Selasa, 03 November 2009

KOMPONEN-KOMPONEN CANDI

Hand-Out
Mata Kuliah HIS 413 Sejarah Kebudayaan




KOMPONEN-KOMPONEN CANDI







Disusun oleh :
Drs. Ismail Lutfi
NIP. 131998961






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SEJARAH
2000
TEORI FUNGSI CANDI
Teori yang dikeluarkan oleh para peneliti candi di Indonesia kebanyakan berpangkal pada fungsi atau kegunaan religius dari candi/bangunan kuna yang dianggap sebagai candi. Artinya candi dalam hal ini adalah sebagai konsep, bukan sebagai sekadar sebutan. Lebih dari itu, perihal fungsi candi masih dapat dikembangkan lagi tidak sebatas religius tetapi juga estetis, politis, sosial dan kultural. Teori yang telah dikeluarkan itu antara lain sebagai berikut :
Candi sebagai makam atau penanaman abu jenasah.
Pendukung teori ini adalah : Raffles, Wardenaar, Brumund, Van hoevel, Groneman, dan Yzerman.
Tokoh lain yang kurang atau tidak mendukung teori ini antara lain N J Krom dan Quaritch Wales.
Candi dapat berfungsi ganda yaitu sebagai makam dan sebagai tempat pemujaan/kuil.
Teori ini dikemukakan oleh Martha A Musses.
Candi sebagai tempat pemujaan saja (kuil).
Teori yang terakhir ini dikemukakan oleh Soekmono.

BANGUNAN KUNA YANG DISEBUT CANDI
Dalam Arkeologi pengertian istilah candi adalah berupa bangunan yang dikaitkan dengan teori di atas, bahkan telah berkembang pengertian itu sehingga kata candi itu dipakai untuk menyebut bangunan petirtaan, misalnya : Jalatunda, Belahan, Candi Tikus, Komplek Gua Gajah; dan gapura-gapura misalnya: Bajang Ratu, Wringin Lawang, Plumbangan, dll.

CANDI SECARA UMUM
Penamaan Candi
Nama yang dipakai untuk menyebut candi itu bermula dari beberapa cara penamaan yaitu:
Candi dinamakan sesuai dengan nama yang disebutkan dalam prasasti yang diduga ada hubungannya dengan candi tersebut.
Penamaan candi berdasarkan nama desa atau daerah dimana candi itu berada.
Nama candi diambil menurut nama yang diberikan oleh penduduk disekitar lokasi candi.

Susunan atau Tata Letak Candi
Memusat --- contohnya candi Prambanan
Membelakang, semakin ke belakang --- contoh candi Sukuh, Jago, Penataran
Dihadap candi perwara --- contoh candi Sambisari, Gunung Wukir
Berjajar kesamping --- contoh candi Ngawen
Terpencar --- contoh komplek candi Dieng dan Gedongsongo.

Hiasan/Ornamentasi
Hiasan konstruktif = bagian-bagian bangunan yang memberi bentuk/profil. Bagian-bagian ini jika dikurangi atau dihilangkan akan merubah bentuk candi, misal : pilaster, profil, antefik, relung.
Hiasan yang bersifat keindahan. Hiasan ini dapat ditiadakan tanpa merubah bentuk candi/bangunan, misal : relief pada kaki candi, hiasan sulur-suluran pada tubuh candi dan sebagainya.

Bagian-Bagian Candi
Secara vertikal terbagi atas: batur, kaki, tubuh, dan atap
Secara keseluruhan dapat dibedakan sebagai:
Selasar atau tempat berjalan mengelilingi candi
Pagar langkan/balustrade, bagian ini tidak selalu ada dan berfungsi sebagai batas atau pagar tepi dari selasar juga untuk memahatkan relief
Relung/ceruk yang terdapat pada tubuh candi di sisi luar atau pada bilik candi biasanya berisi arca
Bilik candi sebagai tempat meletakkan arca atau lingga
Penampil, bagian ini menempel pada tubuh candi, mempunyai atap dan adakalanya dijumpai terdapat arca didalamnya, sedang hiasanya adalah kala makara yang berfungsi sebagai penolak bala
Jala-dwara, adalah pancuran (pintu air) yang disangga oleh makhluk dari kayangan yang biasa disebut gana.

ARCA-ARCA DALAM CANDI HINDU

Arti dan Fungsinya
Menggambarkan dewa-dewa yang dipuja, mempersonifikasikan dewa yang abstrak.
Sebagai sarana untuk menolong seseorang memusatkan pikirannya ketingkat meditasi yang lebih tinggi.
Sebagai media pemujaan/kebaktian dengan cara mempersembahkan sajian-sajian atau menyelenggarakan upacara di hadapan arca (dewa) tersebut.
Sebagai hiasan bangunan candi atau sebagai pelengkap (biasanya berupa arca dewa-dewa rendahan).

Panteon Hindu
Dewa-dewa dalam agama Hindu sangat banyak dan yang merupakan tokoh-tokoh penting dalam hubungannya dengan perbuatan arca pengisi candi antara lain:
Brahma
Biasa digambarkan dengan empat muka, empat tangan, dan tata tertutup dalam sikap meditasi, penuh kedamaian.
Wisnu
Secara fisik wisnu digambarkan dengan empat pasang atau lebih tangannya, satu wajah, dan biasanya duduk di atas punggung garuda. Setiap pasang tangannya membawa benda yang merupakan pasangan satu sama lain.
Ciwa
Penggambaran dari Ciwa padat berbentuk manusia dan lingga. Dalam bentuk manusia digambarkan dengan wajah yang seram, empat tangan, dan simbol-simbol yang melambangkan sifatnya.

Durgamahisasuramardini
Biasa digambarkan sedang membunuh Mahisasura, dengan jumlah tangan yang bervariasi, trisula menusuk leher Mahisa. Durga memiliki tiga mata, dada yang membusung, pinggang ramping dan berdiri dalam sikap tribhangga di atas Mahisa.
Ganeca
Berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut yang buncit, bertangan empat dan biasanya duduk dalam sikap uttkutikasana.
Agatsya
Digambarkan dengan roman muka yang tua dengan kumis dan jenggot yang panjang/lebat, sikap berdiri, perut buncit dan bertangan dua.
Mahakala dan Nandiswara
Keduanya bertindak sebagai penjaga pintu (dwarapala)
Dikpalakas
Adalah dewa-dewa penguasa arah mata angin, yaitu: Indra, Agni, Yama, Nirruti, Varuna, Vayu, Kubera dan Icana.

SELASAR
Dalam bangunan kuil atau candi kadang-kadang dapat dilihat dilengkapi dengan susunan horisontal mendatar berupa lantai yang bisa sejajar dengan tubuh candi, lebih rendah atau bahkan menempel pada tubuh candi tetapi letaknya tidak di dalam dinding bangunan tetapi mengarah keluar dan mengelilingi bangunan utama tersebut. Pada setiap candi yang memiliki susunan lantai yang semacam ini ukuran lantainya diapit atau terdapat diantara pagar langkan dan dinding bangunan candi (tubuh candi) maka akan terjadi lorong yang mengelilingi bangunan candi itu pula. Lantai atau lorong tersebut dalam arkeologi disebut selasar.
Ditinjau dari fungsi yang dikandung oleh selasar itu dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu : fungsi religius dan fungsi yang berkenaan dengan bangunan candi itu. Fungsi religius dari selasar adalah sebagai sarana jalan untuk melakukan pradaksina dan atau prasawiya dimana dengan melakukan pradaksina atau prasawiya itu dapat kita ikuti atau ketahui jalan cerita yang biasanya dilukiskan dalam bentuk relief pada pagar langkan atau dinding tubuh candi.
Fungsi yang kedua dapat disebutkan sebagai perluasan atau sisa bidang mendatar dari kaki candi atau bagian lain untuk menempatkan pagar langkan.
Kedua fungsi ini belum tentu dimiliki setiap kuil atau candi, karena candi yang berselasar belum tentu berpagar langkan tetapi candi yang berpagar langkan dapat dipastikan mempunyai selasar.
Pada candi yang berselasar tunggal maka dapat diidentifikasikan bahwa selasar itu adalah sisa dari kaki atau batur candi yang kemungkinan memang disengaja disisakan/dibuat untuk maksud tertentu. Sedang untuk candi yang berselasar ganda, selasar dapat merupakan bagian dari batur, bagian tubuh candi yang sengaja disisakan untuk selasar, selain bagian dari kaki candi. Sebagai contoh pada candi Borobudur selasarnya terdapat pada tiap tingkatan sedang pada candi Ciwa di komplek percandian Loro Jonggrang selasarnya hanya satu.
Pada dasarnya selasar dapat dimasukkan sebagai salah satu unsur/bagian dari bangunan candi meskipun bukan sebagai unsur yang pokok karena tidak harus ada pada setiap candi, demikian pula dengan pagar langkan.
Dapat dikatakan bahwa antara selasar dengan pagar langkan itu adalah satu kesatuan, dimana ada pagar langkan tentu ada selasar namun bila ada selasar belum tentu ada pagar langkan. Contoh hal yang kedua adalah pada candi Plaosan Lor, dimana pada selasarnya tidak terdapat pagar langkan.
Suatu hal yang menarik, sementara selasar memiliki peranan yang cukup penting dalam hal-hal tertentu tetapi ternyata tidak semua bangunan yang sejenis menggunakan selasar. Apakah adanya selasar ini hanya karena kehendak si perencana pembangunan candi itu atau ada pertimbangan lain yang lebih dalam, atau kurang perhatikan lagi kepentingannya ?
Demikianlah tinjauan secara sepintas terhadap bentuk fisik dan fungsi selasar sejauh saya ketahui.

PAGAR LANGKAN
Dilihat dari segi letak, pagar langkan adalah merupakan bagian dari candi sehingga tidak lepas dari candi itu sndiri dan secara pasti terdapat pada selasar candi di sebelah sisi luar. Pada umumnya bagian ini terdapat pada kaki candi atau tubuh bagian bawah. Namun demikian tidak semua bangunan candi khususnya untuk kuil memiliki bagian ini.
Bila dilihat dari segi fungsinya, dapat diberikan sedikit keterangan tentang fungsi dari pagar langkan ini. Fungsi yang pertama adalah untuk perluasan dari bidang candi guna menempatkan relief baik sekedar berupa ornamentasi atau cerita-cerita, kedua berfungsi sebagai batas antara daerah yang dianggap suci dengan daerah yang profan.
Bentuk dari pagar langkan ini adalah berupa suatu bangunan dinding yang tidak terlalu tinggi dan mengelilingi bangunan candi tetapi tidak terpisahkan dari candinya karena dihubungkan dengan/oleh selasar. Pada umumnya pagar langkan dibangun tepat di atas ujung selasar yang menjorok ke luar dari tubuh candi. Lain halnya dengan dinding/tembok keliling candi yang letaknya sangat diluar candi sebagai pembatas halaman atau batas komplek candi.
Kalau dilihat bahwa tidak semua candi memiliki pagar langkan, dapat timbul berbagai pendapat mengenai hal ini. Sebagai misal secara struktural pagar langkan adalah salah satu bagian candi tetapi bukanlah bagian yang harus atau selalu ada dengan kata lain hanya sebagai pelengkap namun demikian harus diakui bahwa dengan adanya pagar langkan yang dilengkapi dengan relief cerita atau ornamentasi tersebut kita dapat lebih banyak mengetahui perjalanan hasil kesenian dan keadaan sosial-ekonomi serta keagamaan masyarakat Indonesia pada masa dahulu.
Bila ditinjau dari segi keagamaan, fungsi pagar langkan kurang begitu menunjukkan hal yang nyata selain dengan mengikuti alur cerita relief yang dipahatkan kita dapat mengetahui ritual apakah yang ditimbulkan dari mengikuti alur relief itu, pradaksina (pemujaan dewa) atau prasawya (pemujaan leluhur). Memang dalam hal ini alur relief yang dipahatkan pada pagar langkan sangat membantu kita untuk mengetahui untuk upacara apakah candi itu didirikan.
Dan dari segi relief yang dipahatkan biasanya terlihat relief dengan jenis ‘high relief’. Sedang untuk ceritanya pada umumnya disesuaikan dengan sifat atau latar belakang keagamaan dari candinya.

LINGGA
Bentuk
Lingga berbentuk semacam tugu yang tegak dengan ukuran yang tidak sama satu dengan yang lain, tergantung dari besar lapik/ yoni yang menyangganya.
Struktur lingga terbagi dalam 3 bagian yang merupakan lambang dari masing-masing dewa utama agama Hindu, yaitu : Brahma, Ciwa dan Wisnu. Lambang-lambang itu dalam bentuk salah satu dari sifat yang dimiliki dewa-dewa tersebut. Susunannya sebagai berikut :
Bagian bawah berbentuk segi empat (4) yang disebut Brahmabangga dan menunjukkan sifat dewa Brahma yang memiliki empat muka.
Bagian tengah berbentuk segi delapan (8) yang disebut Wisnubangga dan menunjukkan sifat dewa Wisnu yang dapat ber’awatara’ ke dalam 8 perwujudan atau penjelmaan, dan
Bagian paling atas dan sebagai puncaknya berbentuk setengah lingkaran yang menunjukkan salah satu sifat desa Ciwa yang kekal-abadi, sehingga bagian ini disebut Ciwabangga.
Secara vertikal susunan atau struktur lingga itu juga dapat dihubungkan dengan konsep kosmis yang dianut oleh agama Hindu. Secara sejajar dapat digambarkan sebagai berikut :
Segi empat = Brahmabangga yang disejajarkan dengan Bhurloka yang artinya alam semesta atau Kamadhatu yang maksudnya keinginan/ nafsu duniawi,
Segi delapan = Wisnubangga yang disejajarkan dengan Bhuwarloka atau wujud yang ada saat ini yang identik dengan Rupadhatu,
Bulatan atau setengah lingkaran = Ciwabangga disejajarkan dengan Swarloka atau alam akhirat yang kekal-abadi sehingga disamakan dengan Arupadhatu yang berarti tidak berwujud.

Bentuk lingga yang lain adalah sebagai digambarkan dalam bentuk kelamin laki-laki yang biasanya dilengkapi dengan Yoni sebagai simbol kelamin wanita. Persatuan antara keduanya menyebabakan kesuburan bagi daerah di sekitarnya sehingga akan menjadi makmurlah daerah itu.

Bahan Lingga
Dari lingga-lingga yang telah ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia, dapat diketahui macam bahan yang dipakai untuk membuat lingga tersebut. Bahan yang dipakai adalah :
Lingga batu :
Lingga batu yang berhasil ditemukan ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dibanding dengan penemuan arca Ciwa dalam bentuk manusia. Sebagai contoh dapat disebutkan : lingga di candi Gunung Wukir, di candi Badut, di candi Sambisari, di candi Ijo, dan sebagainya.
Lingga kaca
Untuk jenis ini ada sebuah contoh lingga yang terbuat dari bahan kaca yang sekarang disimpan di Museum kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakal prorinsi Jawa Tengah di Prambanan.
Lingga logam :
Sebagai contoh dapat disebutkan temuan lingga emas dari Bumisegoro daerah Borobudur.


Fungsi
Lingga sebagai lambang Ciwa ternyata mempunyai fungsi yang tidak sedikit. Fungsi lingga yang dapat diketahui antara lain :
Lingga sebagai pengganti arca perwujudan yang merupakan aspek dari Ciwa. Lingga semacam ini biasanya diletakkan di dalam bilik sebuah candi yang bersifat Ciwa atau Hindu.
Dalam prasasti Lolei disebutkan bahwa lingga merupakan perwujudan dari dharma raja yang mendirikan dan dharma itu harus tetap dipelihara oleh para penggantinya.
Dari beberapa prasasti yang ditemukan di Kamboja dapat diperoleh petunjuk bahwa kesempatan mendirikan lingga itu erat sekali berhubungan dengan ditaklukanya suatu daerah.
Sejak jaman sejarah yang tertua terdapat kebiasaan, bahwa seorang raja mendirikan lingg auntuk mengukuhkan kedudukanya di atas tahta.
Lingga-lingga lain didirikan untuk memperingati suatu peristiwa penting, seperti upacara ‘manusuk sima’.
Lingga sebagai sarana pemujaan terhadap Ciwa dan atau roh leluhur/raja yang dihormati.

Mitos
Terjadinya lingga diawali dengan kejadian suatu pertikaian antara Brahma dengan Wisnu yang berselisih tentang masalah mana diantara kedudukannya yang berkuasa. Tiba-tiba Ciwa menampakkan diri di belakang mereka dalam bentuk lingga yang pertama/mula-mula, dikelilingi oleh ribuan nyala api, menyerupai ratusan api alam, tidak memiliki permulaan, pertengahan atau akhir dan merupakan yang asli dari semua benda. Pada saat itu Brahma mengubah bentuknya menjadi angsa jantan dan Wisnu mengambil bentuk babi jantan. Mereka masing-masing berusaha mencapai puncak dan dasar dari tiang yang bernyala-nyala itu, tetapi setelah seribu tahun bekerja keras mereka harus mengaku gagal. Menyadari ketidakmampuannya, mereka menjatuhkan diri pada kaki dewa yang tertinggi dan dengan hormat/rendah diri menyampaikan pernyataan hormatnya.


Arti Kata Lingga
Ditinjau dari arti katanya, lingga memiliki arti yang bermacam-macam. Arti yang terkandung antara lain :
Tanda, contoh, alamat, jenis
Perbedaan
Persembahan
Phallus, kemaluan laki-laki.

DEKORASI DAN IKONOGRAFI
Dekorasi
Terminologi dekorasi sebenarnya dapat disejajarkan dengan sebutan-sebutan lain seperti hiasan, ornamentasi. Untuk bangunan keagamaan kuno seperti halnya candi, dekorasi tampaknya merupakan salah satu bagian yang senantiasa dihadirkan sebagai media penghantar pesan secara simbolik.
Dekorasi pada candi dapat dibedakan berdasarkan ukuran-ukuran bentuk, maksud, dan alasan tertentu. Salah satu dekotomi yang dapat diketahui adalah jenis dekorasi itu sendiri. Dari sisi pandang tesebut dekorasi candi dapat dibedakan sebagai dekorasi non naratif dan dekorasi naratif. Dekorasi yang tergolong katagori pertama secara sederhana dapat dikatakan sebagai dekorasi yang semata-mata dimaksudkan sebagai sarana untuk memberi kesan indah dan tidak mengandung sesuatu atau bagian dari cerita tertentu. Sedangkan dekorasi yang tergolong katagori kedua adalah selain sebagai sarana untuk memberi kesan indah bagi candi tetapi juga untuk sarana penyampaian pesan-pesan dari komunikan (seniman) kepada penikmat seni maupun pengamat (komunikan) dalam bentuk relief (gambar timbul) secara baik yang digambarkan secara menyeluruh, sinopsis, atau bahkan per panil saja. Kesemua pesan yang hendak disampaikan para komunikator kepada komunikan ditampilkan dalam bentuk simbol-simbol yang perlu pemahaman tersendiri untuk dapat menangkap makna yang dikandungnya.
Pada umumnya bila dipandang dari nilai atau kadar religiusitasnya, maka kedua jenis dekorasi candi tersebut dapat dibedakan dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang termasuk profan sedangkan kelompok kedua sakral. Pemahamannya adalah sebagai berikut : (1) dekorasi profan adalah relief (gambar timbul) yang semata-mata untuk kepentingan keindahan, tanpa melibatkan latar belakang religi, (2) dekorasi sakral adalah relief yang ditampilkan dengan latar belakang religi atau memuat kaidah-kaidah religi.
Perlu diingat bahwa dalam rangka membicarakan bangunan candi yang berkaitan dengan suatu agama, maka tidak mungkin untuk begitu saja menerapkan kedua pengelompokkan tersebut. Dalam hal ini akan muncul suatu keadaan dimana suatu relief pada candi tidak dapat dimasukkan ke dalam kedua kelompok tersebut secara tegas. Untuk itu perlu adanya suatu penyelesaian, yaitu dengan memunculkan istilah khusus yang dapat menampung keadaan tersebut. Istlah yang digunakan adalah semi sakral.
Dalam penerapan pengelompokkan jenis dikorasi candi berdasarkan nilai atau kadar religiositasnya tidak dipengaruhi oleh tempat berada atau kedudukan dekorasi yang bersangkutan. Dengan kata lain tidak ada patokan bahwa yang disebut relief sakral harus berada di bagian atap candi, sebagai misal. Dengan demikian semakin jelas bahwa sekalipun bangunan candi itu senantiasa bersifat sakral tetapi tidak berarti bahwa apa saja yang terdapat di atau pada candi tersebut ikut sakral. Candi sebagai media ibadah sudah tentu harus bersifat sakral manakala mengandung nilai-nilai atau kaidah-kaidah religi.
Dengan patokan-patokan tersebut di atas kirana cukup jelas bagi kita untuk mengamati dan kemudian mengelompokkan dekorasi (relief) pada candi secara proporsional. Namun perlu disadari lebih lanjut bahwa untuk melakukan kegiatan tersebut perlu adanya bekal berupa pemahaman sosio religi masyarakat jawa kuno dengan latar belakang agama Hindu dan Budha yang mereka anut sangat diperlukan.
Dalam pengamatan terhadap relief candi perlu juga dicermati mengenai teknik pengungkapan atau visualisasi terutama untuk tokoh atau figur dalam relief cerita (dekorasi naratif). Teknik pengungkapan tokoh pada candi di Jawa ternyata terdapat dua macam, yaitu dalam bentuk naturalis (tiga dimensi) dan bentuk-bentuk deformasi yang bersifat gepeng dalam bentuk relief rendah (dua dimensi). Untuk bentuk yang kedua dapat diberikan gambaran sebagai berikut; wajah digambar otronis quart (¾ pandangan) ; dada dan bahu frontal (pandangan depan) sedang perut dan kaki digambar profil (pandangan samping) (Gudarjono, 1981). Pada umumnya untuk kategori kedua ini banyak dijumpai pada candi-candi di Jawa Timur, sedangkan untuk kategori pertama banyak dijumpai pada candi-candi di Jawa Tengah. Menurut pendapat Edi sedyawati munculnya kedua macam teknik pengungkapan itu adalah dilatar belakangi oleh kondisi bahwa pada waktu di Jawa Tengah berkembang seni rupa naratif berupa relief-relief cerita yang bergaya “klasik” India, maka bersamaan dengan itu hidup suatu pertunjukan yang digiati di kalangan rakyat, disebut mawayang bwat hyan. Pertunjukan rakyat tersebut mungkin menggunakan peran-peran berupa boneka-boneka yang pipih sehingga sebagai hasil saling pengaruh antara keduanya terjadilah dua bentuk di atas.
Selain itu dekorasi pada candi juga dapat dibedakan berdasarkan sifatnya. Dalam hal ini terdapat dua kategori, yaitu dekorasi konstruktif dan dekorasi dekoratif. Kategori pertama dimaksudakan sebagai penyebutan untuk bagian-bagian bangunan yang memberi bentuk/profil dan jika dihilangkan akan mengurangi atau merubah bentuk, misalnya: pilaster, profil, antefik, relung, dan lain-lain. Sedangkan untuk kategori kedua sebagai penyebutan untuk bagian-bagian bangunan yang semata-mata hanya berfungsi sebagi hiasan. Hiasan ini dapat dilepaskan tanpa merubah bentuk bangunan, misalnya: pengisi panil-panil pada kaki, tubuh candi dan sebagainya.
Khusus untuk relief cerita, selain diperlukan pemahan sosio religi agama Hindu Budha masa lampau juga mengikuti atau membacanya. Sebagaimana telah sering disebutkan bahwa dalam mengikuti atau membaca suastu relief cerita dikenal adanya dua terminologi, yaitu pradaksina dan prasawya. Terminologi pertama menjelaskan bahwa untuk membaca relief cerita tertentu harus dengan cara sipembaca berjalan secara menganankan candi (candi berada di sebelah kanan). Sebaliknya untuk terminologi kedua menjelaskasn bahwa untuk relief cerita iu akan dapat dibaca dengan cara sipembaca berjalan secara mengirikan candi (candi berada di sebelah kiri). Selain itu masih ada lagi perbedaan yang prinsipil dari dua terminologi tersebut, yaitu untuk pradaksina ditujukan untuk pemujaan kepada dewa , sedangkan prasawya ditujukan untuk pemujaan kepada roh leluhur.
Dalam hal pembacaan relief cerita pada candi dengan menerapkan cara pembacaan di atas tentu saja tidak menjadi masalah bila pada suatu candi hanya terdapat satu cara pembacaan relief. Artinya bahwa candi itu sangat mungkin hanya berfugsi sebagai sarana atau media untuk pemujaan kepada dewa atau roh leluhur saja. Namun dalam kenyataannya, khususnya di Jawa Timur terdapat candi-candi yang memiliki relilef cerita dengan cara pembacaan ganda. Hal ini menimbulkan penafsiran bahwa candi yang bersangkutan memang dimaksudkan sebagai sarana atau media pemujaan baik kepada dewa maupun roh leluhur, misalnya candi penataran.

Ikonografi
Ikonografi merupakan kata jadian dari dua buah kata dari bahasa Yunani, yaitu icon yang berarti sebuah obyek pemujaan dan graphien yang berarti uraian. Kata icon memiliki arti yang sejajar dengan kata image dari bahasa Perancis Kuna dan kata imago dari bahasa Latin juga sejajar dengan kata pratikrti, pratima, wimba dari bahasa Sanskreta.
Untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai salah satu bentuk karya seni keagamaan masa lampau (Hindu Budha) harus mengetahui pula ciri-ciri yang biasa terdapat pada sebuah arca dewa. Dalam hal ini perlu dipahami sebuah naskah keagamaan yang berkaitan dengan maslah ini, yaitu silpasastra. Hal ini penting sebab setiap posisi tangan penuh arti, setiap sikap badan mengingatkan pada suatu suasana tertentu, setiap benda yang dipegang mempunyai arti simbolis tertentu (Gupte, 1972).
Berikut ini akan disajikan beberapa pengetahuan dasar tentang ikonografi yang meliputi: laksana (benda yang sering terlihat pada arca), mudra (sikap tangan), asana (sikap/tempat duduk), wahana (kendaraan dewa), sthana (sikap berdiri). Selain itu juga perlu diberikan penjelasan sedikit mengenai susunan panteon dewa dalam agama Hindu dan Budha.
Laksana sering juga disebut sebagai atribut, yaitu benda-benda yang dipegang tangan, diletakkan pada sandaran arca (stella) yang merupakan ciri khusus bagi dewa yang digambarkan. Dari pengamatan terhadap ciri-ciri khusus ini sudah dapat digunakan sebagai belak untuk melakukan identifikasi terhadap sebuah arca yang sedang diamati.
Mudra lebih didomonir pada arca-arca Budha. Dari pemahaman terhadap sikap tangan sudah dapat diketahui kedudukan arca tertentu dalam suatu candi Budha. Setidaknya ada tujuh macam sikap tangan ynag sayogyanya diketahui, yaitu: (1) abhaya (jangan takut) terdapat pada arca yang menguasai mata angin utara; (2) bhumisparsa (menyentuh bumi) terdapat pada arca yang menguasai mata angin timur; (3) wara (menganugerahkan) terdapat pada arca yang menguasai mata angin selatan; (4) dhyana (meditasi) terdapat pada arca yang menguasai mata angin barat; (5) witarka (memberi pelajaran) terdapat pada arca yang menguasai zenith; (6) dharmacakra (memutar roda dharma) terdapat pada arca wairocana yang tinggal di zenith; (7) jnana (pengetahuan).
Asana sebagai sikap duduk antara lain dikenal: paryankasana, utkutikasana, padmasana dan lain-lain. Sedangkan sebagai tempat duduk antara lain: anantasana, kurmasanapadmasana, makarasana, simhasana dan sebagainya.
Wahana juga merupakan salah satu komponen arca yang dapat menolong di dalam mengidentifikasi tokoh dewa. Contoh wahana adalah nandi untuk Ciwa; garuda untuk wisnu; gajah airawata untuk Indra; kambing untuk agni; angsa untuk Brahma; kerbau hitam untuk Yama dan sebagainya.
Sthana atau sthanaka yang perlu diketahui antara lain: samabhangga (berdiri lurus), abhangga (berdiri dengan tiga lekukan badan), atibhangga (tribhangga yang berlebihan, erotis) dan sebagainya.
Berikut ini akan disajika secara singkat mengenai pantheon dewa Hindu dan Budha. Mengingat jumlah dewa dalam pantheon Hindu sangat banyak sehingga tidak mungkin untuk membicarakan seluruhnya. Dalam kesempatan ini akan dibicarakan beberapa dewa tertentu yang arcanya ditemukan di Indonesia dalam jumlah yang cukup banyak, baik berasal dari suatu gugusan candi atau yang berupa temuan lepas.
Kelompok dewa yang pertama biasa disebut Trimurti terdiri dari Brahma, Ciwa dan Wisnu. Apabila kelompok dewa ini ditempatkan pada satu gugusan candi maka kedudukan mereka adalah sebagai berikut: Brahma di selatan, Ciwa di terngah dan Wisnu di utara. Kelompok yang kedua adalah empat dewa penghuni candi Ciwa yang terdiri dari Ciwa (tengah), Agatsya atau Ciwa mahaguru (selatan), Ganesa (sebalik Ciwa), dan Durgamahisasuramardini (utara). Khusus untuk kelompok kedua ini kadang kedudukan Ciwa di tengahdapat diganti oleh salah satu aspeknya yang berupa lingga.
Aspek Ciwa lain yang sering ditampilkan dalam bentuk arca pada candi adalah mahakala dan nandiswara. Masing-masing ditempatkan pada ceruk dibagian kiri dan kanan pintu masuk relung utama. Sedangkan kelompok dewa yang lain yang disebut dewa pariwara adalah para dewa penguasa arah mata angin yaitu astadikpalaka. Mereka itu adalah: Kuwera (utara), Indra (selatan), Waruna (barat), Isana (timur laut), Agni (tenggara), Nirruti (barat daya) dan Wayu (barat laut).





DAFTAR PUSTAKA

Edi Sedyawati. Pengaruh India pada Kesenian Jawa: Suatu Tinjauan Proses Akulturasi, dalam Soedarsono et al. Pengaruh India, Islam, dan Barat dalam Proses Pembentukan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Javanologi Dirjenbud Depdikbud, 1985.
Gudaryono. Tinjauan Seni Rupa wayang dari Relief Candi Jawa Timur ke bentuk Wayang Purwa, dalam Darusuprapto. Pokok-Pokok Study Tentang Wayang. Yogyakarta: Badrawada. 1981, hlm 20-23.
Ismail Lutfi, 1983, Catatan Kuliah Kepurbakalaan Indonesia I, Tidak diterbitkan.
Kempers. AJ Bernet, 1959, Ancient Indonesia Art. Cambridge. Massachusetts: Harvard University Press.
Kusen, 1985, Kreativitas dan Kemandirian Seniman Jawa dalam Mengolah Pengaruh Budaya Asing: Study Kasus Tentang Gaya Seni Relief Candi di Jawa Antara Abad IX-XVI Masehi. Yogyakarta. Javanologi Dirjenbud Depdikbud.
Mardiwarsito, L. 1981. Kamus Jawa Kuno Indonesia, Flores: Ende.
Soekmono, 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya, UI Press.
Siswadhi, 1977. The Lingodbhava on an old Javanese Bronze Lamp, Majalah Arkeologi, halaman 53-56.
Staf Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra UGM, 1983. Kepurbakalaan Indonesia, tanpa penerbit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar