa agama tua mereka setelah kembali dari dinasti Sanjaya. Salah satu dari beberapa candi tinggalan Mataram ialah Candi Prambanan yaitu Candi Hindu, para tetua menyarankan bahwa Hindu dan Budha hidup dalam keselarasan pada era yang candi dibangun. Skala dari kompleks candi menyarankan Candi Sewu adalah satu Candi Budha Kerajaan dan adalah satu lokasi religius penting dari masa lalu. Candi ditempatkan pada dataran tinggi prambanan itu di antara slop kemiringan sebelah timur yang selatan dari gunung merapi dan bukit barisan Sewu di dalam selatan,
2. Letak
800 m kearah utara dari prambanan dijawa tengah . Candi Sewu sebenarnya Candi Budha paling besar di wilayah jawa tengah setelah Borobudhur . Candi Sewu di bangun setelah " loro jonggrang ".Walau mula-mula hanyalah sekitar 257 candi ,arti nama candi sewu itupun yang dari nama di Jawa diterjemahkan sebagai ' seribu candi,' yang dimulai dari lokal populer cerita rakyat loro jongrang Nama asli dari senyawa candi ini mungkin Manjusrigrha .
3. Riwayat penemuan

Utama candi Sewu sebelum rekonstruksi.
Candi ini di ketemukan pada tahun 1960, mendekati sekarang perbatasan dari propinsi Yogyakarta dan kabupaten klaten di Javjawa tengah, banyak situs arkeologis yang tersebar hanya beberapa mil, hal ini member pengertian bahwa area ini adalah satu tempat penting,dalam bidang keagamaan, politis, dan pusat perkotaan.
4. Kompleks candi

Pandangan antena dari candi kompleks Sewu pertunjukan mandala

Image dari Boddhisattva pada tembok dari perwara candi
- Kompleks candi adalah Budha paling besar kombinasikan pada area Prambanan, dengan alasan-alasan segi-empat ukuran itu 185 di wilayah selatan dan utara dan 165 wilayah dan barat timur.
- Bangunan ditemukan pada semua empat titik utama, nila bagaimanapun dari rekaletak dari kompleks candi, bangunan utama ditempatkan pada sisi timur. Masing-masing bangunan dijaga oleh arca kembar dwarapala. dua arca Dwarapala di sisi dalam tidak menghadap pengunjung, melainkan mengapit yang disebut juga dwarapala jagongan, dwarapala ini tidak sama dengan yang lain karena terdapat upawita berbentuk naga dan dwara pala ini juga memegang naga dan ikat kepala naga.
- replika dapat ditemukan di kraton jogja Ada sebanya 257 bangunan kompleks pada satu mandala pola sekitar halaman utama sebagai satu ekspresi dari pandangan dari alam raya dari Budisme Mahayana.
- Candi lebih kecil terdiri dari 248 candi dengan desain serupa dan dberada pada empat baris sepusat segi-empat. Dua baris luar disusun semakin dekat dan terdiri dari 176 candi lebih kecil, sementara dua baris bagian dalam disusun pada interval tertentu dan terdiri dari 72 candi sedikit lebih besar dibandingkan sesuatu luar. 248 candi yang ditempatkan pada lokasi detik semua dibuat dengan satu bingkai kuadrat kecuali membedakan oleh arca yang berbeda dan orientasi. Banyak arca ini kini pergi dan pengaturan pada lokasi saat ini bukan pada orientasi asli. Arca yang dapat diperbandingkan arca dari borobudhur dan mungkin terbuat dengan perunggu [1] .
- Penggelunturan selatan utara dan pusat barat timur poros jauh dari sekitar 200 jangka, di antara baris ke-2 dan ke-3 dengan candi lebih kecil ditempatkan perwara (barisan depan) candi, sepasang pada masing-masing candi utama berhahadapan satu sama lain. perwara candi adalah sesuatu paling besar setelah candi utama, bagaimanapun hanya sama sebelah timur perwara candi dan sesuatu utara perwara candi masih ada saat ini.
- Karenadi candi sewu ini candi induk di kelilingi oleh candi perwara yang berpola konsentris maka dapat kita ambil kesimpulan system pemerintahan pada masa candi ini di buat suatu kerajaan pusat yang besarkekuasaanya di kelilingi oleh raja-raja bawahanya..
5. Candi utama

Utama candi Candi Sewu di sebelah kiri dan salah satu perwara candi di benar
a. Candi utama punya 20 denah lantai dasar bangunan poligon sudut, dengan diameter 29 m dan ini membubung tinggi sampai jarak 30 m .karena bagan candi induk yang lebih luas susunanya dari candi kalasan maka terdapat arca budha yang kurang lebih sebanyak 50 buah, hal ini dapat kita hitung di bilik induk dan bilik-bilik yang mengelilinga ditambah 250 buah dan candi-candi kecil yang mengelilinga menjadi 300 buah
b. Pada masing-masing empat titik utama dari candi utama, terdapat tangga dan terdiri dari ruangan dan bermahkota stupa,.
c. Semua struktur bangunan terbuat dari batu andesite . pada empat ruangan terhubung dengan balai seni sudut luar dengan pelepar. Dari penemuan selama proses rekonstruksi.rancangan bangunan asli pusat tempat suci hanyalah terdiri daricandi tunggal. kemudiannya di kelilingi oleh empat struktur tambahan.
d. Pintu masuk dibangun untuk menggabungkan semua candi ke dalam satu gedung utama dengan lima ruangan. Bilik utama dapat dijangkau dari bilik sebelah timur. Bilik utama merupakan ruangan yang lebih besar dibandingkan dengan yang lain dengan satu atap lebih tinggi. Sekarang semua lima ruangan telah kosong. [2] . bunga teratai yang mengukir batu padestal pada bilik utama menjelaskan bahwa Di candi induk terdapat arca budha Utama “arca manjusri Greha” namun arca ini sudah tak ada lagi pada candi karena di jarah oleh pihak tidak bertanggung jawab, arca manjusri inipun diperkirakan terbuat dari logam perunggu, karena diketemukan sisa sisa arang dan logam perunggu.
e. Bilik utama candi induk digunakan untuk pemujaan dewa Manjusri yang di bangun oleh rakai panangkaran, bangunan ini sebenarnya akan di peruntukan sebagai candi budis hal ini diperkuat dengan adanya bentuk setupa ada kemuncak
f. Candi diani budha Kepala di penggal karena alas an religius juga untuk koleksi pada tahun 800 patung di jual di eropa.

6. Menurut para ahli
- DR.G.De Gasparis
1. Pada prasasti plaosan pernah menyinggung mengenai cikal bakal dinasti Sailendra, yang menyatakan berasal dari candi sewu yang memiliki banyak arca.hal ini yang menjadi penguat bahwa di candi sewu memeang memiliki banyak arca.
2. Sebelum prasasti karang tengah jadi sekitar tahun 824 masehi. Kekuasaan sailendra telah mengalami kemrosotan sekitar tahun 832, maka tidak mungkin jika pada tahun 862 suatu kopleks candi yang begitu luas dan besar di bangun oleh usaha seorang raja saja,bahwa para punggawa-punggawa dan bangsawan ikut pula menyumbang materi serta pekerja dalam penerusan pembangunan candi, dapat kit abaca pada tulisan singkat yang berada di candi sewu sebagai berikut “Mahapratayya sang Raganting”yang artinya punggagawa yang bergelar Mahapratayya bernama Raganting yang mengusahakan membuat candi kecil ini juga ada pula tulisan yang berbunyi “anumoda” yang berarti tulisan ada banyak tulisan lainya.
- Stutterheim
Namun menurut stutterheim prasasti itu di buat kira-kira pada tahun 862 masehi.
- Prof.Bosch
Pembuatan candi sewu menurut satu system yang meliputi pendiri arca manjusri sebagaimana disebutkan dalam prasasti klurak.

e. Candi Lumbung
Sebelah selatan candi bubrah kompleks candi terdiri dari sebuah candi Induk yang dikelilingi 16 candi kecil dalam suatu segi empat.
f. Bubrah
Satu-satunya “voortempel” yang letaknya di depan Gapuro candi sewu candi kecil yang mengelilingi candi induk namun sekarang telah tinggal puing-puingnya.
g. Candi Borobudur
Borobudur, atau Barabudur, adalah satu abad ke-9mahayana budha jawa tengah. Monumen meliputi enam platform kuadrat puncak oleh tiga platform lingkar, dan adalah berdandan dengan 2,672 relief. panel dan 504 data status Budha.. [1] Satu kubah utama, ditempatkan pada pusat dari platform teratas, dikepung oleh 72 data status Buddha mendudukkan di dalam dobol stupa
Monumen adalah keduanya satu tempat suci ke buda dan satu tempat untuk Budha Ziarah.. Perjalanan untuk jemaah berawal pada dasar dari monumen dan mengikuti satu alur circumabulating. monumen saat menaik ke teratas melalui tiga taraf dari kosmologi Budha., yaitu kamadatu (dunia dari keinginan), rupaadatu(dunia dari bentuk) dan Arupadhatu. (dunia dari formlessness). Selama perjalanan monumen memandu jemaah melalui satu sistem tangga dan koridor dengan 1,460 panel relief naratif pada tembok dan pelepar

Bukti menyarankan Borobudur diterlantarkan mengikuti abad ke-14 kemerosotan dari Budha dan Hindu. kerajaan di Java, dan jawa konversi ke Agama Islam. [2] Pengetahuan di seluruh dunia dari ini keberadaan dinyalakan pada 1814 oleh tuan Thomas Stamford Undi kemudian mistar britania dari Java, siapa menganjurkan dari lokasi ini oleh Indonesia asli. Borobudur punya sejak adalah diawetkan melalui beberapa restorasi. Restorasi paling besar proyek dilakukan di antara 1975 dan 1982 oleh Pemerintahan Indonesia dan Unesco., mengikuti yang mana monumen didaftarkan sebagai satu unESCOlokasi bagian warisan dunia. [3] Borobudur masih terpakai untuk ziarah; sekali setahun Budha di Indonesia rayakan waesak pada monumen, dan Borobudur adalah lajangnya Indonesia paling dikunjungiatraksi wisatawan . [4] 5] [6]


i. ETIMOLOGI

Borobudur stupas melewatkan satu pegunungan. Selama berabad-abad, ini ditinggalkan.
Borobudur stupas melewatkan satu pegunungan. Selama berabad-abad, ini ditinggalkan.
Di Indonesia., candi masa lampau dikenal sebagai candi; dengan demikian "Candi Borobudur" adalah di tempat itu dikenal sebagai Candi Borobudur . Masa candi dipergunakan lagi dengan bebas untuk mendeskripsikan apapun struktur masa lampau, antara lain gerbang dan struktur mandi. Asal dari nama Borobudur bagaimanapun adalah belum jelas, [7] walau sebut asli dari paling candi Indonesia masa lampau adalah tidak lagi dikenal. [7] Nama Borobudur yang pertama beri suara dengan menulis nama Thomas mengundi tuan' bukukan pada riwayat Javan. [8] Undi tulis tentang suatu monumen dipanggil borobudur , tapi tidak ada dokumen lebih tua menyarankan nama yang sama. [7] Satu-satunya jawa tua manuskrip isyarat itu pada monumen sebagai satu tempat kudus Budha kudus adalah negara kretagama., ditulis olmpu prapanca pada 1365. [9]
Nama Gurdi Budur , dan dengan demikian BoroBudur , dipikirkan agar telah ditulis oleh Undi di inggris nahu untuk memaksudkan desa dekat dari Kebosanan; paling candi dinamai menurut satu desa dekat. Kalau ini mengikutibahasa jawa, monumen harus telah disebutkan ' BudurBoro '. Mengundi juga disarankan itu ' Budur ' mungkin sesuai dengan Jawa modern jelaskan Buda ( "masa lampau") – yaitu, "Boro masa lampau". [7] Bagaimanapun, ahli arkeologi lain menyarankan komponen detik dari nama( Budur ) berasal dari masa Jawa bhudhara (gunung). [10]
Catatan Karangtengah tanggali 824 menyebutkan sekitar sima (bebas bea) darat dihadiahi oleh Çr ī Kahulunan (Pramodhawardhani) untuk memastikan pembiayaan dan pemeliharaan dari satu Kamūlān dipanggil Bhūmisambhāra . [11] Kamūlān sendiri dari sabda mula maksudkan yang ' tempat dari asal ', satu bangunan suci untuk menghormati nenek moyanng , mungkin nenek moyang dari sailendras .. Casparis menyarankan tersebut Bhūmi Bhudhāra Sambhāra yang di bahasa sangskreta berarti "Pegunungan dari kebaikan berkombinasi dari sepuluh langkah dari boddisattvahood.", adalah nama asli dari Borobudur. [12]
Lokasi

Lokasi dari Borobudur–Pawon–Mendut pada satu garis lurus
Kira-kira 40 kilometers (25 mi) barat laut dariYogyakarta , Borobudur ditempatkan pada satu area layang di antara dua volcanoes kembar sundoro- sumbing. dan merbabu .- merapi., dan dua sungai, Progo dan Elo. Sesuai dengan lokal dongeng, area dikenal sebagai dataran kedu adalah satu Jawa tempat suci . dan telah diberi gelar ' taman dari Java ' sehubungan dengan ketinggiannya kesuburan pertanian.. [13] Di samping Borobudur, ada lain budha . dan Hindhu. candi pada area, termasuk candi senyawa Prambanan Selama pembangunan kembali inggris pada awal 1900s, ini ditemukan itu tiga candi Budha pada daerah, Borobudur, pawon dan mendut , digaris di garis lurus posisi sesuatu. [14] Ini mungkin kebetulan, tapi kelurusannya candi berada di dalam kata penghubung dengan satu orang pribumi cerita rakrat yang lama .yang lama waktu lalu, di sana adalah satu bata mengaspal jalan dari Borobudur kepada Mendut dengan membuat dinding timbal balik. Tiga candi (Borobudur–Pawon–Mendut) punya arsitektur serupa dan barang-barang perhiasan memperoleh dari periode waktu yang sama, sarankan yang upacara agama itu hubungan di antara tiga candi, agar mempunyai dibentuk satu kesatuan suci, harus dimiliki berada, walau tuntut proses upacara agama adalah namun tidak diketahui. [9]
Candi lain yang tidak sama dengan, yaitu dibangun pada satu permukaan bidang datar, Borobudur dibangun pada satu bukit batuan dasar, 265 m (869 ft) aras laut di atas.dan 15 m (49 ft) di atas lantai dari di luar pagar yang dikeringkan paleolake. [15] Keberadaannya danau adalah pokok materi dengan bahasan keras antara ahli arkeologi pada abad ke-20; Borobudur dipikirkan agar telah dibangun pada satu pantai danau atau bahkan mengapung pada satu danau. Pada 1931, satu artis Belanda dan satu sarjana arsitektur Hindu dan Budha, nieuwenkamp, dikembangkan satu teori yang Kedu Sederhana adalah satu kali satu danau dan Borobudur pada awalnya diwakili satu bunga teratai terapung pada danau. [10] Bunga bunga teratai ditemukan di seni karya yang baik Budha bilang nyaris, sering pelayanan sebagai satu singgasana untuk buddhas dan dasar untuk stupas. Arsitektur dari Borobudur sendiri sarankan satu lukisan bunga teratai, dimana Buddha ambil sikap di Borobudur menandakan sutra bunga teratai., kebanyakan mendirikan pada beberapa buddisme Mahayana (satu sekolah Budisme secara luas terangin-angin padaasia timur daerah) teks. Tiga platform lingkar di bagian atas dipikirkan untuk mewakili satu daun bunga teratai. [15] Teorinya Nieuwenkamp, bagaimanapun, ditanding oleh banyak ahli arkeologi karena lingkungan alami mengepung monumen adalah satu tanah kering.
Geolog, pada sisi lain, dukung pandangannya Nieuwenkamp, pengarah lempung endapan mendirikan dekat lokasi. [16] Satu pembahasan dari stratigraphy endapan dan tepung sari . contoh dikendali pada 2000 dukungan keberadaan dari satu lingkungan paleolake dekat Borobudur, [15] yang cenderung untuk mengonfirmasikan teorinya Nieuwenkamp. Area danau menaik turun dengan waktu dan pembahasan juga membuktikan bahwa Borobudur adalah dekat pantai danau c. abad ke-13 dan ke-14. Sungai mengalir dan aktivitas Vulkanis. bentuk pemandangan sekitar, meliputi danau. Salah satu volcano aktif yang paling di Indonesia, Naiki Merapi, berada di dalam sekitar langsung dari Borobudur dan telah sangat aktif sejak Pleistocene.
ii. Riwayat Konstruksi

Jemaah budha memeditasi di bagian atas platform
Ada tidak ada rekaman tertulis dari siapa bangun Borobudur atau dari ini berniat penggunaan. [18] Waktu konstruksi telah ditaksir oleh perbandingan di antara diukir. relief pada candi kaki tersembunyi dan catatan. biasanya dipergunakan di piagam kerajaan semasa abad ke-8 dan ke-9. Borobudur mungkin ditemukan sekitar 800 IKLAN. [18] Ini sesuai dengan periode di antara 760 dan 830 AD, puncak dari dinasti sailendra. di Java pusat, [19] ketika ini adalah pada pengaruh darikekaisaran sriwijaya . Konstruksi telah ditaksir untuk mempunyai ambil 75 tahun dan adalah lengkap semasa raja dari samaratungga. pada 825. [20] 21]
Ada kebingungan di antara mistar Hindu dan Budha di java saat itu di sekitar. Sailendras dikenal sebagai pengikut bersemangat dari Buddha Raja, tunjangan catatan batu meskipun demikian di Sojomerto menyarankan mereka mungkin telah Hindu. [20] Ini adalah selama saat ini itu beberapa monumen Hindu dan Budha dibangun pada sederhana dan gunung sekitar Kedu Sederhana. Monumen Budha, meliputi Borobudur, dibatang sekitar waktu yang sama sebagai Hindu siwa prambanan senyawa candi. Di 732 AD, Raja Shivaite sanjaya terakreditasi satu siva lingga tempat kudus dibangun pada bukit Ukir, hanyalah 10 km (6. 2 miles) timur dari Borobudur. [22]
Konstruksi dari candi Budha, meliputi Borobudur, pada waktu itu adalah kemungkinan sebab Sanjaya pengganti langsung, rakai panangkaran, diwariskan ijinnya ke pengikut Budha untuk membangun candi demikian. [23] Pada kenyataan, untuk memperlihatkan hormatnya, Panangkaran berikan desa dari kalasan . ke komunitas Budha, seperti halnya memberi suara dengan menulis nama Kalasan Memiagamkan 778 IKLAN tertanggal. [23] Ini mempunyai memimpin beberapa ahli arkeologi untuk meyakini yang di situ jangan agama serius mengaitkan konflik di Java seperti ini adalah kemungkinan untuk satu raja Hindu untuk melindungi penetapan dari satu monumen Budha; atau untuk satu raja Budha untuk menindak demikian juga. [24] Bagaimanapun, kemungkinan yang di situ adalah dua dinasti kerajaan saing di Java pada time—the Budha Sailendra dan saivite Sanjaya—in yang mana belakangan yang memenangkan berlalu saing mereka pada 856 pertempuran pada ratu book dataran tinggi. [25] Kebingungan ini juga berada berhubungan dengan candi Lara Jonggrang pada prambanan kompleks, yaitu meyakini bahwa ini dibatang oleh pemenang Rakai Pikatan sebagai dinasti Sanjaya jawaban ke Borobudur, [25] tapi saran yang lain yang di situ adalah satu iklim dengan hal hidup bersama tenang dimana keterlibatan Sailendra berada di Lara Jonggrang. [26]
iii. Penundaan

Utamanya Borobudur stupa, yaitu kosong dan satu kegaiban ditinggikan ketika temukan
Borobudur meletakkan tersembunyi selama berabad-abad di bawah lapisan dari abu vulkanis. dan perkembangan rimba. Fakta di belakang penundaan ini tersisa satu kegaiban. Ini bukan diketahui ketika penggunaan aktif dari ziarah monumen dan Budha untuknya gencat. Di suatu tempat di antara 928 dan 1006, pusat dari kekuatan menggerakkan ke jawa timur. daerah dan satu rangkaian letusan volkanis ambil tempat; ini tidak tertentu apakah belakangan yang pengaruhi terdahulu tapi beberapa sebut sumber ini sebagai hampir bisa dipastikan periode dari penundaan. [2] 15] Soekmono (1976) juga sebutkan kepercayaan populer itu candi dibubar ketika populasi yang mengonversi kepada Agama Islam pada abad ke-15. [2]
Monumen bukan dilupakan habis-habisan, cerita kawanan meskipun demikian secara berangsur-angsur berganti dari kejajaan yang lampau ini ke dalam lagi bertahayul kepercayaan menghubungkan dengan nasib malang dan kesengsaraan. Dua jawa tua. ( babad ) dari abad ke-18 menyebutkan kasus dari nasib malang menghubungkan dengan monumen. Sesuai dengan Babad Tanah Jawi (atau Riwayat dari Java), monumen adalah satu faktor fatal untuk satu pemberontak yang memberontak melawan raja dari mataram. pada 1709. [2] Bukit dikepung dan pemberontak dikalahkan dan menghukum ke kematian oleh raja. Pada Babad Mataram (atau Riwayat dari Kerajaan Mataram), monumen dihubungkan dengan kemalangan dari pangeran memahkotai dari yogyakarta. pada 1757. [27] Di kedengkian dari satu tabu melawan kunjung monumen, "dia ambil yang ditulis seperti satria yang ditangkap pada satu kandang (satu data status di salah satu stupas dobol)". Pada saat kembali ke istananya, dia curah sakit dan mati satu hari nanti.
iv. Penemuan ulang
Berikutjava anglo peperangan , Java adalah di bawah administrasi Britania dari 1811 ke 1816. Gubernur ditugaskan adalah Letnan gurbenur jendral Thomas stampford Undi , siapa diambil daya tarik hebat pada riwayat dari Java. Dia mengumpulkan antik Jawa dan mencatat melalui kontak dengan orang setempat lokal selama lawatannya sepanjang pulau. Pada satu lawatan inspeksi ke semarang pada 1814, dia diinformasikan tentang suatu dalam monumen besar pada satu rimba dekat desa dari Bumisegoro. [27] Dia tidak mampu untuk membuat penemuan sendiri dan mengirimkan H.C. Cornelius, satu insinyur Belanda, untuk selidiki.

Yang pertama foto dari Borobudur oleh van isidore kinsbergen. (1873) setelah monumen dibebaskan dari percabulan
Di dua bulan, Cornelius dannya 200 pemotongan orang-orang bawah pohon, nabati bulu halus terbakar dan digali bumi jauh untuk mengungkapkan monumen. Sehubungan dengan bahaya dari roboh, dia tidak dapat menggali dan menemukan semua balai seni. Dia melaporkan penemuannya untuk Mengundi termasuk berbagai gambar. Walau penemuan hanya disebutkan oleh beberapa kalimat, Undi telah terkreditkan dengan penemuannya monumen, sebagai satu yang punya membawakan ini ke perhatiannya dunia. [8]
Hartmann, satu pengurus Belanda dari daerah Kedu, berlanjut pekerjaannya Cornelius dan pada 1835 keseluruhan kompleks akhirnya digali dan menemukan. Daya tariknya di Borobudur jadilah lebih pribadi dibandingkan resmi. Hartmann tidak menulis apapun laporan dari aktivitasnya; khususnya, tertuduh cerita yang dia menemukan data status besar dari Buddha pada stupa utama. [28] Pada 1842, Hartmann menyelidiki kubah utama walaupun apa dia menemukan sisa tidak dikenal sebagai utama stupa tersisa mengosongkan dari.

Satu 1895 tangan mewarnai longsoran lampu aladin dari satu data status wali di Borobudur (Dipotret William henry jackson)

Timur belanda indies pemerintah kemudian F.C terakreditasi. Wilsen, satu pejabat rancang-bangun Belanda, siapa dipelajari monumen dan gambar ratusan sket relief. J.F.G. Brumund adalah juga ditugaskan ke perbuatan satu pembahasan terperinci dari monumen, yaitu dilengkapi pada 1859. Pemerintah berniat menerbitkan satu artikel berlandaskan Brumund mempelajari dilengkapi oleh gambarnya Wilsen, tapi Brumund menolak untuk bekerjasama. Pemerintah maka sarjana lain yang terakreditasi, C. Leemans, siapa disusun satu monograf berlandaskan Brumund dan sumbernya Wilsen. Pada 1873, yang pertama monograf dari pembahasan terperinci dari Borobudur diterbitkan, diikuti oleh ini terjemahan Perancis satu tahun kemudiannya. [28] Yang pertama foto dari monumen dibawa 1873 oleh satu Belanda - flemish. pengukir, van isi dore kinsbergen
Penghargaan dari lokasi yang dikembangkan perlahan, dan ini melayani untuk kapan-kapan saja sebagian besar sebagai satu sumber cendera mata dan pendapatan untuk "pemburu cendera mata" dan curi. Pada 1882, inspektor pemimpin dengan artefak budaya merekomendasikan bahwa Borobudur seluruhnya membongkar dengan penampungan dari relief ke dalam musium sehubungan dengan tidak stabil kondisi monumen. [29] Sebagai hasil, pemerintah yang menugaskan Groenveldt, satu ahli arkeologi., untuk melakukan satu investigasi saksama dari lokasi dan untuk mengaji nyata kondisi kompleks; tunjangan laporannya bahwa ketakutan ini adalah tidak pada tempatnya dan direkomendasikannya menjadi sebelah kiri tetap utuh.
v. Peristiwa jaman ini

Wisatawan di Borobudur
Mengikuti 1973 renovasi utama dibiayai oleh UNESCO [30] Borobudur adalah sekali lagi terpakai sebagai satu tempat beribadah. dan ziarah. Sekali setahun, selama terang bulan . di Mungkin atau Juni, budha di Indonesia. amati Vesak. ( Indonesia .: Waisak ) hari memperingati kelahiran, kematian, dan waktu ketika sidharta gautama. dicapai kebijaksanaan paling tinggi untuk menjadi Buddha Shakyamuni. Vesak adalah satu pejabat liburan nasional . di Indonesia [31] dan upacara dipusat pada tiga candi Budha oleh berjalan dari mendut. untuk pawon . dan berakhir di Borobudur. [32]
Monumen jadi satu-satunya paling dikunjungiatraksi wisatawan di Indonesia . Pada 1974, 260,000 wisatawan dari siapa 36,000 adalah monumen dikunjungi orang asing. [5] Figur hiked ke dalam 2.5 juta pengunjung tiap-tiap tahun (80% adalah wisatawan domestik) pada pertengahan 1990s, sebelum ekonominya negaranya kerawanan.. [6] Pembangunan pariwisata, bagaimanapun, telah dikritik untuk belum termasuk komunitas lokal pada yang mana lokal sekali-kali menikai mempunyai munculkan. [5] Pada 2003, bisnis ditempatkan dan kecil di sekitar Borobudur mengorganisir beberapa bantahan rapat dan pantun, menolak ke satu rencana pemerintah provinsial untuk membangun tiga satuan cerita kompleks mall, diberi gelar ' Dunia Java '. [33]

"Mahakarya Borobudur" ballet performance at Borobudur

Pada 21 Januari 1985, sembilan stupas dengan sangat buruk rusak oleh sembilan bom. [34] Pada 1991, satu pendeta Orang Islam tirai, Husein Ali Al Habsyie, dihukum ke penjara hidup. untuk mendalangi satu rangkaian pemboman pada pertengahan 1980s termasuk gempuran candi. [35] Dua anggota lain dari satu fraksi kanan grup ekstrimis yang menyelesaikan pemboman masing-masing dihukum ke 20 tahun pada 1986 dan orang lain dapat satu 13 - kondisi penjara tahun. Pada 27 Mungkin 2006, satu gempa dari 6.2 kebesaran pada skala richter serang pantai selatan dari Java Pusat. Yang peristiwa telah menyebabkan kerusakan jengkelkan di sekitar daerah dan kecelakaan ke kota dekat dari yogyakarta ., tapi Borobudur tersisa tetap utuh. [36]
Pada 28 Mulia 2006 jalan kecil dari peradaban . simposium digenggam di Borobudur pada pertolongan dari gubernur dari Java Pusat dan Kementerian Indonesia dari Budaya dan Pariwisata, juga sajikan wakil dari unESCO dan sebagian besar bangsa Budha dari Tenggara Asia Bagian, seperti itu thailand., myanmar, laos., vietnam. dan kamboja.. Klimaks dari peristiwa adalah "Mahakarya Borobudur" kinerja balet di depan candi dari Borobudur. Ini adalah choreographed untuk mencirikan Jawa tradisional menari, musik dan kostum, dan katakan riwayat sekitar konstruksi dari Borobudur. Setelah simposium, balet Mahakarya Borobudur dilaksanakan beberapa kali, terutama selama tahunan nasional vaisak peringatan di Borobudur menghadiri oleh Presiden Indonesia.
unESCO mengidentifikasi tiga area khusus keprihatinan di bawah sekarang status dari konservasi: (aku ) sifat suka merusak oleh pengunjung; (ii.) erosi tanah di dalam selatan sebelah timur bagian dari lokasi; (iii.) analisa dan restorasi dengan unsur hilang. [37] Tanah lunak, banyak gempa dan pimpinan hujan berat ke destabilization dari struktur. Gempa adalah betul-betul faktor yang paling sokong, sejak tidak hanya melempar gagalkan dan belokkan kropos, tapi bumi sendiri dapat memasuki gelombang, penumpasan selanjutnya struktur. [37] Ketenaran peningkatan dari stupa membawakan pada beberapa pengunjung, kebanyakan dari yang dari Indonesia. Terlepas dari peringatan memulai siaran semua taraf tidak untuk menyentuh apapun, transmisi regular dari peringatan berlalu pengeras suara dan buat-buatan dari jaga, sifat suka merusak pada relief dan data status adalah satu kejadian umum dan masalah, memimpin ke pembusukan selanjutnya. Terhitung sejak 2009, ada tidak ada sistem pada tempatnya untuk membatasi angka dari pengunjung mengijinkan per hari, atau untuk memperkenalkan yang diberi kekuasaan memandu lawatan hanya
Borobudur dengan berat iba oleh letupan dari naiki merapi. Dioktober dan November 2010. abu vulkanis .dari Merapi dicurah pada kompleks candi, yaitu kira-kira 28 kilometres (17 mi) barat daya barat dari kawah gunung. Satu lapisan abu sampai 2.5 centimetres (1 di) [38] terjatuh pada data status candi selama letupan dari 3 - 5 Bulan November, juga pembunuhan nabati dekat, dengan pakar menakut bahwa abu keasam-asaman mungkin merusakkan lokasi bersejarah. Kompleks candi ditutup dari ke-5 dari Bulan November ke ke-9 untuk membebaskan dari percabulan ashfall
Arsitektur

Denah lantai dasar bangunan Borobudur mengambil bentuk dari satu mandala

Model Borobudur secara ilmu bangunan
Borobudur dibangun seperti tunggal besar stupa, dan ketika melihat dari atas ambil bentuk dari satu raksasa budha tantrik. mandala., secara serempak mewakili kosmologi Budha dan sifat alami urus. [41] Fondasi adalah satu kuadrat, kira-kira 118 meters (387 ft) pada masing-masing sisi. Ini mempunyai sembilan platform, dari yang mana lebih rendah enam adalah persegi . dan bagian atas tiga adalah lingkaran.. Platform bagian atas mencirikan tujuhpuluh dua kekecilan stupas mengepung satu pusat besar stupa. Masing-masing stupa adalah berbentuk bel dan berbolong-bolong oleh banyak pembukaan hias. Data status dari Budha duduki di dalam lampiran berbolong-bolong.
Kira-kira 55,Meter 000 cubic (72,000 cu yd) dari batu diambil dari sungai bertetangga untuk membangun monumen. [42] Batu dipotong ke ukuran, diangkut ke lokasi dan meletakkan tanpa senjata lengkung .. Tombol, takikan dan sambung . adalah dipergunakan untuk bentuk hubungan di antara lempar. relief. diciptakan ditempat asal. setelah bangunan telah dilengkapi. Monumen diperlengkapi dengan satu bajik draynase sistem untuk penuhi ketinggiannya area stormwater. larikan diri. Untuk menghindari penggenangan, 100 cerek disediakan di masing-masing sudut dengan satu terukir yang unik penyemprot air . pada bentuk dari raksaa atao makaras.

Panampang-lintang semi dengan 4:6:9 rasio ketinggian untuk kaki, tubuh dan kepala, berturut-turut
Borobudur membedakan dengan jelas dengan umum perancangan struktur lain dibangun untuk penggunaan ini. Dari pada membangun pada satu permukaan bidang datar, Borobudur dibangun pada satu bukit alami. Ilmu pengetahuan tentang teknik bangunan adalah, bagaimanapun, serupa dengan candi lain di Java. Dengan tidak ada ruang bagian dalam seperti pada candi lain dan desain umum ini serupa dengan bentuk dari piramida, Borobudur yang pertama pikir lebih mungkin untuk mempunyai dilayani sebagai satu stupa , dari pada satu candi. [42] SATU stupa dimaksudkan sebagai satu tempat suci . untuk Buddha Raja. Kadang kala stupas dibangun hanya sebagai lambang bersifat kebaktian dari Budisme. Satu candi, pada sisi lain, dipergunakan sebagai satu rumah dari dewa dan mempunyai ruang bagian dalam untuk pemujaan. dan punya ruang bagian dalam untuk pemujaan. Kompleksitas dari monumen desain sangat teliti menyarankan Borobudur kenyataannya satu candi. Congregational puja di Borobudur dilaksanakan atas pertolongan ziarah. Jemaah berpedoman kepada sistem dari penaikan tangga rumah dan koridor ke platform teratas. Masing-masing platform mewakili satu langkah daripenerangan. Alur pemandu itu jemaah didisain dengan perlambangan dengan pengetahuan suci sesuai dengan kosmologi budha
Kecil diketahui tentang arsitek Gunadarma.. [44] Namanya sebenarnya diceriterakan dari Jawa cerita rakyat legendary agak dibandingkan memberi suara dengan menulis nama catatan tua. Unit dasar pengukuran dia mempergunakan selama konstruksi dipanggil tala , didefinisikan sebagai panjang dari satu wajah manusia dari batas rambut di kepalanya dahi ke ujung dari dagu atau jarak dari ujung dari ibu jari ke ujung dari jari tengah ketika berdua jari diregang pada jarak maksimum mereka. [45] Metrik unit kemudian adalah relatif di antara orang, tapi monumen yang punya pengukuran tepat. Satu survei mengendali pada 1977 berulang yang ungkap
penemuan dari satu rasio dari 4:6:9 sekitar monumen. Yang arsitek telah mempergunakan rumus ke denah dimensi tepat [45] mengekspresikan fractal. dan diri serupa simetri yang ditemukan di Borobudur. [46] Rasio serupa rumus adalah tunjangan selanjutnya pada Budha dekat candi dari Pawon dan Mendhut. Ahli arkeologi menduga penggunaan dari rumus rasio dan tala dimensi punya menurut kalender, astronomi dan tema cosmological, terhitung sejak kasus pada Hindu lain dan candi Budha dari angkor wat. di kamboja.

Wali gerbang singa

Tangga dari Borobudur melalui lengkungan dari kepala kala

Satu koridor ciut dengan relief pada tembok
Vertikal utama struktur dapat dibagi ke dalam tiga group: dasar (atau kaki), tubuh, dan teratas, serupai yang tiga utama pembagian satu tubuh manusia. [44] Dasar adalah satu 123 × 123 m (403. 5 × 403.5 ft) persegi di ukuran dan 4 meters (13 ft) tinggi dari tembok. [42] Tubuh disusun dari lima platform kuadrat masing-masing dengan kemuliaan kurang. Yang pertama terras disetel 7 meters belakang (23 ft) dari tepi dari dasar. Terras yang lain disetel belakang oleh 2 meters (7 ft), meninggalkan satu koridor ciut pada masing-masing langkah. Teratas terdiri dari tiga platform lingkar, dengan masing-masing langkah mendukung satu baris dengan dobol stupas, disusun di di bulatan sepusat .. Ada satu kubah utama pada pusat; menyempurnakan yang titik paling tinggi dari monumen (35 meters (115 ft) taraf menghaluskan di atas). Akses ke bagian atas jemu akan tangga pada pusat dari masing-masing empat sisi dengan sejumlah gerbang berlekuk, ditonton oleh sebanya 32 data status singa. Gerbang dihiasi dengan kala's kepala mengukir di atas sekali pusat dari masing-masing pintu gerbang dengan makaras memproyeksikan dari masing-masing sisi. Kala Makara ini corak mode biasanya ditemukan di pintu gerbang candi Jawa. Kemasukan utama ada di sisi sebelah timur, lokasi dari yang pertama naratif relief. Pada slop kemiringan dari bukit, di sana juga tangga menghubungkan monumen ke pendustaan rendah sederhana.

Satu penyemprot air terukir untuk drainase air
Monumen tiga divisi menandakan three-stage dengan persiapan tal ke arah gol terakhir sesuai dengan kosmologi Budha, yaitu kamadhatu (dunia dari keinginan), Rupadhatu . (dunia dari bentuk), dan akhirnya arupadhatu . (dunia tanpa bentuk). [47] Kāmadhātu diwakili oleh dasar, Rupadhatu oleh lima platform kuadrat (tubuh), dan Arupadhatu oleh tiga platform lingkar dan besar stupa paling atas. Fitur secara ilmu bangunan di antara three-stage punya perbedaan metaphorical. Sebagai contoh, persegi dan dekorasi terperinci pada Rupadhatu hilang lenyap ke dalam platform lingkar dataran pada Arupadhatu untuk mewakili bagaimana dunia dari bentuk – dimana orang-orang masih terlampir dengan bentuk dan sebut – perubahan ke dalam dunia dari tanpa bentuk. [48]
Pada 1885, satu struktur tersembunyi atas dasar secara kebetulan ditemukan. [49] "menyembunyikan kaki" kandung relief, 160 yang naratif mendeskripsikan nyata Kāmadhātu . Relief sisa adalah panel dengan catatan pendek yang kelihatannya deskripsikan perintahkan untuk pemahat, menggambarkan adegan diukir. [50] Dasar nyata disembunyikan oleh satu dasar bungkusan, penggunaan dari yang mana tersisa satu kegaiban. Ini yang pertama pikir bahwa dasar nyata harus diliputi untuk mencegah satu amblesan celaka dari monumen melalui bukit. [50] Ada teori lain itu dasar bungkusan ditambahkan karena kaki tersembunyi yang asli adalah salah didisain, sesuai denganVasthu sastra, buku masa lampau Yang Indian sekitar arsitektur. dan kota.. [49] Dengan tanpa melihat niat ini, dasar bungkusan dibangun dengan desain terperinci dan sangat teliti dengan estetika . dan ganti-rugi religius.

vi. Relief

Borobudur mengandung kira-kira 2,670 individu relief bas. (1,460 naratif dan 1,212 panel hias), liputi yang facades danpelepar . Total permukaan relief adalah 2,Jangka 500 square (26,909. 8 sq ft) dan mereka dibagikan pada kaki tersembunyi( Kāmadhātu ) dan lima platform kuadrat( Rupadhatu
Panel naratif, ceritakan yang dari sudhana. dan Manohara, [52] digolongkan ke dalam 11 rangkaian melingkari monumen dengan total panjang dari 3,000 meters (9,843 ft). Kaki tersembunyi mengandung yang pertama rangkaian dengan 160 panel naratif dan 10 rangkaian sisa dibagikan sepanjang tembok dan pelepar pada empat permulaan balai seni dari kemasukan sebelah timur tangga ke sebelah kiri. Panel naratif pada bacaan tembok dari kanan ke kiri, sementara pada bacaan pelepar dari sebelah kiri
ke kanan. Ini menyesuaikan diri dengan pradaksina, upacara agama dari circumambulation melaksanakan oleh jemaah siapa memasuki satu arah arah jarum jam saat mempertahankan tempat suci . untuk benar mereka
Kaki tersembunyi melukiskan pekerjaan dari hukum karmic. Tembok dari yang pertama balai seni punya dua rangkaian ditumpukkan dari relief; masing-masing terdiri dari 120 panel. Bagian atas melukiskan biografi dari budha., sementara pegawai rendahan bagian dari tembok maupun pelepar di yang pertama dan balai seni detik menceritakan dari terdahulunya Buddha lives. [51] Panel sisa dipersembahkan ke Sudhana kembara selanjutnya sekitar pencariannya, diakhiri oleh pencapaiannya dari kebijaksanaan sempurna..
Narrative Panels Distribution( Distribusi Panel naratif )
Section(bagian) Location(lokasi) Story (kisah) #panels
hidden foot ( menyembunyikan kaki) Wall (tembok) Karmavibhangga 160
first gallery (balai seni pertama ) main wall ( tembok utama) Lalitavistara 120
Jataka/Avadana 120
Balustrade (pelepar) Jataka/Avadana 372
Jataka/Avadana 128
second gallery ( balai seni kedua) Balustrade (pelepar) Jataka/Avadana 100
main wall (tembok utama) Gandavyuha 128
third gallery ( balai seni ketiga) main wall (tembok utama) Gandavyuha 88
Balustrade (pelepar) Gandavyuha 88
fourth gallery(balai seni keempat) main wall (tembok utama) Gandavyuha 84
Balustrade (pelepar) Gandavyuha 72
Total 1,460

vii. Hukum dari karma (Karmavibhangga)
160 panel tersembunyi tidak membentuk satu cerita berkepanjangan, tapi masing-masing panel menyediakan satu ilustrasi lengkap darilantaran dan akibat. [51] Ada lukisan dari aktivitas blameworthy, dari selentingan membunuh, dengan hukuman sesuai mereka. Di sana juga aktivitas patut dipuji, yang termasuk badan amal dan ziarah ke tempat kudus, dan imbalan yang berikut mereka. Sakit dari neraka dan kesenangan dari sorga digambarkan. Ada peristiwa dari hidup harian, lengkapi dengan panorama penuh dari samsara. (siklus tanpa akhir dari kelahiran dan kematian).
Kelahiran dari Buddha (Lalitavistara)

ratu maya. kereta kuda mengendarai memundur ke lumbini. untuk memberikan kelahiran ke Pangeran siddartha gautama
Artikel utama: kelahiran dari budha (lalitavistara)
Awal cerita dengan turunnya Raja Buddha dari tushita sorga, dan berakhir dengan khotbah pertamanya pada Kebun Bunga Kijang dekati benares. [53] Relief memperlihatkan kelahiran dari Buddha seperti sidharta., anak lelaki dari Raja suddodana.dan Ratu maya dari kapilawastu. (di sekarang ini negeri Nepal.).

Cerita didahului oleh 27 panel memperlihatkan berbagai persiapan, di atsir dan di atas bumi, untuk menyambut inkarnasi akhir daribodhisatwa. [53] Sebelum turun dari sorga Tushita, Bodhisattva Yang percayakan mahkotanya untuk penggantinya, Buddha masa depan matreya.. Dia turun di atas bumi pada bentuk darigajah putih dengan enam gading , ditembus ke Ratu benarnya Maya rahim. Ratu Maya Yang punya satu impian dari peristiwa ini, yaitu diinterpretasikan itu anak lelakinya akan menjadi yang manapun satu kedaulatan atau satu Buddha.
Sementara Ratu Maya merasakan bahwa ini adalah waktu untuk memberikan kelahiran, dia pergi ke lumbini parkir di luar kota Kapilavastu. Dia berdiri pada satu plaksa. pohon, menggenggam seseorang cabang dengan tangan kanan dia dan dia memberikan kelahiran ke satu anak lelaki, Siddhartha pangeran. Cerita pada panel berlanjut hingga pangeran menjadi Buddha.

Pangeran siddartha Gautama dijadi satu petapa pertapa.
Pangeran cerita Siddhartha (Jataka) dan orang legendary lain (Avadana)
jatakas. apakah cerita kesana-sini Buddha sebelum dia lahirkan seperti Siddhartha Pangeran. [54] avadanas. adalah serupa dengan jatakas, tapi figur utama bukan Bodhisattva sendiri. Perbuatan suci di avadanas ditujukan ke orang legendary lain. Jatakas dan avadanas diperlakukan di sama benar rangkaian pada relief dari Borobudur.
Yang pertama 20 panel pegawai rendahan di yang pertama balai seni pada tembok melukiskan Sudhanakumaravadana atau perbuatan suci dari suddana .. Yang pertama 135 panel bagian atas pada balai seni yang sama pada pelepar dipersembahkan ke 34 legenda dari jatakamala.. [55] 237 panel sisa melukiskan cerita dari sumber lain, seperti lakukan untuk rangkaian lebih rendah dan panel pada balai seni detik. Beberapa cerita jatakas dilukiskan dua kali, antara lain cerita dari Sibhi Raja (rama's nenek moyang)
viii. Sudhana mencari-cari Kebenaran Terakhir (Gandavyuha)
Gandavyuha adalah cerita yang dikatakan pada bab akhir dari avatamsaka sutra.kesana-sini Sudhana kembara tak kunjung letih di pencarian dari Kebijaksanaan Sempurna Yang Paling Tinggi. Sampul ini dua balai seni (ketiga dan ke-empat) maupun separuh balai seni detik; meliputi secara keseluruhan 460 panel. [56] Figur terpenting dari cerita, Sudhana belia, anak lelaki dari satu sangat jual-beli kaya, tampak pada panel ke-16. 15 panel dahulu membentuk satu kata pendahuluan. ke cerita dari keajaiban selama Buddha samadhi. pada taman dari jeta. di srasvati
Selama pencariannya, Sudhana dikunjungi tidak kurang dari 30 guru kecuali tak seorangpun dari mereka telah memuaskan habis-habisan dia. Dia kemudian adalah diarah oleh manjusri .untuk menjumpai Megasri biarawan, dimana dia diberikan yang pertama doktrin. Seperti perjalanannya berlanjut, Sudhana bertemu (pada order berikut) Supratisthita, Megha ahli pengobatan (Semangat dari Pengetahuan), Muktaka bankir, Saradhvaja biarawan, upasika Asa (Semangat dengan Penerangan Tertinggi), Bhismottaranirghosa, brahmana Jayosmayatna, Maitrayani permaisuri, Sudarsana biarawan, satu anak laki-laki memanggil Indriyesvara, upasika Prabhuta, Ratnachuda bankir, Rajaanala, Tuhansiva mahadewa, maya ratu, boddisattvaa matreya.kemudian kembali Manjusri. Masing-masing rapat telah memberikan Sudhana satu doktrin spesifik, pengetahuan dan kebijaksanaan. Rapat ini diperlihatkan pada balai seni ketiga.
Setelah terakhir mengalami Manjusri, Sudhana pergi ke tempat tinggal dari Bodhisattva samantabbadra ; dilukiskan pada balai seni ke-empat. Rangkaian seluruh dari balai seni ke-empat dipersembahkan ke pengajaran dari Samantabhadra. Panel naratif akhirnya berakhir dengan perampungannya Sudhana dari Pengetahuan Tertinggi dan Kebenaran Terakhir. [57]
ix. Arca Buddha

Satu data status Buddha di dalam satu stupa

Satu data status Buddha dengan posisi tangan dari dharmachakra mudra (mengarahkan Roda dari Hukum)
Terpisah dari cerita dari kosmologi. ukiran di dalam melempar, Borobudur punya banyak data status dari berbagai Buddhas. Data status berkaki yang seberang didudukkan pada satu teratai memposisikan bunga .dan terdistribusi pada lima platform kuadrat ( Rupadhatu taraf) seperti halnya di bagian atas platform ( Arupadhatu taraf).
Data status Buddha berada di dalam relung pada Rupadhatu taraf, disusun berderet pada sisi luar dari pelepar, angka dari data status menyusut seperti platform semakin kurangi ke taraf bagian atas. Yang pertama pelepar punya 104 relung, detik 104, ketiga 88, ke-empat 72 dan ke-lima 64. Secara keseluruhan, ada 432 data status Buddha pada Rupadhatu taraf. [1] Pada Arupadhatu taraf (atau tiga platform lingkar), Data status Buddha ditempatkan di dalam dobol stupas.. Yang pertama lingkar platform yang punya 32 stupas, detik 24 dan ketiga 16, yang menambahkan ke 72 stupas. [1] Dari asli 504 data status Buddha, berlalu 300 dirusakkan (kebanyakan memimpin tanpa) dan 43 luput (sejak penemuannya monumen, kepala telah dicuri seperti butir datanya alat pengumpul, kebanyakan oleh musium Film Koboi). [58]
Di kerling, semua data status Buddha tampak serupa, tapi terdapat sebuah akal dan tipu muslihat perbedaan di antara mereka pada ,mudras atau posisi dari sampai. Ada lima group dari mudra : Utara, Timur, Selatan, Barat dan Senit, wakili yang lima titik kompas utama sesuai dengan mahayana.. Yang pertama empat pelepar yang punya yang pertama empat mudras : Utara, Timur, Selatan dan Barat, dari yang mana data status Buddha rupa itu arah kompas sesuatu punya sesuai mudra . Data status Buddha pada pelepar ke-lima dan di dalam 72 stupas di bagian atas platform punya yang sama mudra : zenit. Masing-masing mudra wakili salah satu buddhas.; masing-masing punyai perlambangannya sendiri. [59]
Mengikuti order dari Pradakshina (circumumbulation) gerakan searah jarum jam mulai dari timur, mudras dari data status Borobudur Buddha adalah:
arca Mudra Symbol Dhyani Buddha Titik utama Lokasi arca
Bhumisparsa mudra Meminta bumi sebagai bersaksi Aksobhya
timur Rupadhatu relung pada pertama 4 pelepar sebelah timur
Vara mudra Kebajikan, pemberian sedekah Ratnasambhava
Selatan Rupadhatu relung pada pertama 4 pelepar selatan

Dhyana mudra Konsentrasi dan meditasi Amitabha
Barat Rupadhatu relung pada pertama 4 pelepar barat

Abhaya mudra Keberanian, tanpa takut Amoghasiddhi
Utara Rupadhatu relung pada pertama 4 pelepar utara

Vitarka mudra Memberi alasan dan kebaikan Vairochana
Zenith Rupadhatu relung di segala jurusan pada ke-5 (paling atas) pelepar
Dharmachakra mudra
Mengarahkan roda dari dharma (hukum) Vairochana
Zenith Arupadhatu pada 72 dobol stupas pada 3 platform bulat

x. Restorasi

Melekatkan beton. dan pvc. pipa. untuk meningkatkan sistem drainasenya Borobudur selama 1973 restorasi
Borobudur menarik untuk perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Pimpinan Masyarakat Arkeologis di Yogyakarta, dibuat satu penemuan sekitar menyembunyikan kaki . [49] Potret pelahiran maksud itu relief pada kaki tersembunyi dibuat di 1890–1891. [60] Penemuan yang pimpin Timur Belanda pemerintah Indies untuk bertindak melindungi monumen. Pada 1900, pemerintah membangun satu komisi terdiri dari tiga pejabat untuk mengaji monumen: Brandes, satu sejarawan., Van Theodoor Erp, satu angkatan. rekayasa executive, dan Van tidak Kamer, satu insinyur konstruksi dari Departemen dari Umum Pekerjaan.
Pada 1902, komisi yang sampaikan satu rencana lipat tiga dari usulan ke pemerintah. Pertama, bahaya langsung harus dihindari dengan menata ulang sudut, menyingkirkan batu yang berbahaya bagian berdekatan, memperkuat yang pertama pelepar dan menyimpan ulang beberapa relung, jalan bawah atap lengkung, stupas dan kubah utama. Kedua, memagari batal halaman, menyediakan pemeliharaan sesuai dan drainase peningkat dengan menyimpan ulang lantai dan cerek. Ketiga, semua batu lepaskan harus disingkirkan, monumen yang menjernihkan untuk yang pertama pelepar, dijelekkan tersingkirkan yang batu dan kubah utama tersimpan ulang. Biaya keseluruhan ditaksir pada waktu itu sekitar 48,800 guilders belanda.
Pembangunan kembali inggris kemudian diselesaikan di antara 1907 dan 1911, mempergunakan prinsip dari anastylosis dan dipimpin oleh van Theodor Erp. [61] Yang pertama tujuh bulan restorasinya diduduki dengan menggali halus sekitar monumen untuk menemukan hilang Buddha pimpin dan pasang panel batu. Van Erp membuka dan bangun kembali tiga lingkar bagian atas platform dan stupas. Sepanjang, Van Erp menemukan lebih hal-hal dia dapat lakukan untuk meningkatkan monumen; dia menyampaikan usulan lain yang disetujui dengan tambahan ongkos 34,600 guilders. Pada mulanya mengerling Borobudur telah disimpan ulang ke mulia tua ini.
Sehubungan dengan anggaran keuangan terbatasnya, pembangunan kembali inggris terutama semata tercurah pada pembersihan patung, dan Van Erp tidak menyelesaikan masalah drainase. Pada lima belas tahun, tembok balai seni adalah kelonggaran dan relief tanda showed dari rekahan lagi dan pembusukan. [61] Van Erp mempergunakan beton dari yang mana garam alkali. dan hidroksida kalsium. dilarutkan dan diangkut ke dalam sisa dari konstruksi. Ini menyebabkan beberapa masalah, sehingga itu satu renovasi selanjutnya saksama sangat dibutuhkan.
Restorasi kecil telah dilaksanakan sejak itu, tetapi bukan cukup untuk melengkapi perlindungan. Di akhir 1960s, pemerintah indonesia. telah meminta dari komunitas internasional satu renovasi utama untuk melindungi monumen. Pada 1973, satu rancangan induk untuk menyimpan ulang Borobudur diciptakan. [30] Pemerintah Indonesia dan UNESCO. kemudian lakukan pemeriksaan secara seksama lengkap dari monumen pada satu restorasi besar memproyeksikan di antara 1975 dan 1982. [61] Fondasi distabilkan dan semua 1,460 panel dibersihkan. Pembangunan kembali inggris melibatkan pembukaan dari lima platform kuadrat dan ditingkatkan drainase dengan melekatkan air menyalurkan ke dalam monumen. Berdua yang tidak dapat ditembus dan lapisan saring ditambahkan. Proyek kolosal ini dilibatkan di sekitar 600 orang-orang untuk menyimpan ulang monumen dan biaya sebanya US$. 6,901,243. [62] Setelah renovasi selesai, unESCO mendaftarkan Borobudur sebagai satu bagian warisan dunia pada 1991. [3] Ini didaftarkan pada kriteria Budaya (aku ) "untuk mewakili satu karya agung genius kreatif manusia", (ii.) "untuk menunjukkan satu pertukaran penting dari nilai manusia, berlalu satu jengkal waktu atau pada satu area budaya dari dunia, pada pembangunan di arsitektur atau teknologi, seni sangat besar, desain rencana tata kota atau pemandangan", dan (vi) "yang secara langsung atau tangibly menghubungkan dengan adat-istiadat peristiwa atau hidup, dengan ide, atau dengan kepercayaan, dengan artistik dan kesusasteraan bekerja berkaitan dengan arti universal terkenal". [3]

h. Mendut



1. Lokasi
Mendut adalah satu abad kesembilan candi Budha , ditempatkan di Mendut desa, Kelurahan Mungkid, Kabupaten, magelang jawa tengah , Candi ditempatkan tentang tiga kilometer timur dari Borobudur . Mendut, Borobudur dan pawon semua yang Budha candi, ditempatkan di garis lurus sesuatu. Terdapat sebuah hubungan religius timbal balik di antara tiga candi, walau upacara agama tepat proses adalah tidak diketahui. [1]

2. Sejarah
Dibangun sekitar awal abad kesembilan, Mendut adalah paling tua dari tiga candi termasuk Pawon dan Borobudur. Dari prasasgti Karang Tengah, bangunan ini selesai semasa raja dari Raja Indra dari dinasti Sailendra . yaitu yang tanggali 824 menyebutkan Raja itu Indra dari Yang Sailendra telah membangun satu dinamakan bangunan suci Venuvana yang berarti "hutan bambu". Ahli arkeologi belanda JG tidak Yang Casparis telah menghubungkan candi yang disebutkan di catatan Karang Tengah dengan candi Mendut
3. Penemuan

Rusak dari candi Mendut sebelum restorasi, 1880.

Pada 1836nya ditemukan sebagai satu rusak meliputi dengan bush. Pembangunan kembali inggris dari candi ini mulai pada 1897 dannya selesai pada 1925. Beberapa ahli arkeologi yang punya mengendali penelitian di sini candi adalah JG tidak Casparis, Van Theodoor Erp, dan Arisatya Yogaswara.
4. Arsitektur

arcadari Dhyani Buddha vairocana,avalokitecwara,dan vajrapani didalam candi mendut.
candi jangkung menghadap barat laut. Pemroyeksian tangga dari sisi barat laut dasar persegi layang dihiasi dengan makara arca pada masing-masing sisi, sisi dari stairwall yang mengukir dengan relief bas dari dongeng menceriterakan cerita hewan dari pengajaran budha. Terras mengelilingi candi dibaca secara pradakshina dengan arah jarum jam .
Tembok luar dihiasi dengan relief bas dari Boddysatwa (ketuhanan budha), seperti itu avalokitecvara,maitreya, cunda,ksitigarbha, samatabbadra,Mahakarunika Avalokitesvara, vajrapani,manjusri,akasagarbha dan Boddhisattvadevi pradjnaparamita.
Mula-mulacandi memiliki dua bilik, satu bilik kecil di depan, dan bilik utama yang besar pada pusat. Atap dan beberapa bilik berhadapan tembok luput. Tembok bagian dalam dari bilik depan dihiasi dengan relief bas dari harriti di kelilingi anak-anak, Atavaka di sebelah lain, kalpataru, juga group dari devatas ketuhanan terbang di sorga.
Bilik utama yang pondokkan tiga dengan indah batu besar yang terukir arca. Tiga arca itu adalah terutama Budha ketuhanan memuja-muja di candi Mendut yang yang dapat menjelaskan penggunaan rohani dari penetapan dari candi ini. 3 arca dari Dhyani Buddha vairocana dimaksudkan untuk membebaskan pemuja dari hidup-hidup karma, pada sebelah kiri adalah arca Boddhisatva avalokitecwara untuk membebaskan dari karma dari suara, di kanan adalah Boddhisatva vajrapani untuk membebaskan dari karma dari pikir.

lokasi cansi mendut

i. Pawon

candi mendekati Borobudur, jandi bercorak jawa tengah.
1. lokasi
Pawon (diketahui di tempat itu seperti Candi Pawon ) adalah satu Budha candi di jawa tengah Ditempatkan di antara dua candi Budha lain, Borobudhur 1. 75 km (1 mi) ke timur laut) dan mendut (1. 15 km (1 mi) ke barat daya),


Lokasi dari candi Budha tiga serangkai: Borobudur Pawon Mendut pada satu garis lurus.


Relief dari pohon Kalpataru pada tembok luar.

2. Sejarah
Candi Pawon dihubungkan dengan dua candi lain, semua yang dibangun selama dinasti sailendra (Abad 8th–9th). detil dan gaya mengukir candi ini adalah sedikit lebih tua dibandingkan Borobudur.
Nama asli dari tempat suci Budha ini adalah tidak-pasti. Pawon secara harafiah berarti "dapur" di bahasa jawa , yaitu memperoleh dari akar kata awu atau debu. Koneksi ke sabda "debu" juga saran bahwa candi ini mungkin bangun sebagai satu candi liang kubur atau kamar mayat untuk satu raja. [3] . Pawon dari sabda Per awu satu (tempatkan yang berisi debu), satu candi rumah itu debu dari dikremasikannya raja. Bagaimanapun siapa orang terkemuka yang makamkan sini masih tidak diketahui. Orang-orang lokal menyebutkan candi ini seperti "Bajranalan" berlandaskan nama dari desa. Bajranalan diperoleh dari Sanskrit kata Vajra (geledek atau juga satu alat peraturan adat Budha) dan Anala (api, bernyala).
Pada era jaman ini selama terang bulan di Mungkin atau Juni, budha di indnesia amati waisak upacara agama tahunan oleh berjalan dari Mendut melalui Pawon dan akhir di Borobudur. [4]
j. Candi Plaosan lor dan kidul

Salah satu utama kembar candi dari Plaosan Lor kombinasikan.

1. Lokasi:
Candi Plaosan , juga dikenal sebagai ' Plaosan Kompleks ', adalah salah satu candi Budha ditempatkan di Bugisan desa, Prambanan lokalisir, Jawa tengah Indonesia Candi Plaosan meliputi satu area dari 2,000 meter-persegi dengan satu elevasi dari 148 jangka aras laut di atas. Sungai Dengok ditempatkan dekat, kesana-sini 200 jangka jauh. Candi Plaosan dikelilingi oleh persawahan padi dan tanaman seperti buah pisang dan jagung.
2. Latar belakang historis

Avalokiteśvara pada candi utama Plaosan buat dinding.
Candi Plaosan dibangun pada abad ke-9 yang pertengahan oleh Sri Kahulunnan atau Pramodawardhani, anak perempuan dari Samaratungga, dari Dinasti Sailendra, dan yang dikawini kepada Rakai Pikatan pada adat-istiadat Hindu. Plaosan kompleks adalah satu diatara dua candi Budha, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Candi dipisahkan oleh satu jalan; Plaosan Lor ditempatkan di arah utara dan Plaosan Kidul di dalam selatan. Plaosan Lor terdiri dari dua candi utama dan satu area buka dikenal sebagai satu mandapa. Kedua candi memiliki , satu gerbang, dan arca wali dikenal sebagai Dwarapala. Plaosan Lor dan Plaosan Kidul dipertimbangkan untuk mula-mula adalah seseorang komplek
3. Arsitektur

Dwarapala wali raksasa di depan Candi Plaosan.
Candi kompleks Ploasan disusun dari 174 bangunan kecil, 116 stupa dan 58 adalah tempat suci. Banyak bangunan yang punya catatan. Dua diantara catatan ini menandakan candi sebagai satu hadiah bangunan suci oleh Rakai Pikatan. Tanggal dari catatan adalah di antara 825 - 850 masehi . Walau serupa dengan Prambanan 856masehi , kompleks bukan berhubungan. Satu ilmu pengetahuan tentang teknik gedung baru mencirikan Prambanan dari candi Plaosan. Candi utama di Plaosan disusun dari satu bagian atas dan tingkat yang lebih rendah. Pada taraf bagian atas, beberapa data status bercokol. Bagaimanapun, sebagai posisi dari dikte Windows, hanyalah data status sesuatu bersandarkan taraf dasar yang bawah. Data status ini dipenuhi dari memerahtuakan pelukisan Boddisatva dengan dua data status batu terlampir. Pada tembok luar dari candi utama, barang ukiran dari ketuhanan ditemukan dengan mayoritas menjadi laki-laki. Lebih kecil dan kurang terjadi barang ukiran oleh jendela mewakili perempuan. Satu contoh tradisional diukir penyajian dari satu pangeran Khmer dan adalah diidentifikasi oleh mahkotanya [1] .
Candi Plaosan
Candi Plaosan
di dalam Candi Plaosan
Plaosan mengembarkan candi utama



13 . Keraton Ratu Boko

Gerbang dari Istana senyawa Ratu Boko.
a. Lokasi
Lokasi dari Jogjakarta dapat di capai dari jalan raya kurang lebih 17 km dari peninggalan prambanan belok kekanan sejauh kurang lebih 3 km. sedang dari Jogjakarta 19 km kearah timur menuju arah (wonosari),dari arah barat kota solo sekitar 50 km dan sekitar 3 m dari arah candi prambanan kearah selatan.
Secara administrative kompleks candi ratu book di wilayah kecamatan Prambanan kabupaten Sleman Jogjakarta yang terletak hampir pada ketinggian 200 m diatas permukaan air laut.di bukit boko
b. Sejarah
1. Pendapat masyarakat
Nama “ratu boko” menurut legenda masyarakat sekitar ratu boko “raja bangau” adalah ayah dari roro jonggrang.
2. Menurut para ahli
Kata keraton berasal dari kata Ke-Ra-tuan yang berari tempat tinggal ratu atau istana sedangkan boko memiliki arti burung bangau, penamaan nama boko inipun masing simpang siur siapakah raja bangau tersebut atau apakah dahulu ada banyak burung bangau yang hinggap disekitar kawasan perbukitan ini.
Beberapa pendapat mengenai alasan dibentuknya candi keraton ratu boko:
- Candi ratu boko adalah suatu bangunan yang menurut para ahli di buat untuk membangun sebuah benteng pertahanan
- Prabu Ratu boko membuat sebuah wihara di bukit abaya awal abad ke 8 mula-mula sebagai wihara raden panangkaran.tertuang dalam prasasti abhayagiri Vihara, abhaya yang berarti tidak ada bahaya, giri berarti bukit atau gunung,sedangkan Vihara berarti asrama atau tempat para biksu agama budha yang bertempat di bukit untuk mencari kedamaian tempat menyepi untuk memfomuskan diri terhadap spiritual.
- Fungsi wihara berubah menjadi keraton dan benteng setelah periode raja Rakai Wailang Pu Khumbayoni yang beragama hindu sekitar tahun 856 Masehi,oleh karena itu tidak mengherankan jika dalam keraton ini terjadi perpaduan unsure agama budha dan hindu.
- Mengingat lokasi ibukota mataram mendapat serangan dari barat dan daerah timur dirasa sudah aman karena perlindungan, dari barat gerak lawan termonitor.serangan dari raja balaputra dewa
c. Penemuan
Reruntuhan keraton ratu boko ini pertama kali diketemukan oleh Van Boeckholtz pada tahu 1790, seabad setelah penemuan Van Boeckholtz sekitar tahun 1890,FDK Bosch mengadakan Riset Arkeologis tentang peninggalan kepurbakalaan di selatan candi prambanan dalam laporan yang berjudul Keraton Van Ratoe Boko.
d. Struktur dan tata letak keraton ratu book
Kompleks situs istana ini berada di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 196 meter atau tepatnya 195,97 meter diatas permukaan air laut menepati areal seluas 250.000 m2.
Karena candi ini pernah berfungsi sebagai keraton dan kuil maka peninggalan-peninggalan yang terdapat di situs ini menunjukan cirri-ciri tempat tinggal yang berupa tiang-tiang yang memancang meski sekarang yang tersisa hanyalah batur-batur yang terbuat dari batu andesit, hal ini mengidentifikasikan bahwa bangunan yang berdiri di atasnya berupa kayu. Selain itu terdapat tanah ngarai yang cukup luas dan subur disebelah selatan untuk pertanian dan juga terdapat tendon-tandon penampung air untuk pengairan.
Kraton ratu boko makin dengenal sebagai keratin karena cirinya mirip sekali dalam cerita dikirab bhratayudha,kresnayana,gathtkaca sraya bomakawya yang menyebutkan bahwa dalam kraton itu merupakan kompleks bangunan yang di kelilingi oleh pagar,gapura di dalamnya terdapat kolam,bangunan pemujaan dan di luar kraton terdapat alun-alun.

Timur dari Yogyakarta dan selatan dari prambanan
Tata ruang kompleks kraton ratu boko relative masih lengkap,istana ini terbagi atas empat bagian:
i. Bagian Tengah
Terdiri dari bangunan Gapura utama,lapangan,candi pembakaran , ”agni citi wedi”, di gunakan untuk membakar kurban atau persembahan terhadap dewa. Terdapat tendon air dibelakang agni citi wedi, balok bangunan di gunakan sebagai tanda, di balok tersebut dibatasi olek pagar untuk penampungan air bersih yang digunakan oleh para pemukim para biksu dan raja,batu berumpak, dan paseban.
ii. Bagian tenggara
Meliputi struktur lantai , Di kotak lantai terdapat atap dan tiang hal ini diperkirakan karena di temukanya umpak dan bangunan ini di perkirakan sangat besar yang berfungsi sebagai keratin dalam untuk persinggahan. Batu yang di gunakan yaitu batu kapur dengan cirri berwarna putih.
gapuro,pendopo terdapat dinding lantai
,batur paringgit,miniature tiga candi,tembok keliling kaputren,dua kompeks kolam,dan reruntuhan stupa.kedua kompleks kolam dibatasi pagar dan memiliki gapuro sebagai jalan masuk. Didasar kolam dipahatkan lingga dan yoni, langsung pada batuan induk.
iii. Bagian timur
Di bagian timur terdapat kompleks bangunan meliputi kolam dan dua buah gua yang di sebut gua lanang dan wadon,stupa budha berbentuk ceruk yang berfungsi sebagai tepat bertapa.

iv. Bagian barat
Terdiri atas perbukitan

Yang tidak kalah penting lagi dari bagian candi ini terdapat Sungai dan selatan candi juga terdapat,Terdapat parit yang mengelilingi candi juga terdapat jalan rahasia diantara pagar depan dengan pagar dalam.
e. Struktur bangunan
1. Pintu gerbang istana menuju ke bagian tengah bagian depan, yaitu bagian utama,terdapat dua buah gapura tertinggi yang terdiri dari dua lapis.
- Gapura pertama memiliki tiga pintu
Pada gapura ini terdapat tulisan Panabhrawa kata ini berdasarkan prasasti Wanua tengah III, di tuliskan oleh rakai panabwara (keturunan rakai panangkaran)yang mengambil alih istana, tujuan penulisan untuk melegitimasi kekuasaanmemberi kekuatan bahwa balai itu merupakan balai agung dan member pernyataan bahwa bangunan itu merupakan bangunan utama.
- Gapura ke dua memiliki 5 pintu
2. Alun-alun yang memiliki batur tinggi
di alun-alun terdapat batur yang tinggi, yang di sebut candi pembakaran mayat sesuai dengan namanya tampat ini berfungsi sebagai tempat pembakaran mayat orang Hindu, batungan ini memiliki ukuran lebih dari 25x10 m dan tinggi sekitar 1,5 m, dengan tangga menghadap ke barat, di tempat ini di temukan sisa-sisa pembakaran.
3. Sumur mistery
Letak sumur ini berada di sebelah tenggara candi konon nama sumur ini ialah Amerta Mantana yang berarti air suci yang di berikan mantra,orang hindu pada jaman itu menggunakan sumur ini untuk upacara tawur agung sehari sebelum nyepi yang berfungsi untuk memurnikan diri dan mengembalikan bumi dan isinya ke harmoni awal sebelum nyepi proses upacara ini di lakukan di perambana.
4. Kopleks kraton
Kearah barat menyusuri desa Dawung dilereng bukit terdapat bekas kompleks kraton yaitu paseban dan pendopo
- Halaman paling depat terletak di sebelah barat teras yang masing-masing teras dipisahkan oleh pagar batu andesit
- Batas paling selatan juga merupakan pagar batu andesit
- Batas utara dinding bukit yang di pahat langsung
5. Dua buah gua
Yang berada di sebelah timur terdapat dua buah gua yang berukuran 20 meterx50 meter dan terdapat setupa buda yang terlihar tenang.dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen disebut Breksi Pumis. Gua yang berada diatas di sebut gua lanang sedang dibawah di sebut gua wadon. Persisi di muka gua lanang terdapat sebuah kolam dengan tiga stupa. Di ketahui dari sebuah penelian menyatakan bah stupa itu merupakan aksobya,salah satu panteon budha.
f. Kombinasi
Terdapat lingga,yoni arca Durga dan ganesa sebuah cirikhas dari bangunan hindu, sedangkan dari xiri budhanya terdapatnya setupa budha.
1) Candi Batupulah
- Sebagai post penjagaan terdepan, maduraksa berbentuk ratna.
- Terdapat pagar dan anak tangga pintu depan yang kedua.


b. Candi peninggalan Singosari dan kanjuruhan
b. Candi kagenengan dan candi singosari
Candi kagenengan sampai sekarang belum ditemukan dimana letaknya tapi menurut kitap negara kretagama berada di selatan kota Malang.namun hanya candi singosari yang terkenal.candi singosari dikenal sebagai candi Hindu karena pada masa kerajaan singosari berkembang duaagama yaitu agama hindu dan budha, karena bangunan yang bercorak hindu lebih mendominasi bangunan candi ini, maka bangunan candi ini di sebut candi Hindu.
i. Lokasi candi singosari
Terletak di desa Candirejo, kecamatan singosari kabupaten Malang menghadap kebarat (dijalan Kertanegara) diketemukan pada tahun 1803 oleh Nicol Angel Hard seorang Belanda yang menjabat sebagai seorang Gubernur yang di tugaskan di jawa timur melalui laporan kantornya di pasuruhan
ii. Sejarah
Candi Singosari di bangun pada masa kerajaan singosariyang di gunakan untuk memprabukan istri ken Arok yang bernama Ken Dedes yang makam itu berada di sebuah pendapa yang disebut candi putri arca prajna Paramitha bersikap duduk bersemadi dan tangan Darmacakra Mudra. Namun arca ini sekarang berada di Musium Nasional Jakarta.
Sejarah candi singosari menurut pengembangnya:
- Candi singosari dibangun pada masa pemerintahan kertanegara pada tahun 1268-1292 namun pembangunan candi belum selesai karena mendapat serangan dari Kediri, dan kertanegara meninggal pada tahun 1292.
- Candi Singosari di bangun pada jaman Majapahit hal ini dilihat dari pembangunan candi melalui tahapan candi di bangunan setelah 12 tahun meninggalnya raja.
iii. Luas candi
Luas situs cani singosari sekarang 50 meter persegi berdasarkan J.Blum sebenarnya bangunan candi singosari terdapat tujuh candi nammun yang enam diantaranya sudah hancur begitupun arca-arcanya sudah hancur.
Ada pula arca yang masih utuh dari candi singosariyang disebutkan sebagai arca pradjna paramita atau kendedes arca tersebut pernah dibawa ke Belanda namun pada tahun 1978 sudah dikembalikan dan diletakan di museum nasional.
iv. Arca pada candi
- terdapat tiga dewa yang memiliki kedudukan tertinggi disebut trimurti
1. Brahma
2. Wisnu
3. Siwa
- sehingga menjadi urutan lingga
1. bagian dasar: siwa
2. bagian tengah: Wisnu
3. bagian atas: Brahma
- dalam candi singosari trdapat lima ahli yang memiliki tugas merawat tempat ini ahli itupun berasal dari kasta brahmana
• stapata orang yang bertanggung jawab pada lokasi/tempat
•stapati orang orang bertugas dalam pengukuran dan dibantu oleh tiga orang pekerjanya yaitu:
 Sutagrahin
 Daryakin
Taksaka

v. Susunan Bangunan
- Tinggi asli : 17 meter
- Tinggi Sekarang: 15,30 meter
- Panjang: 14 meter
- Lebar; 14 meter
- Bahan candi: batu andesit
- Atribut:mahakala atau banaspati yang berfungsi menjaga bilik untuk menolak roh jahat.
vi. Bagian pada candi terdiri atas empat bagian:
- Batur/teras candi/fondasi candi
- Kaki candi didalamnya terdapat bilik/ruang ruang yang terdiri dari 6 bilik
 Sebelah utara terdapat 1 bilik
Merupakan tempat Arca dewi durga,namun saat ini tidak ada
 Sebelah timur terdapat 1 bilik
Merupakan tempat arca dewa Ganesya namun saat ini arca tidak ada
 Sebelah barat terdapat 3 bilik
Merupakan tempat lingga,yoni Nandiswara dan Mahakala.
 Sebelah selatan terdapat 1 bilik
Merupakan tempat siwahabu
- Badan candi
- Puncak
vii. Fungsi Candi
- Pemujaan :
candi di gunakan untuk upacara keagamaan /religius misalkan pada candi singosari dilakukan upacara tantrayana.
- Makam raja;
Candi di gunakan sebagai makam raja oleh rakyatnya atau dubuat tempat pemujaan terhadap leluhurnya
- Fungsi social:
•di gunakan untuk mempersatukan rakyat singosari melalui upacara keagamaan.
•menguntungkan pada masyarakat sekitar karena candi di gunakan sebai tempat pariwisata.

c. Candi tumpang atau candi jago
1. Lokasi
di desa tumpang Malang
2.

k. Candi Jago berasal dari kata "Jajaghu", didirikan pada masa Kerajaan Singhasari di abad ke-13. Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, atau sekitar 22 km dari Kota Malang, pada koordinat 8°0′20.81″S 112°45′50.82″E / 8.0057806°LS 112.7641167°BT.
l. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
m.
n.
o. Candi Jago
p. Pada candi inilah Adityawarman kemudian menempatkan Arca Manjusri seperti yang disebut pada Prasasti Manjusri. Sekarang Arca ini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 214.

Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Keseluruhannya memiliki panjang 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m. Bangunan Candi Jago nampak sudah tidak utuh lagi; yang tertinggal pada Candi Jago hanyalah bagian kaki dan sebagian kecil badan candi. Badan candi disangga oleh tiga buah teras. Bagian depan teras menjorok dan badan candi terletak di bagian teras ke tiga. Atap dan sebagian badan candi telah terbuka. Secara pasti bentuk atap belum diketahui, namun ada dugaan bahwa bentuk atap Candi Jago menyerupai Meru atau Pagoda.
Pada dinding luar kaki candi dipahatkan relief-relief cerita Kresnayana, Parthayana, Arjunawiwaha, Kunjarakharna, Anglingdharma, serta cerita fabel. Untuk mengikuti urutan cerita relief Candi Jago kita berjalan mengelilingi candi searah putaran jarum jam (pradaksiana).
Pada sudut kiri candi (barat laut) terlukis awal cerita binatang seperti halnya cerita Tantri. Cerita ini terdiri dari beberapa panel. Sedangkan pada dinding depan candi terdapat fabel, yaitu kura-kura. Ada dua kura-kura yang diterbangkan oleh seekor angsa dengan cara kura-kura tadi menggigit setangkai kayu. Di tengah perjalanan kura-kura ditertawakan oleh segerombolan serigala. Mereka mendengar dan kura-kura membalas dengan kata-kata (berucap), sehingga terbukalah mulutnya. Ia terjatuh karena terlepas dari gigitan kayunya. Kura-kura menjadi makanan serigala. Maknanya kurang lebih memberikan nasihat, janganlah mundur dalam usaha atau pekerjaan hanya karena hinaan orang.
Pada sudut timur laut terdapat rangkaian cerita Buddha yang meriwayatkan Yaksa Kunjarakarna. Ia pergi kepada dewa tertinggi, yaitu Sang Wairocana untuk mempelajari ajaran Buddha.


Salah satu patung yang awalnya terdapat pada Candi Jago, yang merupakan perlambangan Dewi Bhrkuti
Beberapa hiasan dan relief pada kaki candi berupa cerita Kunjarakarna. Cerita ini bersifat dedaktif dalam kepercayaan Buddha, antara lain dikisahkan tentang raksasa Kunjarakarna ingin menjelma menjadi manusia. Ia menghadap Wairocana dan menyampaikan maksudnya. Setelah diberi nasihat dan patuh pada ajaran Buddha, akhirnya keinginan raksasa terkabul.
Pada teras ketiga terdapat cerita Arjunawiwaha yang meriwayatkan perkawinan Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara Guru setelah Arjuna mengalahkan raksasa Niwatakawaca.
Hiasan pada badan Candi Jago tidak sebanyak pada kakinya. Yang terlihat pada badan adalah relief adegan Kalayawana, yang ada hubungannya dengan cerita Kresnayana. Relief ini berkisah tentang peperangan antara raja Kalayawana dengan Kresna. Sedangkan pada bagian atap candi yang dikirakan dulu dibuat dari atap kayu/ijuk, sekarang sudah tidak ada bekasnya.
[sunting] Asal Usul
Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Dan kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Manjusri[1].
[sunting] Referensi
1. ^ Brandes, J.L.A., (1904), Beschrijving van de ruïne bij de desa Toempang, genaamd Tjandi Djago in de Residentie Pasoeroean, 's-Gravenhage-Batavia, Nijhoff/Albrecht.

c. Candi Badut
i. Lokasi
Terletak di dekat dukuh badut,desa karang besuki kecamatan sukun,kotamadya malang,sevara administrative candi badut terletak di desa karang Widoro kecamatan Dau otamadya Malang namun setelah pengembangan kotamadya Malang desa karang besuki ikut kota madya malang sedang tanah candi ikut wilayah kabupaten malang.
ii. Penemuan
Candi ini ditemukan pada tahun 1921 dimana bentuknya pada saat itu hanya berupa gundukan bukit batu, reruntuhan dan tanah. Orang pertama yang memberitakan keberadaan Candi Badut adalah Maureen Brecher, seorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya.

iii. History
Candi badut diperkirakan berdiri pada masa kerajaan kanjuruhan yang pernah berdiri di wilayah Malang sekitar abad ke-8 Masehi, hubunga itu dapat dilihat dengan gaya ornamentasi dan arca yang serupa dengan bentuk kesenian yang berkembang pada bangunan-bangunan abad .
iv. Penamaan
Candi ini di namakan candi badut karena letaknya yang berada di dukuh badut, sedangkan asal usul nama badut itu sendiri terjadi beberapa pendapat yang b erbeda di antara para ahli.
1. Menurut penduduk sekitar
Asal anama badut diambil dari salah satu nama jenis pohon nangka yang pernah tumbuh di daerah itu dan pohon itu tumbuh di dekat candi ketika candi itu diketemukan dalam bentuk runtuh.oleh karena itu asal nama candi badut diambil berdasarkan nama pohon badut yang kebanyakan tumbuh di daerah itu.
2. Menurut Prof. DR.R.NG.Purbatcaraka
Nama badut diambil dari nama kerajaan kanjuruhan yang di dugamembangun tempat suci itu nama kecil (garbopati) sag raja yaitu liswa dan ketika menjadi bergelar abhiseka Gajayana,kata Liswa itu sendiri menurut Purbacaraka berarti pelawak atau Badut.
3. Menurut Vander Maulen
Nama badut merupakan nama lain dari rsi Agastya sebagai seorang rsi yang di agung-agungkan oleh raja Gajahyana dan kata badut berasal dari kata Ba=bintang agastya (Chopus) dan Dyut=sinar atau cahaya. Beliau membandingkatnama candi ini dengan nama Mendut yang diambil dari kata Men=sorot dan Dyut=cahaya.
v. Pembahasan
- Kaki candi polos tanpa hiasan atau motif
- pada ruangan induk candi yang berisi sebuah pasangan arca tidak nyata dari Siwa dan Parwati dalam bentuk lingga dan yoni. Pada bagian dinding luar terdapat relung-relung yang berisi arca Mahakal dan Nadiswara. Pada relung utara terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Relung timur terdapat arca Ganesha. Dan disebelah Selatan terdapat arca Agastya yakni Syiwa sebagai Mahaguru. Namun diantara semua arca itu hanya arca Durga Mahesasuramardhini saja yang tersisa.
- Terdapat hiasan motif kertas temple pada dinding candi
- Gaya arca Durgamahisasuramardini seperti gaya arca abad ke-8 masehi yang terletak direlung utara dinding candi Badut.
- Hiasan kepala kala yang masih mirip dengan muka singa dicandi borobudhor
- Lukisan dewi-dewi di kahyangan yang berada di ataskepala kala di sisi utara,timur dan selatan (hilang) merupakan tambahan pada abad ke-10
- Simbar-simbar yang memenuhi puncak (simbar berbentuk segitiga) merupakan tambahan pada abad ke-13 mulanya hanya memiliki3 buah setiap sisi.kemudian diperbanyak menjadi 5buah di setiap sisi. Dengan demikian candi badut juga pernah dipugar oleh raja yang berkuasa pada abad ke 10 dan 13.
vi. Prarsasi dinoyo
Dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 saka (760 M)prasasti ini terpecah menjadi tiga bagian bagian yang terbesar di temuka didesa dinoyo,sedangkan yang dua ditemukan di daerahMerjosari, isi dari prasasti tersebut menceritakan mengenai:
- Raja Gajayana dan susunan keluarga Gajayana yang terdiri dari:
1. Ayah Dewa Simha (disebut neneknda raja)
2. Dewa Simha (Ayah raja Gajahyana)
3. Gajahyana (lisva)
4. Putri Uttejana
- Tentang pembuatan tempat (bangunan suci) oleh raja Gajahyana untuk menghormati seorang rsi yang bernama Agastya dari isi prasasti itu member dugaan bahwa bangunan tempat suci yang dimaksud itu adalah candi Badut.

b. Candi Kidal
1. Lokasi
Berada di sebelah tenggara kota malang
2. Kontruksi candi
- Puncak candi telah jatuh dan hiasan telah banyak yang rusak
- Candi Kidal merupakan satu bangunan
- Bagian bawah candi agak tinggi dan memiliki serambi di sekeliling badan candid an ruangan yang agak kecil di dalamnya tubuh dan atapnya berbentuk piramida
- Kala (banaspati) memiliki ranhang di bawah “cirri khas candi jawa timur”
- Arca yang diletakan di bilik candi telah hilang
- terdapat stinggil di muka candi yang memiliki candi kecil sebanyak tiga buah diatasnya. Hiasan berupa singa berdiri di sudut candi
3. Relief
Relief hanya ukiran burung kakak tua,makara dan Naga
4. Arca
- Terdapat arca wisnu yang dan arca garuda di basemen candi
- Garuda menjunjung orang dan menjujung amerta, terdapat juga garuda yang menjunjung ular naga
- Cerita garuda ini berhubungan dengan cerita garuda yang mencuri bejana amerta.
- Cerita garuda tidak ada kaitanya dengan arca perwujutan pada candi
- Terdapat arca mahakala dan nandiswara pada halaman candi hal ini memberikandugaan bahwa terdapat arca siwa. Mahakala Nampak berdiri dengan tangan kanan bersandar pada sebuah Gada dan tangan kirinya bersandar di pinggir nandiswara,memegang trisula pada tangan kanannya dan tasbih pada tangan kirinya.
- Terdapat arca Budha perempuan yang sedang duduk, yang di sebut Cunda


d. Candi peninggalan kerajaan majapahit
1. Candi Sumberjati
2. Candi Rimbi
3. Candi penataran
4. Langsung ke: navigasi, cari
5.
6.
7. Relief gambar seorang dwarapāla (penjaga pintu)
8.
9.
10. Candi Penataran. Tampak belakang bangunan utama candi
11.
12.
13.
14.
15. Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Lokasinya di Wikimapia [1]. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kadiri dan dipergunakan sampai dengan Kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.
16. Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).
17. Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan (khodam) sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.
18. Seperti pada umumnya relief candi di Jawa Timur yang dipahat berdasarkan analogi romantika hidup tokoh yang didharmakan di tempat tersebut, relief Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, dan relief Krisnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini, yang dipahatkan pada dinding candi Penataran dapat dikatakan mirip dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Ketokohan Ken Arok sendiri masih menjadi kontroversi antara karakter seorang bandit yang berambisi memperbaiki keturunan setelah mengerti arti cahaya yang terpancar dari gua garbha milik Ken Dedes yang dilihatnya dan kemudian membunuh Tunggul Ametung yang menjadi suami sang nareswari, dengan karakter seorang bangsawan yang mengemban amanat dari Mpu Purwa yang merupakan ayahanda Ken Dedes sekaligus keturunan Mpu Sindok untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kanjuruhan yang ditaklukkan oleh kerajaan Kediri, dengan dukungan kalangan brahmana dari kedua kerajaan. Alkisah seluruh mpu dari kerajaan Kediri berpindah ke wilayah Tumapel sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan menjadi penyebab kekalahan Kediri dalam peperangan melawan Tumapel di wilayah Ganter pada tahun 1222. Dibunuhnya Mpu Gandring yang tidak menyelesaikan keris pesanan Ken Arok pada waktunya konon juga berkaitan dengan para mpu yang mulai meninggalkan kerajaan Kediri sehingga menimbulkan kecurigaan Ken Arok bahwa Mpu Gandring berpihak pada Kediri. Keris tersebut kemudian diselesaikan oleh mpu yang lain dengan demikian indah sehingga menarik perhatian dan mudah dikenali ketika Kebo Ijo memamerkannya kepada semua orang, sebelum akhirnya keris tersebut digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.
19. Kitab Negarakretagama menyebutkan bahwa Ken Arok dicandikan di daerah Kagenengan, yang dewasa ini masih tersisa sebagai nama desa di wilayah selatan Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Pakisaji. Belum dapat dipastikan apakah Desa Kagenengan ini merupakan tempat yang sama yang disebut dalam kitab Negarakertagama, dan apakah luas daerah ini pada zaman itu meliputi wilayah Kecamatan Nglegok, tempat Candi Penataran berada.
20. [sunting] Gaya relief
21.
22.
23. Relief rendah pada bangunan induk Komplek Percandian Penataran. Perhatikan penggambaran figur manusia yang mirip wayang.
24. Selain sebagai komplek percandian terluas, Candi Penataran juga memiliki kekhasan dalam ikonografi reliefnya. Gaya reliefnya menunjukkan bentuk yang jelas berbeda dari candi-candi Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11 seperti Candi Prambanan. Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang kulit, seperti yang bisa dijumpai pada gaya pengukiran yang ditemukan di Candi Sukuh, suatu candi dari masa akhir periode Hindu-Buddha dalam sejarah Nusantara.
25. Candi ini diusulkan dalam daftar kandidat UNESCO World Heritage Tentative List [2] sejak 19 Oktober 1995.

i. Lokasi
Lokasi bangunan terletak di lereng barat daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut, di suatu desa yang bernama penataran yang terletak di kecamata Ngelegok Blitar,12 km dari kota Blitar. Candi penataran terdaftar pada dinas purbakala pada tahun 1914-1915 nomor 2040 dan catatan Van beek nomor 563.
ii. Riwayat penemuan
Candi Penataran di ketemukan pada tahun 1815 namun sampai tahun tersebut candi penataran belum banyak dikenal penemu candi penataran ini ialah Sir Thomas Stamfort Raffles (1817-1826)kemudian letnan jendral Gubernur colonial india belanda Andre de la porte dan asisten residen J.Knebel mengadakan penelitian atas candi penataran hasil penelitiannya maka mereka membukukan hasil penelitian yang terbit pada tahun 1900 yang berjudu “De ruines van Panataran”dengan berdirinya kepurbakalaan bersama oudheidkundige dienst”OD” pada tanggal 14/06/913 maka penanganan Penataran menjadi lebih intensf.
iii. Susunan umum kompleks percandian
- Letak bangunan berhadap-hadapan terus kebelakang yang sepintas agak membingungkan.
- Susunan bangunan agak mirip degan susunan bangunan Pura di Bali halaman yang terletak paling belakang merupakan tempat paling suci karena merupakan bangunan induknya.
- Pintu masuk juga merupakan pintu keluar yang terletak di sebelah barat dan seluruhnya terbuat dari batu andesit.
- Terdapat 6 buah bekas bangunan berupa pondasi yang terbuat dari batu bata merah
- Melihatnya banyak umpak batu yang tersisa di perkirakan dahulu terdapat banyak bangunan yang bertiang kayu namun berapa jumlah tiang kayu tersebut belum bisa diketahui dengan pasti.
- Terdapat beberapa bangunan lain di luar candi yang masih ada kaitanya dengan candi penataran yang berupa kolam berangka 1337 saka atau 1415 masehi di sebelah utara lagi terdapat kolam atau patirtanyang ukurannya cukup besar,terletak 200 meter kea rah timur laut dari percandian.
iv. Uraian bangunan-bangunan penting dan menarik
1. Bale agung
- Berada di barat laut halaman,posisinya sedikit menjorok ke depan,seluruh bangunan terbuat dari batu dinding yang masih polos.
- Pada dinding sisi selatan dan sisi utara terdapat tangga masukyang merupakan undak-undakan sehingga membagi dinding menjadi dua bagian utara dan selatan.
- Pada dinding selatan terbagi menjadi tiga bagian.
- Sekeliling tubuh bale agung dililiti oleh relief ular naga, kepala ular tersebul pada bagian sudut bangunan.
- Di sebelah kiri dan kanan masing-masing tangga naik terdapat arca Mahakala.
2. Pendopo teras
- Pendopo atu teras disebut juga dengan nama batur pendopo
- Terdapat relief yang mengelilingi bangunan ini.
- Pada dinding sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan namun tangga ini tidak berlanjut di dinding bagian utara
- Pada masing-masing tangga masuk di sebelah kiri pipi tangga terdapat arca raksasa kecil bersayap dengan lutut di tekuk pada satu kakinya dan salah satu tangannya memegang gada pipi tangga yang berbentuk ukel besar berhias umpal yang indah
- Pendopo teras berangka tahun 1297 saka atau 1375.
3. Candi angka tahun
- Candi ini disebut candi angka tahun karena diatas ambang pintu masuk bangunan terdapat angka tahun 1297 saka atau 1369 masehi.lokasi berada di sebelah timur pendopo teras dengan jarak sekitar 20 meter.
4. Candi naga
- Bangunan seluruhnya terbuat dari batu.
- Ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter
- Candi ini disebut candi naga karena sekeliling tubuh candi dililit oleh naga dan figure-figur atau tokoh-tokoh seperti raja sebanyak Sembilan buah, masing-masing berada di sudut bagian tengah ketiga dinding dan sebelah kiri dan kanan pintu masuk.
5. Candi induk
- Satu bangunan candi yang paling besar antara bangunan bangunan lain di kompleks candi penataran letaknya di paling belakang dan dianggap bagian paling suci.
- Bangunan inin tersusun atas tiga teras dengan tinggi seluruhnya 7,19 meter.
v. Cerita singkat dalam relief
1. Relief Sang setiawan
Lokasi:dinding sisi timur bangunan pendopo teras
Urutan:Prasawya, dari kiri kekanan dimulai dari sudut tenggara terdiri dari 18 panil.
2. Relief sritanjung
Lokasi:dinding sisi barat kemudian berlanjut pada dinding sisi selatan pada bangunan pendopo teras
Urutan:prasawya, dimulai dari dinding sisi sebelah kanan tangga masuk sebelah selatan.
3. Relief bubuksah dan gagang aking
Lokasi:dinding pendopo teras sisi timur
Urutan:prasawiya,dari kiri ke kanan
4. Relief Ramayana (hanuman duto)
Lokasi:Dinding teras pertama candi induk,mengelilingi dinding teras.
Urutan:prasawya,di mulai dari dinding sisi utara yang menghadap ke barat terus melingkar kembali ke dinding utara yang menghadap ke utara jumlah sekitar 19 panil.
5. Relief kresnayana (Ramayana maling)
Lokasi:didnding teras kedua candi induk
Urutan:pradaksina,dari kanan terus ke kiri.
6. Relief pemburu yang tertipu
Lokasi:dinding sisi utara kolam berangka tahun, dan dibagian belakang terdapat arcapenjaga sebelah kiri utara candi induk.
Urutan:prasawya,dari kiri terus ke kanan,yang dibagian belakang arca Dwarapala candi induk hanya satu adegan.
7. Relief kura-kura yang sombong
Lokasi:dinding kolam berangka tahun,dinding sisi barat
Urutan:pradaksina,dari kanan ke kiri,letak panil hamper di temgah dinding.
8. Relief lembu dan buaya.
Lokasi:dinding kolam berangka tahun di dinding bagian barat,juga terdapat pada bagian belakang arca dwarapala bertahun 1269 saka terletak di sebelah kanan tangga masuk bangunan candi induk sisi utara
Urutan:prasawya dari kiri ke kanan.

vi. Pendapat para Ahli

26. Candi bajang ratu dan kompeks istana maja pahit
a. Kompleks kraton Majapahit
Trowulan adalah satu desa di MojokertoIndonesia propinsi dari Jawa timur Ini dikepung oleh satu lokasi arkeologis meliputi kira-kira 100 kilometer kuadrat. Ini telah disarankan ini adalah lokasi dari kota modal eponymous dari kekaisaran majapahit yaitu dideskripsikan oleh Mpu Prapanca pada abad ke-14 syair negarakertagama dan pada satu Cina abad ke-15 cari sumber. Ini adalah membongkar invasi hak dari Girindrawardhana untuk mengalahkan Kertabhumi pada 1478, setelah peristiwa ini tergeser modal Majapahit ke Daha.
Nagarakretagama mengandung uraian puitis dari istana dari Majapahit dan ini mengepung, tapi adalah terbatas pada sektor kerajaan dan religius. Beberapa detil adalah samar-samar, dan sarjana yang punya mencoba susun satu rencana dari modal telah datang ke kesimpulan berbeda.
Penelitian lebih tua di Yang Trowulan telah memusatkan pada terkenang tersisa: candi, liang kubur, dan satu tempat mandi. Survei arkeologis dan penggalian yang baru-baru ini telah mendirikan sisa dengan industri, aktivitas komersil dan religius, area tempat tinggal dan sistem leding, semua yang bukti dengan populasi tebal selama ke-14 ke abad ke-15. [1] Di Oktober 2009 Kementerian Budaya dan Pariwisata dari Indonesia menyampaikan Trowulan seperti kementrian pariwisata dari Indonesia menyampaikan seperti UNESCO bagian warisan dunia daftar. [2]

Uraian di sumber jaman ini

Bajang Ratu pada 1929, sebelum restorasi
Sesuai dengan rekening dari prapanca ke negarakertagama puisi, senyawa kerajaan dikepung oleh satu tebal, tembok tinggi dari bata merah Dekat adalah jaga dibentengi tempatkan. Gerbang utama ke dalam istana ditempatkan di arah utara tembok, dan dimasuki melalui pintu sangat besar dengan besi berdandan. Sebelah luar gerbang utara adalah satu lama membangun dimana orang istana menjumpai sekali setahun, satu tempat pasar, dan satu persimpangan suci. Saja di dalam gerbang utara adalah satu religius berisi halaman bangunan. Pada sisi barat dari halaman ini adalah astaka yang dikepung oleh kanal dimana orang-orang memandikan. Pada akhir selatan satu gerbang memimpin ke baris dari setelan rumah pada terras dimana istana babu hidup. Gerbang lain memimpin untuk sepertiga halaman berkerumun dengan rumah dan satu hall besar untuk penantian itu diakui ke dalam buat-buatannya mistar. Raja triwulan sendiri, yang balada ke timur dari halaman ini, punyakah astaka pada bata merah berdandan berlandaskan, ornately mengukir pilar kaku, dan satu atap menghias dengan perhiasan lempung. Sebelah luar istana adalah triwulan untuk imam Shiva, Budha, dan anggota lain dari kebangsawanan. Selanjutnya jauh, dan terpisah dari istana oleh membuka bidang, jadilah lebih senyawa kerajaan, meliputi tersebut menteri pemimpin gajah mada Di sini uraiannya Prapanca berakhir.
Satu Cina abad ke-15 mencari sumber mendeskripsikan istana sebagai bersih dan tersimpan baik. Ini dikatakan agar telah dimasukkan pada satu tembok bata lebih dari 10 meter tinggi dan dengan gerbang dobel. Rumah di dalam dibangun pada pilar dan adalah meter 10–13 tinggi, dengan lantai kaku meliputi dengan tikar denda pada orang-orang yang mana duduki. Atap buat dari kayap kaku dan tempat tingal dari orang biasa diatapi dengan krani.
Satu buku pada Majapahit meramahi budi bahasa mendefinisikan ibukota sebagai ' Semua kemana yang seseorang dapat pergi ke luar tanpa melalui lapangan padi.' Relief candi dari Majapahit tidak melukiskan adegan perkotaan, tapi beberapa kandung sket dari hari perhitungan menandai saat astaka memasukkan diantara tembok. Sabda ' kuwu ' di Nagarakretagama tampak menunjuk unit hari perhitungan terdiri dari sekelompok bangunan yang dikepung oleh tembok, dimana suatu jumlah yang besar dari orang-orang hidup pada kontrol dari satu orang bangsawan. Dikarakterisasi pola ini abad ke-16 kota daratan pantai
dari Java Yang dideskripsikan oleh awal pengunjung Eropa, dan ibukotanya Majapahit mungkin tersusun dengan unit demikian.

b. Penemuan
Kota masa lampau rusak di Trowulan telah ditemukan oleh abad ke-19. Tuan Thomas stompford undi gubernur dari jawa dari 1811 hingga 1816 dan satu peminat tidak kenal lelah untuk riwayatnya pulau, dilaporkan keberadaan dari ' rusak dari candi.... disebar tentang negara bagi kebanyakan mil '. Banyak daerah adalah blanketed dengan tebal kayu jati pada waktu itu hutan, membuat mustahil survei terperinci. Meskipun begitu, Undi juga terkesan oleh apa dia melihat bahwa dia nanti untuk menunjuk ke Trowulan sebagai ' bangga ini dari Java '. [3]
c. Situs arkeologis

Lokasi Arkeologis Trowulan. Kuadrat merah adalah situs arkeologis, cahaya cyan adalah jejak dengan kanal masa lampau.
Kebanyakan dari barang peninggalan arkeologis ditemukan di Trowulan dan ini sekitar disimpan dan ditayangkan di museum trowulan ditempatkan pada sisi barat dari Segaran satukan. Penggalian di dan sekitar Yang Trowulan telah memperlihatkan bahwa bagian dari hari perhitungan yang tua masih terletak terpendam pada beberapa meter lumpur dan puing volkanis, satu hasil dari letupan berulang dari Gunung dekat kelut seperti halnya penggenangan berulang dari gunung kelut sungai. Beberapa rusak arkeologis membohongi bebar sekitar Trowulan desa. Beberapa adalah sangat rusak, sementara lain-lain telah mengalami rekonstruksi. Paling dibangun daribata merah .

Candi Tikus memandikan tempat
d. Candi Tikus
adalah satu kolam mandi upacara agama( petirtaan ) yaitu barangkali yang paling terbaru yang rangsang penemuan arkeologis di Trowulan. Candi Tikus memaksudkan ' candi tikus kecil ', nama yang memberikan ke penemuan pada 1914 karena lokasi tampak selama penggalian satu lampiran biakan tikus kecil. Disimpan ulang ke ini menyajikan kondisi pada 1985 dan 1989, kompleks ini dari bata merah mengambil bentuk dari satu melorot, bak segi-empat, ke dalam yang mana satu penerbangan tahapan turun pada sisi utara. Struktur terpenting, yang proyek dari tembok selatan dari bak, kelihatannya ditiru legendary Naiki mahameru Tidak lagi lengkap, ini terdiri dari membuat berteras pondasi, pada saat yang yang akan telah merehatkan satu pengaturan sepusat dari ' menara kecil sekitar puncak paling tinggi dari bangunan.
Tidak jauh dari Candi Tikus pada Keraton melokalisir berdiri baru-baru ini pintu gerbang tersimpan ulang dari Bajang Ratu , satu bata merah rapi gerbang penarikhan paduraksa dari pertengahan - abad ke-14. Bentuk dari struktur adalah jangkung dan langsing, menyingsing ke satu ketinggian dari 16.5 meter dan dekorasi relief ruwet penampilan, terutama pada bagian atap. Bajang Ratu di Jawa secara harafiah memaksudkan ' orang kerdil atau seberang raja adat istiada kawanan menghubungkan gerbang dengan jayanegara Adat-istiadat detik raja Majapahit, pengganti kertarajasa jayawardana , pendiri dari Kekaisaran Majapahit. Sesuai dengan adat-istiadat, Jayanegara jatuh dari gerbang sebagai satu anak, menyebabkan seberang untuk tubuhnya. Nama mungkin juga memaksudkan ' raja kecil ', saat Jayanegara menaik ke singgasana pada satu umur muda. Ahli sejarah menghubungkan gerbang ini dengan Çrenggapura(Çri Ranggapura) atau Kapopongan dari Antawulan (Trowulan), tempat suci yang disebutkan di negarakerta gama sebagai dharma tempatkan (senyawa kudus) dibaktikan ke Raja Jayanegara selama kematiannya pada 1328.

Wringin Lawang, gerbang di Trowulan, mojokerto Wringin Lawang ditempatkan satu pendek memberi jarak selatan dari jalan utama di Jatipasar. Nama di Jawa memaksudkan ' Gerbang Beringin '. Gerbang agung pintu gerbang buat dari bata merah, dengan satu dasar dari 13 x 11 meter dan satu ketinggian dari 15.5 meter, dan sejak hari abad ke-14. Gerbang dari ' Candi Bentar ' atau pintu gerbang terbelah ketik, satu struktur yang yang mungkin telah tampak selama era Majapahit. Paling ahli sejarah menyesuaikan bahwa struktur ini adalah gerbang dari satu senyawa penting pada Majapahit modal. Spekulasi mengaitkan fungsi asli dari pintu gerbang penuh keagungan ini telah memimpin ke berbagai saran, satu sesuatu populer menjadi bahwa ini adalah kemasukan ke tempat tinggal dari Gajah Mada.
e. Candi Brahu
Candi brahu pada daerah Bejijong adalah struktur bertahan yang sendiri dari yang adalah satu kali seikat dengan bangunan bersejarah. Sesuai dengan kepercayaan kawanan populer, ini berada di dalam sekitar dari Candi Brahu bahwa upacara pembakaran mayat untuk yang pertama empat Majapahit penguasa diselesaikan. Adat-istiadat ini, sementara sulit ke bukti, didukung di bagian oleh bukti bahan, sarankan yang bahwa monumen satu kali melayani sebagai tempat suci untuk kamar mayat satu kerajaan . Orang terkemuka kerajaan ke siapa bangunan dibaktikan tersisa belum jelas. Rusak dari Candi Gentong dekat terletak.
Liang kubur islam dari ratu campa Error diyakini liang kubur dari satu raja Majapahit bergaul. Sesuai dengan lokal adat-istiadat, dia dikatakan untuk mempunyai berkeluarga salah satu terakhir dari raja Majapahit dan untuk mempunyai terkonversi dia ke agama islam sebelum kematian dia pada 1448. [4]

kolam segaran
f. Segaran Satukan
adalah satu segi-empat besar menyatukan dengan ukuran 800 x 500 meter. Nama Segaran memulai dari sabda ' segara ' di Jawa yang memaksudkan ' laut ', mungkin saran yang lokal itu kolam besar adalah taman mini dari laut. Mengepung bak air adalah tembok segi-empat membuat dari bata merah perbuatan dengan demikian bentuk dari kolam. Struktur bata kolam ditemukan pada 1926 oleh Maclain Pont, di situ kolam diliputi di debu dan lumpur. Rekonstruksi ambil tempat beberapa bertahun-tahun kemudian dan sekarang kolam Segaran berfungsi oleh lokal saat recreational menyatukan dan memancing genangan. Struktur bata memulai dari 14 - abad ke-15 era Majapahit. Fungsi nyata dari kolam adalah tidak diketahui. Pembahasan yang menyarankan bahwa kolam mungkin melayani berbagai fungsi, tapi sebagian besar seperti kota reservoir sumber dari air bersih esensial bagi perkotaan wilayah kepadatan tinggi, terutama selama musim kemarau. Kepercayaan lain populer lokal adalah kolam ini adalah penggunaan sebagai bathplace dan kolam renang untuk melatih beramai-ramai Majapahit, juga saat recreational menyatukan untuk royalti Majapahit untuk menjamu duta dan tamu.
Dekati tepi timur laut dari Kolam Segaran membohongi rusak dari Candi Menak Jingga . Struktur kini dirusak dan bebar yang batu sekitar sekitar dengan statis dasar membohongi bawah tanah terpendam. Penggalian masih pada kemajuan. Struktur buat dari terukir andesite lempar pada lapisan luar dengan bata merah pada lapisan bagian dalam. Fitur yang paling rangsang dari struktur ini adalah bagian yang mengandung perhiasan (mungkin mengatapi terpisah) diidentifikasi sebagai qilin satu makhluk dongengan Cina. Ini mungkin sarankan satu hubungan budaya yang kuat dengan cina terutama selama dinasti Ming Adat-istiadat lokal menghubungkan lokasi ini dengan astaka dari Kencana Wungu Ratu, ratu Majapahit dari cerita dari damarwulan dan Menak Jingga.
Di Umpak , batu membentuk dasar untuk pilar kaku, yaitu mungkin bagian dari bangunan kaku. Materi organik telah membusuk dan hanyalah dasar batu tersisa.
Pada Troloyo daerah, Islam berjumlah banyak nisan telah ditemukan, mayoritas dari yang mana sejak hari di antara 1350 dan 1478. Penemuan ini mengonfirmasikan tidak hanya itu satu komunitas Orang Islam adalah mapan di Java oleh abad ke-14 yang pertengahan, tapi juga itu agama secara resmi diketahui dan berlatih pada ibukota kerajaan sendiri. Orang-orang meyakini bahwa Troloyo juga mengandung liang kubur dari raden wijaya dan mereka mempergunakan buat satu jemaah tiap-tiap Legi Hari Jumat. [5]
Rusak penting yang lain termasuk:
• Balong Bunder
• Pendopo Agung
• Nglinguk
• Candi Kedaton
• Sentonorejo
Candi Sitinggil
g. Rumah
Penggalian arkeologis mempunyai bata ungkap menjatuhkan dan tembok dari beberapa tempat tingal. Dalam beberapa hal, dua atau bahkan tiga lapisan dari bangunan demikian ditumpukkan di atas. Tempat tingal ini diperlengkapi dengan sumur-sumur dan alir. Jejak dari satu reservoir besar dan sumur-sumur menggaris dengan bata atau lempung telah ditempatkan.
h. Industri
Banyak potongan dari emas.barang-barang perhiasan dari periode ini telah ditemukan dijawa timur . Walau kekurangan Java sumber daya emas berpengaruh nyata, impor dari Sumatra ,Kalimantan dan Sulawesi membuat ini kemungkinan bagi kebanyakan tukang emas untuk menemukan pekerjaan di Java.
Satu daerah dari Trowulan masih Kemasan dipanggil, dari sabda mas , memaksudkan ' emas '. Perhiasan emas telah ditemukan dekat area ini, seperti halnya alat yang dipergunakan untuk mengerjakan emas. Cangkir lempung kecil mungkin telah dipergunakan untuk meleleh emas untuk penggunaan dibertambah besar hilang membentuk . gangsa lingkar andas dan bidang datar batu dengan tiga kaki mungkin telah dipergunakan seperti permukaan bekerja untuk memahat dan memalu logam. Sejumlah besar tempat melebur logam lempung untuk gangsa pelelehan telah digali di Pakis, pada selatan bagian dari lokasi. Beberapa perunggu biasanya bentuk uang gobog , koin besar atau jimat di acu batu. Logam lain menolak meliputi lampu gangsa banyak hiasan, siram wadah, bel dan butir data lain mungkin terpakai di upacara religius, dan instrumentasi biasanya ' celah dipanggil drum. Objek serupa membuat dari kayu atau bambu masih ditemukan di desa Jawa dan Bahasa Bali. Banyak besi alat dipergunakan, tapi paling mungkin diimport, saat Java mempunyai sedikit bijih besi.
i. Uang dan pasar

Nawanatya sebutkan satu pejabat meja hijau siapa bea adalah untuk melindungi pasar. 'Delapan ribuan kas tiap hari dari pasar adalah andil ' diterima oleh pejabat ini. ' kas ' menunjuk untuk di teks ini adalah cina gangsa koin yang dijadi pejabatnya Majapahit mata uang seputar 1300, emas ganti dan mata uang perak yang mana berada di dalam penggunaan selama berabad-abad. Koin cina kelihatannya lebih baik sebab mereka ada tersedia di sebutan kekecilan, pantas untuk pergunakan di pasar. Saran perubahan ini itu hidup ekonomi di Trowulan ditandai oleh jabatan dikhususkan, gaji, dan perolehan dari paling harian perlu beli. Bukti penting untuk abad ke-14 pengamatan Jawa dari uang masuk bentuk dari lempung babi kecil dengan celah pada kembali mereka cukup besar untuk mengakui satu koin. Asosiasi dari arca kecil babi dan wadah untuk uang penyelamatan adalah jelas nyata; di hadiahjawa dan Indonesia , sabda ' celengan ' berarti ' tabungan untuk anak yang berbentuk celeng ', ' tabungan ', atau ' penyelamatan .', sementara akar kata ' celeng ' sendiri berarti babi jantan. atau wadah koin berbentuk lain.Wadah koin pada bentuk lain telah ditemukan.
j. Barang tembikar
Jumlah cukup banyak teracota majapahit artefak biasanya ditemukan di Trowulan. Alat berlayar dari barang tembikar adalah satu aktivitas penting. Paling barang tembikar dimaksudkan untuk penggunaan domestik di pemasakan dan penyimpanan, dengan dekorasi terbatas pada belang dari cat merah. Lampu untuk minyak kelapa adalah umum lain temukan. Barang tembikar terbaik mengambil bentuk dari kapal, air seperti itu guci ( kendi ), dengan tubuh tipis berdinding, bentuk lemah gemulai, dan satu merah kilap timbul diciptakan olehmemoles . Ini harus telah dibuat oleh full time profesional pembuat barang tembikar. Menyiram wadah adalah salah satu perkotaan pembuat barang tembikar Majapahit produk utama dan beberapa ronde besar menyiram kendi telah ditemukan. Air persegi ' kotak dihias dengan motif akuatik atau pemandangan lain. Teraccota arca kecil dihasilkan dalam jumlah besar, mewakili beberapa subyek: Tuhan, manusia, hewan, bangunan, dan adegan. Fungsi mereka adalah tidak diketahui; mereka mungkin telah melayani beberapa penggunaan. Beberapa mungkin telah dipergunakan di tempat suci religius menyertakan untuk menghuni, seperti di modern bali Contoh dari terracottas ini pada bentuk dari bangunan taman mini dan binatang telah ditemukan di tempat suci pada Penanggungan Gunung. Lain-lain, lukisan seperti itu lucu dari orang asing, bisa dipastikan telah dimaksudkan seperti anak-anakan untuk anak-anak.
k. Majapahit Parkir
Selama tahun separuh terakhir dari 2008, pemerintah Indonesia sponsori satu explorasi gedang pada lokasi yang diyakini tempat kemana istana dari Majapahit satu kali berdiri. Jero wacik Menteri Indonesia dari Budaya dan Pariwisata menyatakan bahwa Kebun Bunga Majapahit akan dibangun pada lokasi dan lengkap seawal 2009, agar mencegah kerusakan selanjutnya disebabkan oleh buatan sendiri bata industri yang mengembangkan pada area sekitar. [6] Kebun Bunga Majapahit akan memperluas yang sudah ada museum trowulan dan sediakan satu Pendidikan Majapahit Themed dan kebun bunga rekreasi.
Meskipun demikian, proyek meninggalkan satu perhatian sangat besar untuk beberapa ahli sejarah, sejak membangun fondasinya kebun bunga di lokasi Segaran ditempatkan di sisi selatan dari Musium Trowulan akan tak bisa diacuhkan merusakkan lokasi sendiri. Bata masa lampau dan sumur-sumur yaitu menurut sejarah berharga adalah tunjangan bebar pada lokasi. Pemerintah maka membantah bahwa cara mereka adalah penerapan adalah kurang destruktif sejak cara gali dipergunakan dari pada kain dril. [7] Sejak itu konstruksi dari Kebun Bunga Majapahit telah berhenti, ditunda untuk pembahasan selanjutnya dari dampak pada lokasi arkeologis.




ASTA KOSALA KOSALI
1. Pura

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI.
Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan.
Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.
Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana.
Asta Bumi menyangkut pembjauatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut:
1 Tujuan Asta Bumi adalah a.Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi
b. Mendapat vibrasi kesucian
c. Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi
2 Luas halaman a.Memanjang dari Timur ke Barat ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran "depa" (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya): 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa: 1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa: 2x1,3x2, 4x3, 5x4, 6x5, 7x6, 11x7, 12x11, 14x12, 15x14, 19x15.
b. Memanjang dari Utara ke Selatan ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran depa: 4,5,6,13,18. Lebar dalam ukuran depa: 5,6,13. Alternatif total luas dalam depa: 6x5, 13x6, 18x13
Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun Padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha, dll. boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi. Kelipatan itu: 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali dan 11 kali.
Misalnya untuk halaman yang memanjang dari Timur ke Barat, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(19x15), 5x(19x15), 7x(19x15), 9x(19x15), 11x(19x15).
Untuk yang memanjang dari Utara ke Selatan, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(18x13), 5x(18x13), 7x(18x13), 9x(18x13), 11x(18x13).

HULU-TEBEN.
"Hulu" artinya arah yang utama, sedangkan "teben" artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu. Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, ada dua patokan mengenai hulu yaitu
1. Arah Timur, dan
2. Arah "Kaja"
Mengenai arah Timur bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas.
Arah kaja adalah letak gunung atau bukit.
Cara menentukan lokasi Pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu, artinya jika memilih timur sebagai hulu agar benar-benar timur yang tepat, jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Jika memilih kaja sebagai hulu, selain melihat gunung atau bukit juga perhatikan kompas. Misalnya jika gunung berada di utara maka hulu agar benar-benar di arah utara sesuai kompas, jangan sampai melenceng ke arah timur laut atau barat laut, demikian seterusnya. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan membangun pelinggih-pelinggih dan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan.
BENTUK HALAMAN.
Bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan terdahulu. Jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya ukuran panjang atau lebar di sisi kanan - kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll. Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan dan pelaksanaan upacara, misalnya pengaturan meletakkan umbul-umbul, penjor, dan Asta kosala.
PEMBAGIAN HALAMAN.
Untuk Pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga yaitu:
1. Utama Mandala
2. Madya Mandala
3. Nista Mandala.
Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan, artinya tidak terpisah-pisah, dan tetap berbentuk segi empat; tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat, tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain.
Utama mandala adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu, menggunakan ukuran Asta Bumi;
Madya Mandala adalah bagian tengah, menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala;
Nista Mandala adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama.
Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya bale gong, perantenan (dapur suci), bale kulkul, bale pesandekan (tempat menata banten), bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll. Di nista mandala ada pelinggih
"Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, dll.
Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah "Candi Bentar" dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah "Gelung Kori", sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan.
MENETAPKAN PEMEDAL.
Pemedal adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori. Cara menetapkan pemedal sebagai berikut: 1) Ukur lebar halaman dengan tali. 2) Panjang tali itu dibagi tiga. 3) Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah "as" pemedal. Dari as ini ditetapkan lebarnya gerbang apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi bentar dan gelung kori. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal. Misalnya hulu halaman Pura ada di Timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung maka tebennya selatan, demikian seterusnya. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menentukan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.
JARAK ANTAR PELINGGIH.
Jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran satu "depa", kelipatan satu depa, "telung tapak nyirang", atau kelipatan telung tapak nyirang. Pengertian "depa" sudah dikemukakan di depan, yaitu jarak bentangan tangan lurus dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Yang dimaksud dengan "telung tampak nyirang" adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. Baik depa maupun tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok "penyungsung" (pemuja) Pura. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak, tergantung dari harmonisasi letak pelinggih dan luas halaman yang tersedia. Jarak antar pelinggih juga mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. Ketentuan-ketentuan jarak itu juga tidak selalu konsisten, misindalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak, sedangkan jarak ke "Piasan" dan Pemedal (gerbang) menggunakan depa. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di Madya Mandala.
PELINGGIH (STANA) YANG DIBANGUN. Jika bangunan inti hanya Padmasana, sebagaimana tradisi yang ada di luar Pulau Bali, maka selain Padmasana dibangun juga pelinggih TAKSU sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma yang memberikan manusia kemampuan belajar/mengajar sehingga memiliki pengetahuan, dan PANGRURAH sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala yaitu "putra" Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia. Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah: PIYASAN yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan, di mana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan. BALE PAMEOSAN adalah tempat Sulinggih memuja. Di Madya Mandala dibangun BALE GONG, tempat gambelan, BALE PESANDEKAN, tempat rapat atau menyiapkan diri dan menyiapkan banten sebelum masuk ke Utama Mandala. BALE KULKUL yaitu tempat kulkul (kentongan) yang dipukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan dimulai atau sudah selesai.
Jika ingin membangun Sanggah pamerajan yang lengkap, bangunan niyasa yang ada dapat "turut" 3,5,7,9, dan 11. "Turut" artinya "berjumlah". Turut 3: Padmasari, Kemulan Rong tiga (pelinggih Hyang Guru atau Tiga Sakti: Brahma, Wisnu, Siwa), dan Taksu. Jenis ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing. Turut 5: Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu, Pangrurah, "Baturan Pengayengan" yaitu pelinggih untuk memuja ista dewata yang lain. Turut 7: adalah turut 5 ditambah dengan pelinggih Limas cari (Gunung Agung) dan Limas Catu (Gunung Lebah). Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (Batur) adalah symbolisme Hyang Widhi dalam manifestsi yang menciptakan "Rua Bineda" atau dua hal yang selalu berbeda misalnya: lelaki dan perempuan, siang dan malam, dharma dan adharma, dll. Turut 9 adalah turut 7 ditambah dengan pelinggih Sapta Petala dan Manjangan Saluwang. Pelinggih Sapta Petala adalah pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan manusia dan mahluk lain dapat hidup. Manjangan Saluwang adalah pemujaan Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang paling berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali. Turut 11 adalah turut 9 ditambah pelinggih Gedong Kawitan dan Gedong Ibu. Gedong Kawitan adalah pemujaan leluhur laki-laki yang pertama kali datang di Bali dan yang mengembangkan keturunan. Gedong Ibu adalah pemujaan leluhur dari pihak wanita (istri Kawitan).
Cara menempatkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben, di mana yang diletakkan di hulu adalah Padmasari/Padmasana, sedangkan yang diletakkan di teben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut seperti diuraikan di atas. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya perlu banyak, maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan keteben kanan.
Sumber: Bhagawan Dwija
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, Geria Tamansari Lingga Ashrama, Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja - Bali. Telpon: 0362-22113, 27010. HP 081-797-1986-4
Bangunan diproses penjiwaannya sebagai suatu kelahiran ke bumi dengan upakara sebagaimana layaknya suatu kelahiran dan kehidupan. Upacara ngulihin karang adalah suatu upakara semacam dikawinkan antara bangunan dengan pemilik-pemakainya.
Membangun Pura dengan Kesadaran Mendasar
Oleh N. Gelebet

Menyukuri kesejahteraan karunia Hyang Widhi, dibangunlah pura sebagai tempat pemujaan dalam manifestasinya, spirit geginan dan roh leluhur yang diharapkan menyatu dengan-Nya untuk kerahayuan jagat. Pembangunan tempat pemujaan berkembang dari seonggok batu untuk panjatan memuja yang di langit, meru bayangan gunung, padma kemanunggalan dan kini penampilan jamak semarak dengan kemanjaan teknologi.
________________________________________
Kesadaran mendasar dalam membangun pura memang seharusnya melestarikan landasan konseptualnya. Peranan dinas, instansi yang mengambil alih peran krama, dengan pengalihan hak atas bukti pura dan kebijakan meniadakan prosesi pratima yang ditinggal krama yang tidak lagi ngayah kini tanpa karang ayahan, merupakan gejala kesadaran palsu yang terjadi dalam beberapa kasus.
Proses Membangun Pura
Berawal dari nyanggra pengempon, pengemong dan penyiwi, dilanjutkan dengan nyanyan dialog ritual dengan sesuhunan yang distanakan di pura yang dibangun. Tujuannya, untuk mendapatkan kesepakatan atas kesepahaman sekala-niskala apa dan bagaimana membangun pura. Kemudian dengan penetapan program dan penjadwalannya sesuai subadewasa dilakukan nyikut, ngruak karang dan nyangga ngurip gegulak, ngadegang sanggar wiswakarma. Keberadaan gegulak dipandang sebagai acuan hidup modul pendimensian, setelah melalui ritus pengurip dan pengaci, nantinya wajib di-pralina setelah bangunan selesai di-plaspas. Dengan penjiwaan sejak awal, keseimbangan atma, angga lan khaya wewangunan dapat terwujud.
Selanjutnya ngelakar sesuai keperluan dan ketentuan penggunaan bahan untuk bangunan pura yang masing-masing peruntukannya (parahyangan, pawongan, palemahan) ada ketentuan jenis kayunya. Di mana dan bagaimana mendapatkannya, melalui permakluman atau permohonan di ulun tegal yang mewilayahi. Pantangan kayu tumbuh di sempadan sungai, setra, di batas, rebah tersangkut, melintang jalan, tunggak wareng dan lainnya wajib ditaati sebagai suatu keyakinan.
Pekerjaan komponen konstruksi dilakukan di jaba sisi pura atau di suatu tempat yang wajar. Pelaku tukang wajib menaati tata cara kramaning tukang sesuai ketentuan dan arahan undagi manggalaning wewangunan. Dalam proses pengerjaan, setiap tahap tertentu melalui ritus upakara yang dipimpin undagi, tan keneng cuntaka, namun wajib menaati brata ke-undagi-an. Dalam menjalankan profesinya, undagi atas nama (ngelinggihang) Hyang Wiswakarma. Keberadaannya serentak menyandang kapican, kawikon dan katakson, bagi undagi yang telah menjalani prosesnya sesuai ketentuan tatwa, jnana dan upakara.
Bahan bangunan, tukang dan pekerja mengutamakan dari wilayah sekitar. Peranan teknologi bukan hal yang ditabukan. Menghindari pelaksanaan sistem tender yang sulit dipertanggungjawabkan secara kualitas, legalitas ritual maupun proses penjiwaannya. Dengan diabaikannya filsafat, konseptual dan tatwa acuan tata cara membangun pura, sulit diharapkan unsur penjiwaannya sehingga megah maraknya bangunan pura yang kini diwacanakan sebagai kehampaan tanpa taksu karismatis.
Pemugaran Pura-pura kuno yang menggusur katakson-nya batu-batu nunggul megalitikum, mengembangkan belasan pelinggih sepertinya mengalami kemunduran monis yang dikembalikan ke polis. Memang berpeluang untuk tampil megah meriah di kulit luar, namun hampa tanpa magis power yang menjiwai.
Pembangunan pura tanpa pedoman Asta Kosali, tanpa acuan gegulak modul dimensi, cenderung tampil sebagai bangunan rekreasi berlanskap buatan berornamen mengada-ada.
Pekerjaan Konstruksi
Setelah nyanggra, nyanjan, nyikut dan nglakar, pekerjaan konstruksi dilanjutkan dengan ngaug, ngakit dan ngasren yang diakhiri dengan ngurip/melaspas dan ngenteg linggih dengan rangkaiannya sesuai tingkatan, runut dan runtutannya yang rumit. Peranan undagi dari tahap 1 s.d. 8 dalam satu paket: atma, angga, khaya seutuhnya sesuai ketentuan khusus Asta Kosali yang sulit dipahami profesi lain.
Kemudian ngenteg linggih berdasarkan tegak wali manut tengeran, sasih atau wewaran (solar, lunar atau galaxy system). Pelaksanaannya sesuai ketentuan dudonan upacara dengan upakara dan pamuput-nya masing-masing. Peranan undagi dalam rangkaian yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat ini, sebatas pengamatan uji fungsi apakah semua unit, bagian dan komponen sudah berfungsi sesuai dengan hakikat akidah ruang ritual yang direncanakan.
Pekerjaan konstruksi ngaug sunduk saat posisi matahari di mana bayangan garis atas lubang depan berimpit dengan garis bawah lubang belakang adalah saat tepat yang ditetapkan. Posisi ngaug betaka beti meru, pancung ngakit atap limasan nasarin dan mendem pedagingan adalah ritus-ritus yang diyakini sebagai penjiwaan yang mampu mengantisipai ancaman bencana gempa, petir dan badai angin ngelinus puting beliung. Dengan kemampuan tahan bencana menjadikan karisma taksu suatu bangunan semakin diyakini keunggulan kebenarannya yang memang terbukti dalam kajian arsitektural tradisional.
Ngasren wewangunan (pekerjaan finishing) tidak dibenarkan dengan menghilangkan sifat-sifat fisis, chemis dan karakter estetika bahan alami yang membawa keindahan alami kodrati. Pewarnaan justru merusak di saat usangnya yang semakin parah manakala perawatan diabaikan.
Ngurip Wewangunan
Prosesnya sejak awal, ngruak karang alih fungsi dari karang tegal menjadi karang wawangunan atau mandala pura. Ukuran pekarangan dengan pengurip asta musti, ukuran halaman dengan pengurip tampak ngandang, ukurang bangunan dengan pengurip nyari, guli, guli madu, useran jari, dan bagian-bagian dari modul dimensi tiang. Tata letak dengan urip pengider, urip perwujudan, pengurip perwujudan, pengurip gegulak, urip dina wawaran dan urip pengurip-urip pemakuh. Makna pengurip wewangunan saat melaspas adalah menghidupkan dengan penjiwaan sebagai bangunan sesuai namanya.
Bahan-bahan bangunan telah dimatikan saat pengadaannya menjadi bahan bangunan. Saat upacara melaspas, jiwanya dikembalikan ke asalnya masing-masing. Dilakukan upacara peleburan dan dihidupkan (ngurip) dengan fungsi baru yang namanya bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diproses penjiwaannya sebagai suatu kelahiran ke bumi dengan upakara sebagaimana layaknya suatu kelahiran dan kehidupan. Upacara ngulihin karang adalah suatu upakara semacam dikawinkan antara bangunan dengan pemilik-pemakainya.
Klasik, etnik dan unik memang, namun itulah pengurip penjiwaan sepanjang proses membangun. Bagi pandangan sekuler tentunya sebagai sesuatu yang berlebihan, mitos dan dogma yang dipandang sebagai pemborosan sia-sia.
Benarkah dengan diabaikannya ritus pengurip menyebabkan terjadinya pembangunan tanpa taksu yang semarak dalam fisik namun hampa dalam kejiwaannya? Bagaimana mungkin penjiwaan terjadi dalam pembangunan tanpa peran undagi, tanpa gegulak, yang dibangun dengan sistem tender.
Raibnya bukti pura, ditinggalkannya ayahan pratima dan menipisnya peranan krama, dapat memicu terjadinya kesadaran palsu membangun pura sistem proyek yang ditenderkan.
Sumber: Terimakasih kepada Bali Post
1. Agemel
2. Sahasta
3. Tapak lima
4. Petang nyari
5. Duang nyari
6. Acekang

7. Atengan depa alit,
8. Acekang aguli
9.
Alek

10. atengan depa agung
11. Akacing
12. Atapak batis Amusti
13. Atapak batis ngandang
14. Auseran


Tirta Yatra ke Nusa Penida

Tirta yatra ke Pulaki
Pulaki dan beberapa pura dalam kawasannya merupakan paduan yang lengkap bagi sebuah perjalanan spiritual tirta-yatra. Terletak di arah mentari terbenam di cakrawala, ujung barat pulau dewata. Dalam pangkuan alam yang hijau asri dalam masa penghujan, dan kering menyengat di musim kemarau. Namun demikian, tidaklah sedemikian terasa bedanya dalam naungan kesejukan yang kita rasakan dalam pelukan wibawa beliau dari waktu ke waktu. Bersimpuhlah mengangkat sembah memuja beliau dan memohon ampunan. Sesekali apabila beliau berkenan, di sini kita akan memperoleh petunjuk nyata. Berupa cermin hidup, tentang kegalauan ambisi, nafsu, emosi, dan hiruk-pikuknya hidup kita. Perhatikan tingkah yang diperagakan oleh setiap ekor kera yang kita temui. Tepat seperti itulah ulah kita dalam pandangan beliau yang maha pengasih. Semakin banyak tingkah kera-kera itu yang menyesakkan dada kita, berarti semakin banyak pula yang harus kita sadari, dan kita benahi dalam hidup kita ini. Betapa geramnya murka beliau melihat ulah kita, seandainya beliau tidak lagi maha pengampun. Bersimpuhlah berserah diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widi.












Jenis upacara keagamaan Di Bali
Daftar Rujukan
Lutfi, Ismail. 2001.Desa-Desa Kuno Di Malang,tidak diterbitkan
Asmito,1988.sejarah kebudayaan Indonesia.jakarta:Dep P & K
Lutfi, Ismail.2009.Buku Ajar Sejarah Indonesia Lama:Tidak diterbitkan
Poerbatjaraka,Prof.DR.1951.Riwayat Indonesia djilid I.Jakarta:yayasan pembangunan
Bosch dkk,1975.Crivijaya,cailendra dan sanjaya wamsa.Jakarta:Bhratara
Padmopuspito,Ki.J 1996.Pararaton:teks bahasa kawi,terjemahan bahasa indnesia.Yogyakarta:taman siswa
Sedyawati,Edi.1990.Monumen Karya persembahan untuk Prof.DR.R.Soekmono.Depok:fakultas sastra universitas Indonesia
Jarwa, iwayan, 2010.widya shanty agama hindu untuk sekolah dasar kelas VI.bali:bali post

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar